Bahaya Asap Rokok bagi Perokok Pasif
Bahaya asap rokok bagi perokok pasif dapat memberikan efek buruk yang beragam. Anda dapat mengenal berbagai bahayanya bersama informasi dari KABAR.
Bahaya asap rokok bagi perokok pasif dapat memberikan efek buruk yang beragam. Anda dapat mengenal berbagai bahayanya bersama informasi dari KABAR.
Nikotin umumnya membutuhkan waktu 1–3 hari untuk keluar sepenuhnya dari tubuh setelah seseorang perokok berhenti merokok. Namun, waktu ini bisa bervariasi tergantung pada faktor seperti durasi merokok, metabolisme, dan kondisi kesehatan. Memahami proses pengeluaran nikotin penting bagi mereka yang ingin mengurangi paparan asap rokok dan mulai beralih ke produk tembakau alternatif, seperti HTP dan vape.
Artikel terkait: Rokok Elektrik vs Konvensional: Mana Lebih Rendah Risiko?
Meskipun produk tembakau alternatif telah berstatus legal, Indonesia masih belum memiliki regulasi yang menyeluruh untuk melindungi hak-hak konsumen produk tembakau alternatif. Hal ini yang perlu kita pelajari dari Amerika Serikat, beserta regulasi yang berlaku di sana.
Data global menunjukkan bahwa penurunan prevalensi merokok tidak lagi secepat dekade sebelumnya. Namun, beberapa negara justru mampu menekan angka tersebut jauh lebih cepat melalui penerapan Tobacco Harm Reduction (THR) dan regulasi yang jelas terhadap produk nikotin yang tidak melalui proses pembakaran (non-combustion).
Nikotin sendiri adalah senyawa dalam golongan alkaloid yang bersifat stimulan. Sebagai stimulan, nikotin dapat meningkatkan mekanisme tubuh, terutama yang berkaitan dengan fungsi kewaspadaan dan pemrosesan isyarat, ketajaman memori, konsentrasi, dan perhatian dalam jangka pendek.
Eksperimen ini bertujuan untuk mengukur kadar karbon monoksida (CO) pada hembusan napas setelah menggunakan produk tembakau yang dipanaskan.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Jepang menunjukkan penurunan signifikan dalam prevalensi merokok. Pada tahun 2000, hampir setengah dari pria dewasa merokok. Berkat kampanye kesehatan dan regulasi ketat, angka ini turun menjadi 10.6% pada tahun 2022, menandai penurunan 46% sejak 2014.
Dengan manfaat yang diberikan dari produk tembakau alternatif, Inggris, Jepang, Kanada, dan Selandia Baru kini menggunakannya sebagai salah satu alternatif untuk menekan angka prevalensi perokok. Pemerintah pun diharapkan untuk melakukan kajian terhadap produk tembakau alternatif ini.
Penelitian terbaru dari Brighton and Sussex Medical School (BSMS) mengungkapkan bahwa pemahaman yang benar tentang produk tembakau alternatif (PTA) dapat membantu perokok dewasa beralih dan bahkan berhenti merokok. Sebaliknya, misinformasi mengenai PTA yang dianggap lebih berbahaya dibandingkan rokok menyebabkan terhambatnya perokok dewasa beralih dari kebiasaannya.
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar) Ariyo Bimmo menekankan pentingnya kajian ilmiah berbasis riset sebagai landasan kebijakan guna mengurangi bahaya rokok. Hal ini, kata dia, sekaligus membantu pemerintah menjawab permasalahan tingginya prevalensi perokok yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Pemerintah Indonesia diharapkan segera merumuskan regulasi khusus dan mengatur secara jelas tentang produk tembakau alternatif untuk mengurangi asumsi yang simpang siur di masyarakat terkait profil produk dan tingkat risiko penggunaannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak kesehatan bagi pengguna pasif yang terpapar asap dari rokok dan uap yang dihasilkan rokok elektronik.
Polusi udara di Bali, khususnya di Denpasar masuk dalam tahap mengkhawatirkan. Beragam upaya dilakukan untuk memperbaiki hal ini, salah satunya dengan menjalankan filosofi Tri Hita Karana (THK) yang pada hakikatnya selalu menjaga keseimbangan alam.
Third-Hand Smoke adalah residu dari asap rokok yang menetap pada debu dan permukaan tubuh atau benda-benda lain setelah rokok dimatikan. THS tidak hanya menetap di dalam ruangan tetapi juga terdapat di pakaian, rambut, hingga tangan perokok aktif maupun pasif.
Bagi perokok yang menghadapi kesulitan untuk berhenti, produk tembakau alternatif dapat menjadi solusi yang memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah.
Senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) merupakan salah satu senyawa penyebab kanker (bersifat karsinogenik) yang paling kuat dan dihasilkan dari asap yang ada di sekitar kita. Mana yang lebih bahaya? Pelajari di Infografik ini.
Head of Medical Community Alodokter Alni Magdalena menyarankan perpaduan konsep pengurangan bahaya tembakau dengan layanan telemedis untuk menjangkau lebih banyak perokok yang ingin berhenti merokok.
Strategi pengurangan bahaya tembakau dinilai mampu melengkapi kebijakan pengendalian rokok nasional dengan memberikan alternatif yang lebih rendah risiko bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti sepenuhnya. Laporan Lives Saved bahkan memperkirakan lebih dari 600 ribu nyawa dapat diselamatkan hingga 2060 jika strategi pengurangan bahaya tembakau diterapkan optimal di negara-negara berkembang.
Ahli Toksikologi dan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Shoim Hidayat memaparkan bahwa produk tembakau alternatif yang merupakan hasil dari inovasi dan pengembangan teknologi tersebut memiliki perbedaan signifikan terkait dengan senyawa kimia berbahaya karena metode penghantaran nikotinnya yang berbeda dari rokok. Akibatnya, produk tembakau alternatif yang merupakan hasil dari inovasi dan pengembangan teknologi mampu kurangi paparan risiko hingga 90-95% lebih rendah dibandingkan rokok.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya kandungan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), senyawa kimia yang dikenal sebagai karsinogen yang kuat, pada cara memasak ayam yang berbeda-beda, yaitu merebus, menggoreng, membakar, dan memanggang.
Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Budiyanto menyatakan semua lini di industri rokok elektronik akan sangat terdampak akibat Rancangan Permenkes yang merupakan turunan dari aturan PP No. 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan. Sebab, kebijakan itu berpotensi besar mendorong tumbuhnya peredaran rokok elektronik ilegal di pasaran.
Produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektronik menjadi produk tembakau alternatif yang paling populer. Pertanyaan pun mulai bermunculan, mana yang lebih efektif untuk membantu perokok aktif berhenti? Penelitian pada Global Nicotine Forum (GFN) 2019 pun dilakukan untuk mejawab pertanyaan ini.
Penelitian ini menggunakan studi kasus yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Taiwan untuk memahami apakah paparan terhadap asap dari obat nyamuk bakar merupakan salah satu faktor risiko kanker paru-paru.
"Asap rokok mengandung banyak zat kimia berbahaya bagi perokok dan non-perokok termasuk hidrogen sianida, karbon monoksida dan amonia,” berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa zar berbahaya yang bisa ditimbulkan dari hasil pembakaran rokok. Yuk simak penjelasannya!
Profesor Tikki Pangestu, mantan Direktur Riset Kebijakan Penelitian dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menekankan pentingnya kebijakan berbasis ilmiah dan analisis rasional untuk menurunkan prevalensi merokok di Indonesia yang mencapai 70 juta orang. Jepang dapat dijadikan contoh terkait keberhasilannya menerapkan produk tembakau alternatif.
American Cancer Society (ACS) membuat pernyataan publik resmi mengenai penghapusan penggunaan tembakau yang dibakar. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa tembakau yang dibakar memiliki risiko kesehatan tinggi dan salah satu faktor penyebab utama penyakit tidak menular di Amerika Serikat.
Kalangan akademisi menilik pentingnya pengurangan risiko produk tembakau mengingat tingginya angka perokok di Indonesia. Pasalnya, pendekatan berhenti merokok secara total ternyata sulit dilakukan bagi perokok dewasa, ujar Wakil Direktur AOI University Hospital Jepang, Hiroya Kumamaru. Pemanfaatan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan ternyata dapat membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok. Oleh karenanya, pengurangan risiko tembakau dengan memanfaatkan produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu solusi untuk isu prevalensi perokok.
Dalam rangka memperingati Hari Vape Nasional, asosiasi vape APVI, APEI, AVI, dan APPNINDO, menandatangani pakta integritas untuk semakin meningkatkan daya saing industri vape nasional. Pakta integritas mencakup tiga poin: komitmen untuk tidak menjual produk tembakau alternatif kepada anak-anak; mencegah penjualan produk tembakau alternatif ilegal; dan mendukung pemerintah Indonesia menerbitkan peraturan produk tembakau alternatif yang berbasis fakta dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terkait.
World Health Organization (WHO) telah memasukkan polusi udara ke dalam daftar tantangan kesehatan global. Keputusan ini diambil oleh WHO karena mereka menemukan bahwa setiap harinya, sembilan dari sepuluh penduduk bumi menghirup udara yang tercemar.
Peneliti Senior dari University of Patras dan School of Public Health-University of West Attica Yunani Profesor Konstantinos Farsalinos menjelaskan, sosialisasi manfaat dan profil risiko produk tembakau alternatif (PTA) perlu dilakukan. Pasalnya, sosialisasi dalam jangka panjang dapat mengatasi stigma, marginalisasi, kriminalisasi, kesenjangan, dan penindasan, sebagai upaya untuk melindungi kesehatan dan kebebasan dalam membuat pilihan pribadi, ujarnya dalam forum diskusi internasional bertajuk 6th Summit Tobbaco Harm Reduction di Athena, Yunani.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahunnya sekitar 6,5 juta kematian terjadi karena polusi udara. Untuk melindungi diri dari polusi udara, masker dipercaya oleh banyak orang Ketika beraktivitas di luar. Namun, apakah penggunaan masker sudah cukup efektif?
Asosiasi produsen dan konsumen rokok elektronik menegaskan bahwa produk tembakau alternatif hanya ditujukan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari merokok.
Berhenti merokok adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Pasalnya, setiap perokok yang berusaha berhenti akan menghadapi nicotine withdrawal atau gejala putus zat nikotin. Beragam metode dilakukan untuk membantu perokok dewasa berhenti merokok, namun mana yang paling efektif?
Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo) Paido Siahaan mengutarakan manfaat produk tembakau alternatif (PTA) sebagai bentuk penerapan pengurangan bahaya tembakau. Pernyataan ini sejalan dengan kajian ilmiah Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial atau UK Health Security bertajuk “Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products” yang menunjukkan bahwa PTA memiliki profil risiko 90-95% lebih rendah ketimbang rokok yang dibakar. Akses terhadap informasi akurat mengenai PTA, penting untuk mendorong perokok dewasa agar beralih dari kebiasaan merokok.
TAR mengandung karsinogen yaitu zat pemicu kanker. Zat ini bisa merusak sel dalam berbagai organ tubuh. Selain paru-paru, TAR juga dikenal sebagai penyebab kanker mulut dan tenggorokan. Bahaya TAR bahkan bisa dilihat langsung, contohnya gigi para perokok yang biasanya lebih kuning.
Menjelang World No Tobacco Day 2025 lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menyerukan pelarangan dan pembatasan ketat terhadap rokok elektronik dan produk tembakau alternatif dengan profil risiko lebih rendah lainnya. Namun, pendekatan ini dinilai dapat menghambat penurunan prevalensi merokok global. Data membuktikan, penggunakan produk tembakau alternatif di Eropa menunjukkan hasil positif.
Tim peneliti yang tergabung dalam Committee on the Review of the Health Effects of Electronic Nicotine Delivery Systems mengkaji temuan dari berbagai penelitian terkait rokok elektronik dan implikasinya pada kesehatan masyarakat.
Merokok di dalam mobil meningkatkan partikel halus yang tinggi di sekitar pengemudi, walau jendela mobil telah dibuka. Paparan asap rokok di mobil tidak hanya terjadi ketika rokok sedang menyala, tapi juga menempel pada interior mobil sehingga menimbulkan bahaya Third-hand smoke.
Pertumbuhan pesat produk tembakau alternatif dan penggunanya memunculkan sebuah kekhawatiran. Akankah uap produk tembakau alternatif mengganggu keseharian kita? Dan jika ya, apa risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan?
Inggris telah mengeluarkan regulasi mengenai produk tembakau alternatif, khususnya rokok elektronik, sebagai produk untuk konsumen. Regulasi ini hadir untuk memastikan bahwa semua produk yang beredar memenuhi standar keamanan dan konsumen mendapatkan edukasi lengkap mengenai produk tembakau alternatif.
Tanpa disadari, ada banyak hal terjadi di sekitar kita yang dapat memicu penyakit kanker. Mulai dari yang paling kita kenali, yaitu asap rokok, hingga asap pembakaran sampah yang tanpa sadar hampir selalu ada di sekitar kita.
Produk tembakau alternatif ternyata memiliki peran potensial dalam membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaannya. Fakta ini dituturkan oleh Ahli Studi Nikotin dan Tembakau, dari London South Bank University (LSBU) Lynne Dawkins yang mengungkapkan bahwa perokok dewasa yang menggunakan produk tembakau alternatif memiliki kemungkinan 55 persen lebih besar untuk beralih dari kebiasaan merokoknya dalam tiga bulan.
Pemerintah diharapkan untuk bersikap terbuka terhadap hasil kajian ilmiah dari produk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL), seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan snus. Dengan begitu, pemerintah dapat menyampaikan informasi yang akurat kepada publik mengenai produk yang merupakan hasil dari pengembangan inovasi dan teknologi ini.
Pemerintah diharapkan dapat memberi dukungan penuh bagi produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantung nikotin, sebagai solusi permasalahan rokok di Indonesia.
Ahli toksikologi sekaligus dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Shoim Hidayat, menjelaskan TAR berbeda jauh dengan nikotin, khususnya dari sisi bahaya yang ditimbulkan. TAR adalah zat kimia dan partikel padat yang dihasilkan dari proses pembakaran pada rokok, ungkapnya. Mengacu kepada National Cancer Institute Amerika Serikat, TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker paru-paru, emfisema, atau penyakit lainnya. Di sisi lain, Shoim mengatakan nikotin tidak bersifat karsinogenik. Nikotinpun dapat ditemukan pada beberapa tanaman lainnya selain tembakau, seperti kentang, terong dan tomat.
Produk tembakau alternatif resmi mendapat izin untuk beredar bebas di Indonesia secara legal pada tahun 2018 lalu. Namun, banyak orang yang mempertanyakan regulasi tersebut. Kenapa produk tembakau alternatif harus memiliki regulasi yang berbeda? Apa bedanya dengan rokok konvensional?
Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tikki Pangestu mendorong Indonesia untuk mengambil pelajaran dari keberhasilan Swedia dan Norwegia dalam menekan angka prevalensi merokok yang tinggi yakni 69.1 juta Perokok. Melalui pemaksimalan penggunaan produk-produk tembakau alternatif seperti kantong nikotin, rokok elektrik, dan tembakau yang dipanaskan, Swedia berhasil menurunkan prevalensi merokok di negaranya dari 11% menjadi 5.16% pada tahun 2015, sementara Norwegia berhasil menurunkan dari 44% menjadi 16.20% dalam kurun 20 tahun dari tahun 2000.
Polusi udara dapat kita temukan di mana saja, termasuk di rumah. Penyebabnya pun bermacam-macam, mulai dari asap pembakaran sampah, asap dapur di rumah, hingga debu yang masuk dan menempel di perabotan rumah. Lalu, bagaimana car akita mengurangi polusi udara di rumah?
TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat menyebakan kanker yang dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk rokok. Sedangkan nikotin, adalah senyawa kimia organik yang dihasilkan alami oleh berbagai macam tumbuhan, seperti terung-terungan, tomat, dan tembakau.
Dari bangasawan Prancis hingga Roro Mendut, inilah perjalanan produk tembakau alternatif hingga sekarang.