Jumlah perokok tetap banyak, meski kampanye merokok tidak sehat terus dilakukan.
Mantan Direktur Penelitian, Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Prof Tikki Pangestu mengatakan ada tiga faktor utama yang menghambat penurunan prevalensi merokok.
Menurutnya, kelompok pengendalian anti-tembakau sangat menentang pendekatan pengurangan risiko tembakau.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa pada praktik pengurangan jumlah perokok selama ini hanya mengedepankan kebijakan yang berfokus pada larangan dan pembatasan
“Tanpa mempertimbangkan perlindungan kesehatan bagi perokok yang ingin beralih ke produk lebih rendah risiko," ujar Tikki seperti yang dikutip dari Antara pada Senin (14/4/2025).
Ia mengatakan bahwa negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah cenderung mengikuti WHO yang memiliki sikap menolak terhadap pendekatan pengurangan risiko tembakau.
Tikki mengatakan bahwa hal itu mengakibatkan negara-negara berkembang sering kali mengalami keterbatasan dalam menilai manfaat dari implementasi pendekatan pengurangan risiko tembakau melalui penggunaan produk-produk tembakau alternatif.
Alasan terakhir menurutnya adalah adanya misinformasi tentang produk tembakau alternatif.
Hal itu membuat pemerintah dan organisasi kesehatan menolak untuk lebih terbuka terhadap potensi produk tembakau alternatif.
Dia mengatakan bahwa salah satu bentuk misinformasi yang paling umum adalah anggapan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang sama dengan rokok.
“Semua poin tersebut cukup sulit diatasi dan mencerminkan posisi yang hampir tidak dapat didamaikan,” ujarnya.
Ia melanjutkan, “Kelompok pengendalian tembakau bertujuan menciptakan masyarakat bebas nikotin, bagi saya itu bersifat ideologis dan sangat tidak mungkin tercapai.”
“Sementara itu, kami di komunitas pengurangan dampak buruk tembakau memiliki tujuan kesehatan masyarakat yang lebih pragmatis," imbuhnya.
Tikki menambahkan, meskipun ada banyak bukti tentang potensi manfaat produk tembakau alternatif dalam mengurangi risiko kesehatan, masih banyak pihak yang mengabaikan hal tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa WHO juga tidak pernah mempertimbangkan potensi ini dalam mengurangi prevalensi merokok.
“Produk tembakau alternatif ini tidak digunakan secara luas untuk mengatasi epidemi merokok yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia,” ucapnya.
“Hal ini benar-benar memengaruhi saya sebagai seorang ilmuwan. Mengapa para pembuat kebijakan, WHO, mengabaikan begitu saja bukti yang saya yakini sangat kuat bahwa produk,” pungkasnya.
Saat ini, ada 60 juta perokok di Indonesia dari total populasi penduduk yakni sekitar 273 juta orang.