TAR, Bukan Nikotin, Pemicu Utama Penyakit Rokok
Peneliti dari Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor University (IPB), Mohammad Khotib, menjelaskan nikotin secara alami terdapat pada tembakau, sedang TAR muncul akibat proses pembakaran tembakau.
Peneliti dari Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor University (IPB), Mohammad Khotib, menjelaskan nikotin secara alami terdapat pada tembakau, sedang TAR muncul akibat proses pembakaran tembakau.
Ada banyak cara untuk menyajikan ayam yang lezat di rumah. Mulai dari digoreng, direbus, dipanggang, hingga disajikan secara barbekyu. Namun, cara mana yang lebih sehat dan minim risiko?
Sebuah studi terbaru di Inggris menemukan bahwa penggunaan produk bebas asap, seperti rokok elektronik, tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, berkorelasi kuat dengan keberhasilan berhenti merokok. Meski jumlah pengguna produk tembakau yang dipanaskan masih terbatas, hasilnya tetap signifikan. Kantong nikotin juga menunjukkan potensi, namun data yang tersedia belum cukup kuat untuk disimpulkan secara pasti.
Produk tembakau alternatif ternyata memiliki peran potensial dalam membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaannya. Fakta ini dituturkan oleh Ahli Studi Nikotin dan Tembakau, dari London South Bank University (LSBU) Lynne Dawkins yang mengungkapkan bahwa perokok dewasa yang menggunakan produk tembakau alternatif memiliki kemungkinan 55 persen lebih besar untuk beralih dari kebiasaan merokoknya dalam tiga bulan.
Produk tembakau alternatif, dinilai sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah perokok. Sebuah kajian ilmiah dari Georgetown University Medical menemukan bahwa 6,6 juta orang di Amerika Serikat dapat terhindar dari kematian dini melalui penggunaan produk tembakau alternatif.
Pada International Conference on Interreligious Studies, Sciences, and Technology (ICONIST) 2023 yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, peneliti Fathudin Kalimas menggarisbawahi bentuk-bentuk penerapan pendekatan pengurangan dampak negatif, dan menggali potensi produk tembakau alternatif dalam menekan prevalensi merokok dan dampak terhadap lingkungan. Layaknya di negara-negara seperti Inggris, Jepang, dan Swedia, produk inovasi lebih rendah risiko tersebut semestinya didukung oleh kebijakan-kebijakan yang mendorong inovasi untuk mengurangi prevalensi merokok dan pencemaran lingkungan.
Pro dan kontra banyak terjadi seputar penggunaan rokok elektronik. Sebagian masyarakat menganggap rokok elektronik lebih sehat, dan sebagian lainnya mengganggap sama seperti rokok konvensional. Bagaimana sebenarnya emisi yang dihasilkan rokok elektronik? Benarkah berbeda dari rokok konvensional?
Macam macam polusi meliputi polusi udara, polusi air, polusi tanah, polusi suara, dan polusi cahaya. Semua jenis polusi ini disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti kendaraan bermotor, limbah industri, dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Dampak polusi mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup lain, serta kualitas hidup masyarakat. Beralih ke produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu upaya mengurangi risiko terpapar asap rokok di ruangan tertutup.
Tim peneliti divisi Penasihat Tembakau dari the Royal College of Physicians, Inggris melakukan tinjauan penelitian untuk memperbarui bukti ilmiah terkini terkait pendekatan pengurangan risiko dalam kebiasaan merokok yang berhubungan dengan penggunaan produk penghantar nikotin, terutama rokok elektronik.
Pada 2018 lalu, produk tembakau alternatif telah secara resmi diakui keabsahannya di Indonesia. Namun, legalisasi tersebut tidak serta-merta diiringi dengan sosialisasi mengenai hak konsumen, terutama vape atau rokok elektronik sebagai produk paling populer & umum dikonsumsi di Indonesia.
Asia-Pacific Conference on Smoking and Harm Reduction berlangsung di Universitas Padjadjaran (UNPAD) di Bandung, Indonesia. Forum ilmiah internasional ini membahas mengenai pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) yang dibahas melalui penelitian ilmiah, penerapan klinis, dan usulan untuk strategi kesehatan masyarakat yang lebih efektif.
Menjelang pertemuan negara-negara penandatanganan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Jenewa pada 17 November lalu, dua mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Derek Yach dan Prof. Tikki Pangestu, bersama ekonom Chris Snowdon dan pendiri Clearing the Air Peter Beckett, menyerukan evaluasi ulang arah kebijakan pengendalian tembakau global. Mengacu pada riset terbaru Yach, mereka menilai bahwa penerapan strategi tobacco harm reduction secara lebih luas berpotensi menyelamatkan lebih dari 100 juta jiwa hingga 2060, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah dengan prevalensi merokok yang tinggi.
Sejumlah pakar kesehatan sepakat keberadaan produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu solusi menekan tingginya tingkat konsumsi (prevalensi) merokok masyarakat dewasa di Indonesia. Hal ini telah terbukti di sejumlah negara lain yang sebelumnya mengalami situasi sama dengan Indonesia
Produk tembakau alternatif terus beredar di tengah masyarakat Indonesia. Dengan semakin maraknya jenis produk alternatif tembakau, pertanyaan dari publik pun bermunculan. Bagaimana status halal, haram, atau makruh dari produk ini? Perlukah ulama melahirkan fatwa?
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar) Ariyo Bimmo menekankan pentingnya kajian ilmiah berbasis riset sebagai landasan kebijakan guna mengurangi bahaya rokok. Hal ini, kata dia, sekaligus membantu pemerintah menjawab permasalahan tingginya prevalensi perokok yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo) Paido Siahaan mengutarakan manfaat produk tembakau alternatif (PTA) sebagai bentuk penerapan pengurangan bahaya tembakau. Pernyataan ini sejalan dengan kajian ilmiah Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial atau UK Health Security bertajuk “Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products” yang menunjukkan bahwa PTA memiliki profil risiko 90-95% lebih rendah ketimbang rokok yang dibakar. Akses terhadap informasi akurat mengenai PTA, penting untuk mendorong perokok dewasa agar beralih dari kebiasaan merokok.
Dukungan Pemerintah Jepang terhadap pemanfaatan produk tembakau alternatif terbukti berhasil mengurangi konsumsi rokok. Kebijakan tarif cukai produk tembakau alternatif yang lebih rendah dan memperbolehkan penggunaan produk tembakau alternatif di ruangan khusus turut mendorong keberhasilan pengurangan konsumsi rokok di Jepang. Hal ini ditunjukkan melalui penurunan penjualan rokok sebesar 52 persen.
Adiksi terhadap nikotin adalah faktor utama yang membuat perokok kesulitan untuk berhenti, meski mereka menyadari bahaya merokok. Sebagai solusi, penggunaan harm reduction strategy adalah alternatif yang paling efektif untuk dilakukan.
Praktisi Kesehatan, dr. Arifandi Sanjaya mengutarakan gejala umum putus nikotin umumnya dialami perokok dewasa yang belum siap berhenti total, meliputi sakit kepala, mual, sulit konsentrasi, susah tidur, bahkan merasa stres. Meskipun berhenti total merupakan cara terbaik untuk mengurangi bahaya merokok, hal ini harus menjadi perhatian.
Tentu kita sudah tidak asing dengan minyak goreng. Hampir semua aktivitas memasak, memerlukan minyak goreng agar makanan dapat disantap nikmat. Namun, tahukah Anda setiap minyak goreng memiliki smoking point atau titik pengasapan maksimal yang berbeda?
Polusi udara adalah salah satu pemicu risiko kesehatan yang paling dekat dengan kita. Mari simak beberapa cara mencegah polusi udara di sekitar rumah.
Menghiasi rumah dengan tanaman pot tidak hanya menambah keindahan interior, tetapi juga memberikan dampak baik bagi kebersihan udara sekitar. Pencemaran udara yang semakin membahayakan tubuh bisa ditanggulangi dengan menempatkan tanaman serap polusi. Tanaman apa saja yang cocok?
Melihat manfaat berhenti merokok pada wajah, tentu semakin banyak perokok yang ingin mencoba berhenti merokok. Namun memang tidak dapat dimungkiri bahwa berhenti merokok secara total seringkali sulit dilakukan. Beruntung, bagi perokok yang menemui kesulitan seperti itu saat ini bisa menengok pendekatan harm reduction (pengurangan bahaya).
Banyaknya mispersepsi di masyarakat soal kandungan berbahaya pada rokok, membuat Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) menilai penelitian lebih lanjut sangat diperlukan mengenai produk tembakau alternatif agar pembuat kebijakan, perokok, dan masyarakat mendapatkan edukasi yang sesuai.
Bahaya yang timbul dari kebiasaan merokok bagi kesehatan tidak perlu diragukan lagi. Risiko kesehatan dapat timbul dari kebiasaan ini, tak hanya bagi para perokok aktif, tetapi juga perokok pasif yang terpapar asapnya. Sebenarnya, apakah yang menyebabkan bahaya dari kebiasaan merokok?
Akses dan pemanfaatan produk tembakau alternatif telah terbukti menjadi strategi yang efektif dalam mengurangi prevalensi perokok jika dibandingkan dengan pendekatan pelarangan total. Hal ini disampaikan oleh pakar dari berbagai negara dalam acara Innovation Summit Southeast Asia di Asia School of Business, Kuala Lumpur, Malaysia.
Baca Lebih Lanjut Paparan Pakar dari Berbagai Negara
Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak perbandingan dari paparan produk tembakau dengan modifikasi risiko (dipanaskan bukan dibakar) dan rokok konvensional pada perilaku gerakan sel monosit antar sel endotel.
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mendukung lahirnya regulasi berbasis kajian ilmiah untuk produk tembakau alternatif guna melindungi konsumen sekaligus menurunkan prevalensi perokok di Indonesia. Regulasi berbasis kajian ilmiah itu akan melengkapi strategi pengurangan angka perokok yang sudah ada yakni kawasan bebas rokok, gambar peringatan kesehatan, larangan iklan, dan berbagai promosi kesehatan.
Nikotin sendiri adalah senyawa dalam golongan alkaloid yang bersifat stimulan. Sebagai stimulan, nikotin dapat meningkatkan mekanisme tubuh, terutama yang berkaitan dengan fungsi kewaspadaan dan pemrosesan isyarat, ketajaman memori, konsentrasi, dan perhatian dalam jangka pendek.
Proses pembakaran pada rokok menghasilkan senyawa kimia berbahaya, TAR. Hal ini berbeda dengan Produk tembakau alternatif yang tidak memiliki proses pembakaran, sehingga bebas dari TAR. Menurut hasil studi, produk tembakau alternatif memiliki risiko Kesehatan yang lebih rendah.
Pemerhati Kesehatan Publik, dr. Tri Budhi Baskara mengatakan, produk tembakau alternatif telah terbukti memiliki kandungan toksin yang lebih rendah sampai 95% dibandingkan rokok dan telah terbukti efektif menurunkan angka perokok di berbagai negara, contohnya Swedia dan Jepang.
Bagi perokok dewasa yang sudah lama mengonsumsi nikotin, upaya konvensional seperti imbauankesehatan dan kampanye bahaya rokok dinilai belum cukup kuat mengubah perilaku untuk mengurangi risiko. Pengurangan Bahaya Tembakau atau Tobacco Harm Reduction hadir sebagai pendekatan yang tidak hanya normatif, tetapi juga aplikatif dan berbasis bukti ilmiah.
Sebuah riset dari Public Health England menyimpulkan, rokok elektronik 95% lebih rendah risiko daripada rokok konvensional. Rokok elektronik tidak mengandung TAR dan karbon monoksida, yang merupakan zat paling berbahaya, yang dihasilkan dari pembakaran tembakau.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami zat-zat kimia yang terkandung dalam uap yang dihasilkan pada produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar (heat-not-burn) dengan membandingkannya dengan asap yang dihasilkan dari rokok yang dibakar.
Produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektronik menjadi produk tembakau alternatif yang paling populer. Pertanyaan pun mulai bermunculan, mana yang lebih efektif untuk membantu perokok aktif berhenti? Penelitian pada Global Nicotine Forum (GFN) 2019 pun dilakukan untuk mejawab pertanyaan ini.
Kehadiran rokok elektronik atau vape yang masih terhitung baru. Meskipun bebas TAR, rokok elektronik tetap mengandung nikotin yang yang bersifat adiktif. Selain itu, uap yang dihasilkan rokok elektronik pun tidak hanya memuat nikotin saja, sehingga risiko penggunaannya tetap ada dan kita perlu waspada.
Industri produk tembakau alternatif membutuhkan kajian ilmiah yang menyeluruh mengenai produk HPTL. Ketua KABAR Ariyo Bimmo mengatakan kajian ilmiah memiliki peran penting untuk kehadiran dan penerimaan produk HPTL di masyakarat.
Popularitas rokok elektronik semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Lalu apa efek rokok elektronik? Simak penjelasan berikut!
Nikotin merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat pada rokok dan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin.
Dengan terus bertumbuhnya sektor pariwisata Bali paska pandemi dan beragamnya kebiasaan wisatawan, Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) bersama pelaku pariwisata di Bali mengkaji manfaat pengurangan bahaya tembakau untuk mengatasi permasalahan merokok dan mendukung pariwisata Bali yang nyaman dan tetap ramah wisatawan.
Dengan dikeluarkannya izin edar produk tembakau alternatif di Amerika Serikat, FDA bagai BPOM-nya AS, tentu sudah melakukan kajian mendalam terhadap produk tembakau alternatif, termasuk risikonya. Hal ini diharapkan menjadi acuan negara-negara lain untuk menyusun regulasi bagi produk tembakau alternatif.
Beragam persepsi muncul mengenai produk tembakau alternatif. Sebagian masyarakat percaya produk tembakau alternatif lebih aman, sedangkan sebagian lainnya beranggapan risikonya sama dengan rokok konvensional. Bagaimana perbedaan persepsi tersebut? Simak hasil survei KABAR berikut.
Pemerhati Kesehatan Masyarakat dr. Tri Budhi Baskara menegaskan bahwa bahaya utama rokok berasal dari proses pembakaran yang menghasilkan TAR dan karbon monoksida, bukan dari nikotin.
Pertumbuhan pariwisata Bali pada 2025 mendorong kebutuhan akan pengalaman wisata yang lebih nyaman dan bebas asap rokok. Dalam SAPA Bali 2025 yang digelar Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), para pembicara menyoroti pentingnya pendekatan pengurangan bahaya (harm reduction) bagi perokok dewasa melalui informasi ilmiah tentang produk tembakau alternatif yang memiliki potensi risiko lebih rendah.
Universitas Padjadjaran dan Universitas Catania, meluncurkan Pusat Kajian Pengurangan Bahaya. Guru Besar Ilmu Kedokteran Spesialis Penyakit Dalam Universitas Catania, Italia, Prof Riccardo Polosa menjelaskan, kerja sama ini sudah terjalin lebih dari 5 tahun. Salah satu kajian tersebut adalah pengurangan bahaya rokok.
Banyak orang yang sering merokok ketika sudah selesai makan. Namun ternyata ada berbagai bahaya merokok setelah makan yang harus dihindari.
Penelitian ini melakukan pengujian untuk membandingkan kandungan senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) yang dihasilkan dari lima aktivitas memasak yang berbeda di Cina.
Nikotin akan menyebabkan efek kecanduan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Namun, Nikotin tidak memicu berbagai penyakit yang biasa disebutkan pada kemasan rokok. Tidak hanya dalam produk tembakau, nikotin juga terkandung dalam sayuran, seperti kembang kol, kentang, terong, dan tomat.
Kementerian Kesehatan Selandia Baru merilis rekomendasi peraturan terkait produk tembakau alternatif untuk mendukung perokok dewasa beralih ke produk tembakau yang memiliki risiko kesehatan lebih rendah.
Profesor Riccardo Polosa menekankan perlunya pendekatan inovatif dalam kebijakan pengendalian tembakau, menekankan pentingnya prinsip kesehatan dan penghormatan hak asasi manusia. Pendekatan yang efektif seperti mendukung pengakuan terhadap produk tembakau alternatif rendah risiko sebagai bentuk pengurangan bahaya tembakau perlu diterapkan, berkaca dari negara-negara yang telah berhasil menekan angka merokok seperti Swedia, Norwegia, Inggris, Islandia, dan Jepang. David Sweanor, Ketua Dewan Penasihat Hukum, Kebijakan, dan Etika Kesehatan di Universitas Ottawa juga menyayangkan penolakan WHO dalam mengakui strategi dan pendekatan pengurangan bahaya tembakau yang telah berhasil diterapkan di berbagai negara melalui penggunaan produk tembakau alternatif.