Left arrow Kembali

Uji Emisi Pada Uap Rokok Elektronik

Pro dan kontra banyak terjadi seputar penggunaan rokok elektronik. Sebagian masyarakat menganggap rokok elektronik lebih sehat, dan sebagian lainnya mengganggap sama seperti rokok konvensional. Bagaimana sebenarnya emisi yang dihasilkan rokok elektronik? Benarkah berbeda dari rokok konvensional?

Uji emisi rokok elektronik sudah banyak dilakukan pada saat ini. Apalagi dengan perbandingan yang selalu dibicarakan tentang lebih baik mana antara rokok elektronik dan rokok konvensional, Anda sebagai konsumen wajib mengetahui informasi selengkapnya. 

 

Baca Juga: Ketahuilah 5 Cara Menghilangkan Bau Rokok di Mobil dengan Mudah!

 

Fakta Uji Emisi Uap dari Rokok Elektronik

Seperti dilansir dari penelitian Characterization of the Spatial and Temporal Dispersion Differences Between Exhaled E-Cigarette Mist and Cigarette Smoke, terdapat perubahan konsentrasi partikel-partikel di udara yang sebenarnya sama-sama terjadi, baik setelah hembusan uap rokok elektronik dengan asap rokok konvensional.

Pada penelitian ini para perokok diminta untuk menggunakan rokok konvensional dan rokok elektronik di dalam sebuah ruangan simulasi. Kemudian para perokok akan menggunakan kedua produk tersebut di beberapa kondisi berbeda, seperti berjarak dengan sebuah manekin yang menjadi orang-orang di sekitar, hingga berada di ruangan dengan tingkat ventilasi berbeda-beda. Dari sanalah konsentrasi partikel dari uap rokok elektronik dengan asap rokok konvensional diukur oleh para peneliti.

Baca Juga: Asap Knalpot vs. Asap Rokok, Apa Dampaknya Bagi Paru-Parumu?

Perbandingan Uji Emisi Rokok Elektronik dengan Rokok Konvensional

Hasil uji emisi yang dilakukan di atas memberikan hasil menarik. Uji emisi antara uap rokok elektronik dengan asap rokok konvensional memberikan beberapa fakta menarik, salah satu diantaranya, uap dari rokok elektronik memiliki konsentrasi partikel udara yang kembali ke udara normal di dalam ruangan (10.000 partikel/cm3) dalam hitungan 10-15 detik saja. Ketika dibandingkan dengan asap dari rokok konvensional, ternyata hasilnya sangat jauh berbeda. Konsentrasi partikel udara dari asap rokok konvensional meningkat hingga 50.000 partikel/cm3 dan dapat menetap di dalam ruangan selama 30-45 menit. 

Konsentrasi partikel yang menetap sangat lama dari asap rokok konvensional juga bergantung pada ventilasi udara. Jika ventilasi udara ruangan tersebut tidak bekerja dengan optimal atau ruangan tertutup terus menerus, maka konsentrasi partikel asap rokok konvensional terus bertahan di sana dalam jangka waktu lebih lama.

Baca Juga: Apakah boleh merokok di ruangan ber-AC?

Hal inilah yang menyebabkan ketika Anda pasti sering masuk ke sebuah ruangan masih tercium bau asap rokok konvensional. Padahal dalam beberapa waktu sebelumnya, tidak ada orang yang merokok di situ. 

Berbanding terbalik dengan konsentrasi partikel udara dari uap rokok elektronik yang dapat menghilang dengan cepat dalam hitungan detik karena memang tidak tergantung pada ventilasi udara. Ukuran partikel dari uap rokok elektronik berukuran 150 nm dan cenderung mengecil sesuai jarak dari penggunanya. Namun partikel-partikel asap rokok konvensional berukuran lebih besar, yaitu 300 nm dan ukurannya juga tidak berubah berapa pun jarak dari perokok tersebut. 

Fakta lainnya tentang uji emisi uap rokok elektronik adalah tidak menimbulkan risiko kesehatan, termasuk bagi mereka yang berada di atas jarak 2 meter dari pengguna. Jadi uap rokok elektronik dapat meminimalisir bahaya terhadap tubuh pengguna, sekaligus orang-orang di sekitarnya. 

Baca Juga: Hasil Riset Rokok Elektronik di Inggris

Meminimalisir Bahaya dengan Rokok Elektronik

Dalam sebuah studi yang dibiayai National Institute for Health Research and Cancer Research UK sendiri telah menjelaskan bagaimana rokok elektronik dapat menjadi terapi untuk berhenti merokok dari partisipan yang menggunakan rokok elektronik. 

Studi tersebut sejalan dengan konsep meminimalisir bahaya melalui dukungan rokok elektronik yang semakin digalakkan dengan berbagai penelitian sebagai fondasi utama. Tidak dapat dimungkiri bahwa berhenti merokok itu sulit. Dengan berbagai kesulitan yang dihadapi, konsep meminimalisir bahaya atau harm reduction dapat menjadi salah satu solusi.

Baca Juga: Mengapa Asap Rokok Berbahaya Bagi Kesehatan Tubuh?

Itulah mengapa Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR) hadir untuk Anda agar dapat lebih mengenal tentang Produk Tembakau Alternatif yang menjadi bagian dari konsep harm reduction. Informasi di atas dapat menjadi salah satu bukti bahwa mengurangi bahaya dari asap rokok konvensional bisa diminimalisir dengan Produk Tembakau Alternatif, seperti rokok elektronik. 

Anda dapat mengenal lebih dalam tentang solusi yang ditawarkan Produk Tembakau Alternatif bersama KABAR sekarang juga. Jangan lewatkan informasi bermanfaat ini untuk #JadiLebihPaham.

KABAR, Characterization of the Spatial and Temporal Dispersion Differences Between Exhaled E-Cigarette Mist and Cigarette Smoke, NCBI