Left arrow Kembali

Riset BRIN: Rokok Elektronik Berpotensi Turunkan Risiko bagi Perokok Dewasa

Temuan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa kadar formaldehida pada emisi rokok elektronik sekitar 10 kali lebih rendah dibandingkan rokok yang dibakar. Sementara kadar akrolein tercatat 115 kali lebih rendah dan benzena hingga 6.000 kali lebih rendah. BRIN menekankan bahwa kajian ilmiah ini penting sebagai dasar penyusunan regulasi yang adil, berbasis risiko, dan tetap mempertimbangkan keselamatan masyarakat serta keberlangsungan ekonomi sektor tembakau.

Riset BRIN menunjukkan rokok elektronik memiliki paparan zat berbahaya lebih rendah dibanding rokok bakar dan dinilai berpotensi mendukung pengurangan risiko bagi perokok dewasa.

Upaya berhenti merokok secara langsung masih menjadi tantangan bagi banyak perokok di Indonesia. Di tengah strategi pengendalian tembakau yang dinilai belum optimal menurunkan prevalensi merokok, produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik disebut dapat menjadi salah satu opsi pengurangan risiko (harm reduction) yang realistis.

Produk tembakau alternatif memungkinkan perokok dewasa tetap memperoleh nikotin tanpa melalui proses pembakaran.

Pembakaran pada rokok konvensional diketahui menjadi sumber utama paparan zat berbahaya dan beracun. Tanpa proses tersebut, potensi risiko kesehatan dinilai dapat ditekan. Temuan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pendekatan tersebut. Dalam studi Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO’s Nine Toxicants, BRIN mencatat kadar formaldehida pada emisi rokok elektronik sekitar 10 kali lebih rendah dibandingkan rokok yang dibakar. Sementara kadar akrolein tercatat 115 kali lebih rendah dan benzena hingga 6.000 kali lebih rendah.

Peneliti BRIN Bambang Prasetya mengatakan penelitian ini merupakan langkah awal untuk memetakan ekosistem komoditas tembakau dan turunannya, termasuk produk inovatif seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan.

“Selama ini kita belum memiliki landasan kajian yang cukup untuk menyusun naskah akademik atau kebijakan yang tepat. Karena itu kami hadir untuk mulai membangun fondasi pengetahuan tersebut,” ujar Bambang.

Ia menilai mekanisme pengaturan yang ideal harus mengedepankan asas keadilan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan masyarakat sekaligus keberlangsungan sosial-ekonomi yang bergantung pada sektor tembakau. Menurutnya, regulasi perlu disusun berdasarkan bukti ilmiah dan prinsip good regulatory practice berbasis risiko.

“Negara hadir untuk menjamin keselamatan masyarakat, tapi juga harus adil terhadap mereka yang hidup dari industri ini. Karena itu, kebijakan perlu ditopang kajian ilmiah, disusun dalam naskah akademik, lalu dikomunikasikan ke publik sebelum ditetapkan sebagai regulasi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo), Paido Siahaan, menilai hasil riset BRIN penting sebagai pembanding risiko bagi konsumen dewasa dalam mengambil keputusan berbasis fakta.

“Artinya, bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti, data itu memperkuat alasan bahwa beralih penuh dari rokok bakar ke rokok elektronik berpotensi menurunkan paparan zat berbahaya dari pembakaran, sehingga konsumen punya dasar ilmiah untuk mengambil keputusan yang lebih rasional,” ujar Paido.

Ia menambahkan, peralihan ke produk tembakau alternatif dapat dipandang sebagai jalan tengah dalam kerangka harm reduction untuk mengurangi sumber bahaya terbesar, yakni proses pembakaran.

Menurut Paido, dukungan pemerintah menjadi faktor kunci agar peralihan tersebut berjalan efektif. Dukungan diperlukan melalui kebijakan yang proporsional dan berbasis kajian ilmiah, termasuk pembedaan tegas antara produk legal dan ilegal, penegakan perlindungan anak dan remaja, serta pengawasan ketat terhadap produk yang beredar di jalur resmi.

“Kerangka Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 sudah menempatkan rokok elektronik dalam rezim pengamanan zat adiktif, namun tantangannya adalah implementasi yang konsisten dan berbasis risiko, agar konsumen tidak terdorong ke pasar gelap,” pungkasnya.

https://www.liputan6.com/on-off/read/6267277/riset-brin-rokok-elektronik-berpotensi-turunkan-risiko-bagi-perokok-dewasa#google_vignette

Biatna Dulbert Tampubolon, Bambang Prasetya, Daryono Restu Wahono, Teguh Pribadi Adinugroho, Ary Budi Mulyono, Ellia Kristiningrum, Nanang Kusnandar, Widia Citra Anggundari, Budhy Basuki, Putty Anggraeni. (2025). Evaluation Of Laboratory Tests For E-Cigarettes In Indonesia Based On Who’s Nine Toxicants. EVOLUTIONARY STUDIES IN IMAGINATIVE CULTURE, 199–212. https://doi.org/10.70082/esiculture.vi.3020