Left arrow Kembali

Profesor Kardiologi UCL Tekankan Pentingnya Pencegahan untuk Ketahanan Kesehatan

05 Januari 2010

Profesor Kardiologi University College London (UCL), Inggris, John Deanfield, mengatakan sistem kesehatan yang tangguh harus mampu mencegah penyakit sebelum berkembang, bukan sekadar mengobati pasien setelah mengalami gangguan kesehatan.

Penguatan ketahanan kesehatan nasional perlu diarahkan tidak hanya pada kemampuan menangani penyakit dan krisis, tetapi juga pada upaya pencegahan sejak dini serta pengendalian faktor risiko.

Profesor Kardiologi University College London (UCL), Inggris, John Deanfield, mengatakan sistem kesehatan yang tangguh harus mampu mencegah penyakit sebelum berkembang, bukan sekadar mengobati pasien setelah mengalami gangguan kesehatan.

Pesan tersebut disampaikan Deanfield dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga: Hindari dan Kurangi Bahaya Asap Knalpot

Menurutnya, sistem kesehatan di berbagai negara masih didominasi pendekatan kuratif. Dia menyebut sekitar 98% belanja kesehatan dialokasikan untuk pengobatan, sedangkan hanya 2% digunakan untuk upaya preventif.

“Kita harus meningkatkan kemampuan dalam mencegah penyakit dan mengelola risiko. Ini adalah konsep yang paling penting,” ujarnya, dikutip Selasa (27/10/2026).

Deanfield menilai pendekatan preventif perlu dilakukan dengan menangani faktor penyebab penyakit sedini mungkin. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi dampak penyakit kardiovaskular, obesitas, serta risiko kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan tembakau.

Dia menekankan bahwa pencegahan tidak harus selalu dimulai melalui perubahan gaya hidup secara drastis. Kebiasaan kecil yang realistis dan dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan manfaat kesehatan dalam jangka panjang.

Survei Ungkap Tantangan Gaya Hidup Sehat

Pentingnya pendekatan preventif yang realistis juga tercermin dalam survei terhadap 2.000 responden di Indonesia yang dipaparkan Deanfield. Hasil survei menunjukkan 92% responden menilai program Cek Kesehatan Gratis yang dijalankan pemerintah bermanfaat bagi mereka.

Namun, kesadaran terhadap pentingnya kesehatan belum selalu diikuti kemampuan menerapkan seluruh rekomendasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah kebiasaan, seperti berolahraga setiap hari, memenuhi anjuran konsumsi buah dan sayuran, serta membatasi asupan gula, masih menjadi tantangan bagi masyarakat.

Baca Juga: Bahaya Mengonsumsi Daging Asap

Deanfield mengatakan rekomendasi kesehatan perlu mempertimbangkan kondisi dan kemampuan masyarakat untuk menjalankannya. Anjuran yang terlalu ketat dan sulit dicapai berisiko menimbulkan tekanan psikologis yang justru dapat berdampak negatif terhadap kesehatan.

Survei tersebut juga menunjukkan 77% responden lebih memilih pendekatan kesehatan yang realistis dan mudah diterapkan. Sementara itu, 82% percaya bahwa alternatif yang lebih baik dapat membantu masyarakat beralih menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Deanfield mencontohkan sejumlah alternatif, seperti produk rendah atau tanpa gula dan beras multigrain. Dia juga menyebut produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa yang tetap memilih mengonsumsi nikotin sebagai salah satu contoh yang disampaikan dalam survei tersebut.

Menurutnya, penguatan ketahanan kesehatan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pergeseran dari pendekatan yang berfokus pada pengobatan menuju pencegahan berbasis bukti ilmiah dan pengurangan faktor risiko memerlukan dukungan lingkungan yang tepat serta kolaborasi lintas sektor.

Kemenkes Dorong Kesiapsiagaan dan Kolaborasi

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan ketahanan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional.

Dia menyebut pengalaman menghadapi bencana alam, ancaman penyakit menular, dan berbagai krisis kesehatan menunjukkan pentingnya sistem yang mampu mengantisipasi ancaman, memberikan respons secara efektif, serta memulihkan kondisi setelah krisis.

“Untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap krisis kesehatan, memperkuat sinergi kesehatan sipil dan militer, mendorong inovasi serta kemandirian teknologi kesehatan, dan membangun kolaborasi global,” ujarnya dalam video sambutan pembukaan SIERA 2026.

Benjamin menambahkan ancaman kesehatan tidak mengenal batas wilayah. Karena itu, pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, dan kerja sama internasional diperlukan untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.