Left arrow Kembali

Tobacco Harm Reduction: Pendekatan Aplikatif dan Berbasis Ilmiah untuk Menekan Angka Prevalensi Perokok di Indonesia

Bagi perokok dewasa yang sudah lama mengonsumsi nikotin, upaya konvensional seperti imbauankesehatan dan kampanye bahaya rokok dinilai belum cukup kuat mengubah perilaku untuk mengurangi risiko. Pengurangan Bahaya Tembakau atau Tobacco Harm Reduction hadir sebagai pendekatan yang tidak hanya normatif, tetapi juga aplikatif dan berbasis bukti ilmiah.

Di tengah tuntutan produktivitas yang kian tinggi, menekan angka prevalensi perokok masih menjadi pekerjaan besar di Indonesia.

Berbagai kampanye berhenti merokok telah dilakukan selama bertahun-tahun, namun hasilnya belum sepenuhnya memuaskan.

Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan baru yang tidak hanya normatif, tetapi juga aplikatif dan berbasis bukti ilmiah.

Upaya konvensional seperti imbauan kesehatan dan kampanye bahaya rokok dinilai belum cukup kuat mengubah perilaku, terutama pada kelompok perokok dewasa yang telah lama bergantung pada nikotin.

Oleh karena itu, strategi tambahan mulai dipertimbangkan, salah satunya melalui pendekatan Pengurangan Bahaya Tembakau atau Tobacco Harm Reduction (THR), sebagai pelengkap dalam menekan jumlah perokok aktif.

Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Amaliya, menilai bahwa tingginya angka merokok tidak bisa dilepaskan dari faktor psikologis, terutama stres dan tuntutan kerja.

Prof Amaliya dengan kepakaran di bidang kesehatan mulut dan dampak konsumsi tembakau, selama ini aktif meneliti dan berdiskusi soal strategi Tobacco Harm Reduction (THR) di Indonesia.

Ia memandang pendekatan ini sebagai pelengkap upaya berhenti merokok, dengan fokus pada pengurangan risiko kesehatan bagi perokok yang kesulitan berhenti total.

Dalam situasi tertentu, rokok kerap dianggap sebagai “alat bantu” untuk menjaga fokus. Karena itu, menurutnya, pendekatan penurunan angka perokok harus mempertimbangkan realitas tersebut, bukan semata-mata mengandalkan larangan.

Dalam kerangka itu, strategi pengurangan bahaya mulai dilirik sebagai jembatan bagi perokok yang kesulitan berhenti secara total. 

Pendekatan ini tidak menggantikan upaya berhenti merokok sepenuhnya yang tetap menjadi standar ideal melainkan menawarkan alternatif yang dinilai memiliki risiko lebih rendah bagi kesehatan.

Salah satu prinsip utama dalam pendekatan ini adalah menghindari proses pembakaran, yang selama ini menjadi sumber utama zat berbahaya pada rokok konvensional.

Produk tembakau alternatif yang dipanaskan, bukan dibakar, disebut mampu menekan paparan zat toksik secara signifikan, sehingga berpotensi mengurangi dampak kesehatan bagi penggunanya.

Sementara, praktisi kesehatan militer Kolonel Laut (K) Dr. drg. Yun Mukmin A., Sp.Ort., menegaskan bahwa strategi berbasis imbauan semata tidak cukup efektif untuk menurunkan prevalensi perokok. Ia menilai dibutuhkan pendekatan yang lebih konkret dan didukung riset.

https://www.tribunnews.com/lifestyle/7825161/strategi-pengurangan-bahaya-dinilai-bisa-menekan-angka-perokok-di-indonesia