Berbagai bukti ilmiah mengenai produk tembakau alternatif terus bertambah, baik di Indonesia maupun di berbagai negara. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, memiliki profil paparan zat berbahaya yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Temuan-temuan tersebut juga menilai produk ini berpotensi menjadi salah satu pilihan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok melalui pendekatan pengurangan risiko (tobacco harm reduction).
Penelitian mengenai produk tembakau alternatif umumnya berfokus pada dua aspek utama, yakni tingkat paparan zat berbahaya dibandingkan rokok serta efektivitasnya dalam membantu perokok dewasa yang kesulitan berhenti merokok. Berbagai kajian dari lembaga riset dan jurnal ilmiah internasional menunjukkan hasil yang relatif konsisten pada kedua aspek tersebut.
Baca Juga: Temuan BRIN: Tembakau Alternatif dengan Zat Berbahaya lebih rendah
Salah satu kajian yang menjadi rujukan awal adalah Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products yang diterbitkan UK Health Security Agency (UKHSA) pada 2018. Kajian tersebut menyebutkan bahwa rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan memiliki profil risiko sekitar 90–95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Temuan ini didasarkan pada tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR dan berbagai zat berbahaya lain yang terkandung dalam asap rokok.
Temuan serupa juga diperkuat oleh penelitian klinis Electronic Nicotine-Delivery Systems for Smoking Cessation yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine pada Februari 2024. Penelitian yang dilakukan oleh Institute of Primary Health Care Universitas Bern, Swiss, itu menunjukkan bahwa pemanfaatan produk tembakau alternatif mampu meningkatkan keberhasilan berhenti merokok dibandingkan konseling berhenti merokok saja. Selain itu, penggunaannya juga dikaitkan dengan potensi penurunan sejumlah keluhan kesehatan akibat merokok.
Pemimpin penelitian tersebut, Reto Auer, menjelaskan bahwa riset dilakukan untuk mengukur efektivitas penggunaan produk tembakau alternatif dalam jangka pendek sebagai bagian dari program konseling berhenti merokok.
"Studi itu untuk membandingkan efektivitas, keamanan, dan toksikologi produk tembakau alternatif sebagai solusi berhenti dari kebiasaan merokok dibandingkan dengan metode lainnya," kata Auer.
Penelitian lain yang dipublikasikan JAMA Network pada Januari 2025 juga menunjukkan bahwa rokok elektronik menjadi metode yang paling banyak digunakan oleh perokok dewasa di Inggris untuk beralih dari kebiasaan merokok sepanjang periode 2023–2024. Sebanyak 40,2% upaya berhenti merokok dilakukan dengan bantuan rokok elektronik. Studi tersebut juga menemukan bahwa tingkat keberhasilan penggunaan rokok elektronik lebih tinggi dibandingkan terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy atau NRT).
Dalam laporannya disebutkan, temuan ini menunjukkan keberhasilan beralih dari kebiasaan merokok dapat meningkat dengan mendorong penggunaan metode yang lebih efektif.
"Kami menemukan upaya tersebut dibantu rokok elektronik lebih mungkin berhasil dibandingkan dengan yang tidak," ucapnya.
Di Indonesia, hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menunjukkan temuan yang sejalan. Penelitian BRIN mengungkapkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki profil toksikan yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok karena tidak melalui proses pembakaran yang menghasilkan TAR. Temuan tersebut diperkuat melalui studi tahun 2025 berjudul Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants, yang menunjukkan kadar toksikan pada rokok elektronik lebih rendah dibandingkan rokok berdasarkan pengujian terhadap sembilan toksikan utama yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penelitian terhadap produk tembakau yang dipanaskan juga menunjukkan adanya potensi penurunan paparan zat berbahaya.
Peneliti BRIN, Prof. Bambang Prasetya, mengatakan hasil penelitian tersebut semakin memperkuat bukti ilmiah mengenai potensi pengurangan paparan zat berbahaya dari produk tembakau yang dipanaskan.
"Studi pada produk tembakau yang dipanaskan menunjukkan secara konsisten penurunan zat toksikan berisiko terhadap kesehatan hingga 80–90 persen dibandingkan rokok," ujarnya.
Secara keseluruhan, berbagai penelitian dari Inggris, Swiss, hingga Indonesia menunjukkan konsistensi bahwa produk tembakau alternatif memiliki profil paparan zat berbahaya yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Meski bukan merupakan produk tanpa risiko, berbagai temuan ilmiah tersebut menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu pilihan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok melalui pendekatan pengurangan risiko yang didukung bukti ilmiah.