Mengenal lebih dekat dengan
Kantong Nikotin
Kantong nikotin adalah salah satu jenis produk tembakau alternatif yang populer di Swedia. Kantong nikotin adalah salah satu jenis produk tembakau alternatif yang berbentuk kantung kecil mengandung nikotin. Produk ini dikonsumsi dengan cara diletakkan di antara gusi dan bibir untuk menghantarkan nikotin.
Penggunaan kantong nikotin juga tidak melalui proses pembakaran, sehingga produk tembakau alternatif ini memiliki risiko yang lebih rendah daripada rokok.
Bagi perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti merokok, mereka dapat beralih ke kantong nikotin yang lebih rendah risiko daripada rokok untuk mengurangi risiko akibat kebiasaan merokok.
Artikel Terkait - Produk Tembakau Alternatif
Angka Perokok Tinggi, Pakar: Kurangi Risiko Produk Tembakau
Kalangan akademisi menilik pentingnya pengurangan risiko produk tembakau mengingat tingginya angka perokok di Indonesia. Pasalnya, pendekatan berhenti merokok secara total ternyata sulit dilakukan bagi perokok dewasa, ujar Wakil Direktur AOI University Hospital Jepang, Hiroya Kumamaru. Pemanfaatan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan ternyata dapat membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok. Oleh karenanya, pengurangan risiko tembakau dengan memanfaatkan produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu solusi untuk isu prevalensi perokok.
Pengurangan Risiko, Solusi Efektif Atasi Masalah Rokok
Produk tembakau alternatif bahayanya berkurang karena tidak melalui proses pembakaran, melainkan pemanasan, sehingga menghasilkan uap bukan asap. Dengan demikian, produk tersebut tidak menghasilkan TAR dan berbagai zat kimia berbahaya bagi tubuh manusia.
Strategi Cegah Misinformasi Tembakau Alternatif
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Sahid Jakarta (USAHID), diperlukan strategi komunikasi yang berbeda tentang produk tembakau alternatif untuk mengurangi misinformasi, yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan masyarakat dan status sosial masyarakat. Dalam mengimplementasikan strategi komunikasi tersebut, perlu dibangun kolaborasi dengan melibatkan pemangku kepentingan (pentahelix), seperti pemerintah, pelaku usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
