Selain itu, pembatasan ketat terhadap produk alternatif yang terbukti mengurangi risiko kesehatan perlu dikaji ulang. Menurut mereka, dibutuhkan keberanian pemerintah untuk meninggalkan dogma lama dan mengedepankan sains, serta peran jurnalis dan asosiasi medis untuk mengedukasi tenaga kesehatan mengenai strategi pengurangan risiko sebagai pendekatan komplementer. Artikel ini juga menyoroti pengalaman negara seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Swedia, di mana penggunaan produk tembakau alternatif seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan snus berkolerasi dengan penurunan prevalensi merokok dan risiko kanker. Sebaliknya, di negara seperti Indonesia, China, dan Mesir, prevalensi merokok pria dewasa masih di atas 45%.
Mantan Pimpinan WHO dan Ekonom: Pengurangan Risiko Berpotensi Menyelamatkan Lebih dari 100 Juta Jiwa
Menjelang pertemuan negara-negara penandatanganan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Jenewa pada 17 November lalu, dua mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Derek Yach dan Prof. Tikki Pangestu, bersama ekonom Chris Snowdon dan pendiri Clearing the Air Peter Beckett, menyerukan evaluasi ulang arah kebijakan pengendalian tembakau global. Mengacu pada riset terbaru Yach, mereka menilai bahwa penerapan strategi tobacco harm reduction secara lebih luas berpotensi menyelamatkan lebih dari 100 juta jiwa hingga 2060, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah dengan prevalensi merokok yang tinggi.