Left arrow Kembali

Nikotin Punya Potensi Membantu Mempertahankan Konsentrasi, Meningkatkan Perhatian, dan Memberikan Perbaikan Suasana Hati

Sejumlah penelitian menunjukkan nikotin dapat memengaruhi fungsi kognitif, termasuk kemampuan fokus dan suasana hati. Namun para ahli mengingatkan bahwa temuan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai dorongan untuk mulai menggunakan produk nikotin, mengingat zat ini tetap bersifat adiktif dan memiliki risiko kesehatan tertentu.

Salah satu studi yang dipublikasikan dalam Harm Reduction Journal menemukan bahwa nikotin berpotensi membantu mempertahankan konsentrasi, meningkatkan perhatian, serta memberikan perbaikan suasana hati pada kelompok perokok dewasa yang menjadi peserta penelitian.

Penelitian berjudul An Exploratory, Randomised, Crossover Study to Investigate the Effect of Nicotine on Cognitive Function in Healthy Adult Smokers Who Use an Electronic Cigarette After a Period of Smoking Abstinence tersebut melibatkan 40 perokok dewasa sehat. Dalam penelitian itu, peserta diminta tidak mengonsumsi nikotin selama 12 jam sebelum mengikuti lima sesi pengujian.

Pada setiap sesi, mereka secara bergantian menggunakan rokok, rokok elektrik dengan berbagai kadar nikotin, atau tidak menggunakan produk apa pun. Peneliti kemudian mengukur perubahan kemampuan fokus, perhatian, suasana hati, dan keinginan untuk merokok sebelum serta sesudah penggunaan produk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan produk yang mengandung nikotin berpotensi meningkatkan kemampuan mempertahankan fokus dan memperbaiki suasana hati dibandingkan ketika peserta tidak menggunakan produk apa pun. Selain itu, rokok elektrik yang mengandung nikotin juga tercatat mampu menekan keinginan untuk merokok secara signifikan selama masa pengujian.

“Ini menunjukkan bahwa rokok elektrik berpotensi menjadi alternatif yang dapat diterima bagi perokok dewasa, yang apabila tidak memiliki pilihan produk lain, kemungkinan akan tetap melanjutkan kebiasaan merokok,” kata Harry J. Green, penulis utama studi tersebut, dikutip Senin (8/6).

Nikotin dan Fungsi Kognitif

Secara ilmiah, nikotin diketahui bekerja pada reseptor tertentu di otak yang berhubungan dengan perhatian, kewaspadaan, dan sistem penghargaan. Karena itu, sejumlah penelitian selama beberapa dekade terakhir memang menemukan adanya hubungan antara nikotin dan peningkatan sementara pada beberapa aspek fungsi kognitif.

Meski demikian, manfaat potensial tersebut harus dilihat secara utuh karena nikotin juga merupakan zat adiktif yang dapat menyebabkan ketergantungan. Para peneliti menekankan bahwa hasil studi ini dilakukan pada kelompok perokok dewasa dan tidak dapat dijadikan dasar untuk mendorong penggunaan nikotin pada masyarakat umum.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, mengatakan masyarakat perlu memperoleh informasi yang lengkap dan berbasis sains mengenai nikotin maupun risiko kesehatan yang terkait dengan produk tembakau.

Menurut Paido, masih banyak masyarakat yang menganggap nikotin sebagai satu-satunya penyebab utama bahaya rokok.

“Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menjelaskan bahwa nikotin adalah zat adiktif yang membuat orang terus menggunakan produk tembakau, tetapi asap rokok, bukan nikotin itu sendiri, yang menjadi penyebab utama penyakit serius dan kematian pada perokok. Karena itu, informasi publik harus mampu membedakan antara nikotin dan risiko pembakaran,” ungkap Paido.

Dia menambahkan bahwa berbagai kajian ilmiah menunjukkan sebagian besar risiko kesehatan akibat merokok berasal dari proses pembakaran tembakau yang menghasilkan tar, karbon monoksida, serta berbagai zat beracun lainnya yang terhirup melalui asap.

Meski demikian, Paido menegaskan bahwa temuan mengenai potensi efek kognitif nikotin perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Menurut dia, informasi tersebut bukan untuk mendorong non-perokok, anak-anak, remaja, maupun kelompok rentan agar menggunakan nikotin.

Sebaliknya, hasil penelitian tersebut dapat menjadi bagian dari edukasi kesehatan yang lebih komprehensif mengenai karakteristik nikotin, termasuk manfaat potensial dan risikonya.

“Bagi kami, edukasi yang benar adalah edukasi yang tidak menakut-nakuti secara berlebihan, tetapi juga tidak mempromosikan nikotin yang tetap zat adiktif, sehingga penggunaannya tetap harus dibatasi hanya untuk konsumen dewasa, khususnya perokok dewasa yang mencari alternatif dari rokok,” tandas Paido.

Meski sejumlah studi menemukan adanya potensi pengaruh nikotin terhadap fokus dan suasana hati, para ahli kesehatan tetap menekankan bahwa pilihan terbaik bagi individu yang tidak merokok adalah tidak mulai menggunakan produk yang mengandung nikotin. Sementara bagi perokok, upaya berhenti merokok secara menyeluruh tetap menjadi tujuan utama untuk memperoleh manfaat kesehatan jangka panjang.

https://www.jawapos.com/kesehatan/2606090118/studi-ungkap-nikotin-berpotensi-pengaruhi-fokus-dan-suasana-hati-apa-kata-peneliti?page=all