Pengurangan Bahaya Tembakau


Fakta seputar konsep pengurangan bahaya tembakau dan penerapannya sebagai strategi alternatif untuk mengurangi risiko kesehatan terkait kebiasaan merokok.

Strategi Pengurangan
Bahaya Tembakau

Tahukah kamu?
Paparan asap rokok tidak hanya berisiko bagi perokok aktif, namun juga bagi orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Pada tahun 2021, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa 69,1 juta orang dewasa di Indonesia adalah perokok dan prevalensi perokok pasif juga tercatat sebanyak 120 juta orang.

Saat ini, pemerintah telah menerapkan berbagai upaya pengurangan bahaya tembakau, namun upaya yang dilakukan pemerintah belum berdampak signifikan terhadap pengurangan prevalensi perokok. Inilah mengapa penting bagi kita untuk memahami dan menerapkan Pengurangan Bahaya Tembakau sebagai strategi alternatif untuk mengurangi risiko terkait kebiasaan merokok.

Apa itu Pengurangan
Bahaya Tembakau?

Pengurangan bahaya tembakau (Tobacco Harm Reduction) merupakan cabang dari konsep besar pengurangan bahaya. Konsep pengurangan bahaya ini mengacu pada strategi dan program untuk mengurangi risiko terhadap diri dan orang-orang di sekitar dari kebiasaan tertentu, terutama apabila berhenti sepenuhnya sulit dilakukan.

Pengurangan bahaya tembakau fokus kepada strategi untuk mengurangi bahaya terkait kebiasaan merokok. Strategi utama untuk mengurangi bahaya rokok adalah dengan berhenti merokok. Namun, banyak perokok yang kesulitan untuk menghentikan kebiasaan mereka. Bagi perokok yang menghadapi kesulitan ini, salah satu bentuk penerapan konsep pengurangan bahaya tembakau yang bisa dilakukan adalah beralih ke produk tembakau alternatif yang memiliki risiko lebih rendah daripada rokok.

Produk tembakau alternatif memiliki risiko lebih rendah daripada rokok karena tidak dibakar dan tidak menghasilkan asap yang mengandung TAR. Beragam produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan bekerja dengan cara pemanasan dan menghasilkan uap.

Artikel Terkait

Pengurangan Bahaya Tembakau

Kebijakan Pengendalian Tembakau Perlu Pendekatan Pengurangan Bahaya Tembakau

Profesor Riccardo Polosa menekankan perlunya pendekatan inovatif dalam kebijakan pengendalian tembakau, menekankan pentingnya prinsip kesehatan dan penghormatan hak asasi manusia. Pendekatan yang efektif seperti mendukung pengakuan terhadap produk tembakau alternatif rendah risiko sebagai bentuk pengurangan bahaya tembakau perlu diterapkan, berkaca dari negara-negara yang telah berhasil menekan angka merokok seperti Swedia, Norwegia, Inggris, Islandia, dan Jepang. David Sweanor, Ketua Dewan Penasihat Hukum, Kebijakan, dan Etika Kesehatan di Universitas Ottawa juga menyayangkan penolakan WHO dalam mengakui strategi dan pendekatan pengurangan bahaya tembakau yang telah berhasil diterapkan di berbagai negara melalui penggunaan produk tembakau alternatif.

Baca lebih lanjut

Pemerintah harus terbuka terhadap kajian ilmiah produk HPTL

Pemerintah diharapkan untuk bersikap terbuka terhadap hasil kajian ilmiah dari produk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL), seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan snus. Dengan begitu, pemerintah dapat menyampaikan informasi yang akurat kepada publik mengenai produk yang merupakan hasil dari pengembangan inovasi dan teknologi ini.

Baca lebih lanjut
Baca lebih lanjut →

Pemanasan

vs
Pembakaran

Tahukah kamu? Pembakaran rokok dan pemanasan pada produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik serta produk tembakau yang dipanaskan, memiliki hasil yang berbeda.

Proses pembakaran pada rokok terjadi pada suhu lebih dari 600 derajat celcius. Proses ini menghasilkan asap yang mengandung TAR yang bersifat karsinogenik dan dapat memicu berbagai penyakit berbahaya terkait kebiasaan merokok.

Produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan menghantarkan nikotin melalui proses pemanasan. Proses ini terjadi pada suhu yang terkontrol melalui teknologi pada perangkatnya. Emisi dari proses ini merupakan uap atau aerosol yang tidak mengandung TAR. Inilah yang membuat produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih rendah daripada rokok.

Pelajari lebih lanjut →

Perbedaan
Asap
dan
Uap

Walaupun terlihat serupa, asap dan uap merupakan dua hal yang sangat berbeda. Asap dihasilkan dari proses pembakaran, seperti saat seseorang merokok. Ketika rokok dibakar, rokok akan menghasilkan asap yang mengandung residu dan partikel padat berupa TAR.

TAR adalah zat kimia berbahaya yang bersifat karsinogenik yang berarti dapat memicu kanker. Selain itu, paparan TAR juga dapat meningkatkan risiko mengidap berbagai penyakit berbahaya. Sedangkan, uap dihasilkan dari proses pemanasan.

Uap merupakan partikel halus benda cair di udara yang muncul akibat adanya proses kondensasi pada suhu tertentu yang memanfaatkan energi panas. Dalam konteks produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan, uap dihasilkan dari proses pemanasan tembakau atau cairan yang dipanaskan pada suhu tertentu.

Tidak seperti asap yang dihasilkan pembakaran rokok, uap hasil pemanasan produk tembakau alternatif tidak mengandung TAR. Oleh karena itu, produk tembakau aternatif memiliki risiko yang jauh lebih rendah daripada rokok.

Artikel Terkait - Pengurangan Bahaya Tembakau

Ilustrasi untuk Kebijakan Pengendalian Tembakau Perlu Pendekatan Pengurangan Bahaya Tembakau
Kebijakan Pengendalian Tembakau Perlu Pendekatan Pengurangan Bahaya Tembakau

Profesor Riccardo Polosa menekankan perlunya pendekatan inovatif dalam kebijakan pengendalian tembakau, menekankan pentingnya prinsip kesehatan dan penghormatan hak asasi manusia. Pendekatan yang efektif seperti mendukung pengakuan terhadap produk tembakau alternatif rendah risiko sebagai bentuk pengurangan bahaya tembakau perlu diterapkan, berkaca dari negara-negara yang telah berhasil menekan angka merokok seperti Swedia, Norwegia, Inggris, Islandia, dan Jepang. David Sweanor, Ketua Dewan Penasihat Hukum, Kebijakan, dan Etika Kesehatan di Universitas Ottawa juga menyayangkan penolakan WHO dalam mengakui strategi dan pendekatan pengurangan bahaya tembakau yang telah berhasil diterapkan di berbagai negara melalui penggunaan produk tembakau alternatif.

Ilustrasi untuk Pemerintah harus terbuka terhadap kajian ilmiah produk HPTL
Pemerintah harus terbuka terhadap kajian ilmiah produk HPTL

Pemerintah diharapkan untuk bersikap terbuka terhadap hasil kajian ilmiah dari produk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL), seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan snus. Dengan begitu, pemerintah dapat menyampaikan informasi yang akurat kepada publik mengenai produk yang merupakan hasil dari pengembangan inovasi dan teknologi ini.

Ilustrasi untuk Asia Pacific Harm Reduction Forum 2024: Ariyo Bimmo Tegaskan Pentingnya Kolaborasi dan Inovasi Untuk Mengurangi Bahaya Tembakau
Asia Pacific Harm Reduction Forum 2024: Ariyo Bimmo Tegaskan Pentingnya Kolaborasi dan Inovasi Untuk Mengurangi Bahaya Tembakau

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Ariyo Bimmo menyoroti pentingnya kolaborasi untuk mengurangi jumlah perokok aktif di Indonesia yang mencapai 70 juta orang. Melalui Asia Pacific Harm Reduction Forum 2024 diharapkan dapat terwujud kolaborasi lintas disiplin untuk mendorong pendekatan pengurangan bahaya tembakau yang berbasis pada bukti ilmiah dan inovasi.