Emisi Polusi Udara dari Pembakaran Dupa dan Lilin
Penelitian ini melakukan eksperimen dalam ruang tertutup untuk melihat senyawa volatile organic compounds (VOCs) dan konsentrasi partikel di dalam ruangan setelah pembakaran dupa dan lilin.
Penelitian ini melakukan eksperimen dalam ruang tertutup untuk melihat senyawa volatile organic compounds (VOCs) dan konsentrasi partikel di dalam ruangan setelah pembakaran dupa dan lilin.
Polusi merupakan masuknya zat atau energi berbahaya ke lingkungan yang dapat merusak keseimbangan alam dan membahayakan kesehatan manusia. Polusi dapat terjadi pada udara, air, tanah, suara, dan cahaya, dengan sumber utama berasal dari aktivitas manusia seperti kendaraan bermotor, industri, limbah rumah tangga, serta pembakaran bahan bakar fosil.
Di Indonesia, polusi udara menjadi isu utama karena tingginya emisi kendaraan dan aktivitas industri, yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat. Selain di luar ruangan, polusi juga dapat terjadi di dalam ruangan melalui asap rokok, kompor, dan bahan kimia rumah tangga.
Dampak polusi meliputi gangguan pernapasan, penyakit jantung, kerusakan organ, perubahan iklim, hingga penurunan keanekaragaman hayati. Untuk mengurangi dampaknya, diperlukan upaya bersama melalui pengelolaan limbah yang lebih baik, pengurangan emisi, penggunaan teknologi rendah polusi, serta peningkatan kesadaran masyarakat.
Dengan langkah sederhana dan dukungan kebijakan pemerintah, pengurangan paparan polusi dapat dilakukan demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang.
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo meminta pemerintah mengeluarkan regulasi yang berbeda bagi produk tembakau, seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin. Keberadaan regulasi yang berbeda bagi produk tembakau alternatif dan rokok dipercaya dapat melindungi masyarakat dan memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha.
Cold turkey adalah metode berhenti merokok secara langsung atau seketika. Cara ini dipercaya efektif, namun sebagian besar orang yang mencoba metode ini mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh reseptor nikotin pada otak yg bekerja secara aktif ‘menagih’ nikotin secara terus menerus.
Banyak orang yang sering merokok ketika sudah selesai makan. Namun ternyata ada berbagai bahaya merokok setelah makan yang harus dihindari.
Polusi udara dapat kita temukan di mana saja, termasuk di rumah. Penyebabnya pun bermacam-macam, mulai dari asap pembakaran sampah, asap dapur di rumah, hingga debu yang masuk dan menempel di perabotan rumah. Lalu, bagaimana car akita mengurangi polusi udara di rumah?
Praktisi Kesehatan, dr. Arifandi Sanjaya mengutarakan gejala umum putus nikotin umumnya dialami perokok dewasa yang belum siap berhenti total, meliputi sakit kepala, mual, sulit konsentrasi, susah tidur, bahkan merasa stres. Meskipun berhenti total merupakan cara terbaik untuk mengurangi bahaya merokok, hal ini harus menjadi perhatian.
Menurut laporan Global World Health Organization (WHO), 91% penduduk bumi hidup di tempat dengan udara berkualitas rendah yang tidak sesuai standar kelayakan WHO. Lantas, apakah polusi udara lebih berbahaya dari asap rokok?
Penelitian yang didanai oleh German Federal Institute for Risk Assessment (BfR), sebuah divisi dalam Departemen Bahan Kimia dan Keamaan Produk dari Jerman ini bertujuan untuk melakukan uji toksikologi dari emisi produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar yang ada di pasaran.
Polusi udara adalah salah satu pemicu risiko kesehatan yang paling dekat dengan kita. Mari simak beberapa cara mencegah polusi udara di sekitar rumah.
Prof. Tikki Pangestu, mantan Direktur Riset Kebijakan Penelitian & Kerja Sama WHO, menyoroti lambatnya penerapan strategi pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) di Indonesia. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa produk tembakau yang tidak melalui proses pembakaran berpotensi membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok, sehingga menurunkan risiko penyakit terkait tembakau. Menurutnya, inovasi ini belum dimanfaatkan secara optimal, antara lain karena lima hal utama: sikap WHO yang belum mendukung pendekatan ini, perbedaan regulasi antarnegara, maraknya misinformasi tentang produk alternatif, rendahnya kepercayaan publik terhadap inovasi dari industri, serta fokus perdebatan yang lebih menitikberatkan pada risiko bagi anak-anak dibanding membantu perokok dewasa. Pendekatan yang terlalu restriktif, menurut Prof. Tikki, justru berisiko mendorong pasar gelap seperti yang terjadi di Australia
Peneliti dari Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor University (IPB), Mohammad Khotib, menjelaskan nikotin secara alami terdapat pada tembakau, sedang TAR muncul akibat proses pembakaran tembakau.
Membakar satu obat nyamuk bakar menghasilkan particulate matter (PM) 2,5 yang banyaknya sama dengan menyalakan 75 batang rokok. Obat nyamuk bakar juga dapat menghasilkan zat formaldehida (formalin) dengan kandungan setara dengan 51 batang rokok.
Eksperimen yang dilakukan oleh tim peneliti dari Public Health England menemukan fakta menarik terkait perbedaan konsumsi rokok elektronik dan rokok konvensional. Seperti apa hasil eksperimennya? Simak infografik berikut.
Hasil kajian klinis yang dilakukan akademisi dari Fakultas Kesehatan Gigi Universitas Padjajaran, drg. Amaliya, M.Sc. Ph.D, bersama drg. Agus Susanto, Sp.Perio dan drg. Jimmy Gunawan, Sp.Perio membuktikan bahwa pengguna rokok elektronik yang telah berhenti merokok menunjukkan perbaikan kualitas gusi yang dibuktikan dengan tingkat peradangan dan pendarahan gusi yang sama seperti yang dialami oleh non-perokok.
Istilah “popcorn lung” kerap dikaitkan dengan rokok elektronik (khususnya vape). Tapi, apa benar vape bisa menyebabkan penyakit ini?
Faktanya, tidak.
Menurut Cancer Research Inggris, belum ada kasus terkonfirmasi popcorn lung pada pengguna vape.
Pemerintah diminta turut serta pada upaya mengurangi bahaya tembakau. Salah satunya dengan menyediakan informasi komprehensif dan berimbang mengenai manfaat dari produk-produk tembakau alternatif.
Produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektronik, memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok. Berdasarkan kajian ilmiah di Indonesia dan berbagai negara, pengaturan untuk produk tembakau alternatif seharusnya berbeda dari rokok.
Aktivis Pengurangan Bahaya Merokok dari Inggris yang merupakan panelis diskusi Global Forum Nicotine 2023 (GFN23) di Warsawa, Polandia, Clive Bates mengatakan, penelitian yang masif mengenai produk tembakau alternatif sangat diperlukan untuk keterbukaan informasi yang akurat, terutama mengenai profil risiko dari produk tersebut. Pada kesempatan berbeda, Peneliti dan Dosen Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Neily Zakiyah, juga sependapat penyebarluasan informasi tentang profil risiko dan manfaat dari produk tembakau alternatif sebaiknya berbasis fakta dan kajian ilmiah. Pasalnya, kajian bukti efektivitas rokok elektronik dapat membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok.
Artikel ini memberikan gambaran tentang HPTL dan struktur cukai yang dikenakan padanya. Cukai Hasil Tembakau (CHT) ini menjadi salah satu komponen penerimaan negara sehingga memiliki peran penting dan strategis. CHT turut dikenakan pada Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL), sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 198/PMK.010/2020 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.
Produk tembakau alternatif resmi mendapat izin untuk beredar bebas di Indonesia secara legal pada tahun 2018 lalu. Namun, banyak orang yang mempertanyakan regulasi tersebut. Kenapa produk tembakau alternatif harus memiliki regulasi yang berbeda? Apa bedanya dengan rokok konvensional?
Penelitian ini melakukan pengujian untuk membandingkan kandungan senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) yang dihasilkan dari lima aktivitas memasak yang berbeda di Cina.
Polusi udara atau pencemaran udara adalah istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan keadaan udara yang mengandung substansi fisik, kimia, atau biologi yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) bergerak aktif untuk mencari solusi atas masalah rokok di Indonesia. Salah satunya melalui KABAR Roadshow, sebuah kegiatan untuk mensosialisasikan mengenai konsep harm reduction atau pengurangan risiko dengan cara beralih pada produk tembakau alternatif.
Seperti TAR dan asap yang dihasilkan oleh rokok, pembakaran tidak sempurna dari sampah rumah tangga akan menghasilkan karbon monoksida serta berbagai senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) seperti benzopyrenes, zat-zat beracun yang bersifat karsinogenik dan mutagenik.
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar) Ariyo Bimmo menekankan pentingnya kajian ilmiah berbasis riset sebagai landasan kebijakan guna mengurangi bahaya rokok. Hal ini, kata dia, sekaligus membantu pemerintah menjawab permasalahan tingginya prevalensi perokok yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat seberapa efektif produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik, dan produk terapi pengganti nikotin, dalam membantu perokok untuk berhenti total dari kegiatan merokok. Seperti apa hasilnya? Mana yang lebih efektif? Simak infografik berikut.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Bambang Prasetya, menegaskan bahwa bahaya utama rokok berasal dari pembakaran yang menghasilkan TAR, bukan dari nikotin. Karena itu, menurutnya, produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik atau tembakau dipanaskan tidak seharusnya diperlakukan sama dengan rokok.
Produk tembakau alternatif telah diizinkan beredar secara legal di Indonesia. Produk tembakau alternatif ini mencakup rokok elektronik, tembakau kunyah, tembakau tempel, dan produk tembakau yang dipanaskan. Lalu, hal apa yang perlu konsumen pahami tentang produk tembakau alternatif ini?
Asap rokok dihasilkan dari proses pembakaran rokok dan menghasilkan lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk TAR yang bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker serta merupakan penyebab utama banyak penyakit berbahaya terkait kebiasaan merokok. Oleh karena itu, asap rokok memiliki profil risiko yang tinggi bagi para perokok. Mari kita bahas secara lebih lanjut mengenai dampak asap rokok terhadap kesehatan perokok dan cara untuk mengurangi risikonya di artikel ini.
TAR adalah komponen zat padat yang terbentuk dari pembakaran rokok. Sebanyak 250 bahan kimia yang terkandung di dalam TAR, termasuk karbon monoksida, amoniak, dan hidrogen sianida, adalah zat yang sangat berbahaya karena berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kanker.
Kebiasaan merokok saat berkendara menimbulkan berbagai risiko serius. Residu beracun dari asap rokok akan menempel di interior mobil, terutama di bagian jok, atap kabin, dan karpet. Bau rokok yang kuat dan sulit dihilangkan juga menciptakan bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan pengemudi maupun penumpang. Meski jendela dibuka atau sirkulasi AC diaktifkan, sistem sirkulasi udara mobil tidak cukup efektif untuk menghilangkan bahaya ini sepenuhnya. Aktivitas seperti ini bukan hanya mengganggu, tapi juga buruk bagi kesehatan orang lain di dalam kabin.
Rokok alternatif seperti vape atau produk tembakau alternatif lainnya, semakin marak digunakan oleh perokok dewasa. Di tengah maraknya konsumsi rokok alternatif, beragam pertanyaan pun muncul. Seberapa besar potensi rokok alternatif sebagai solusi meminimalisir efek buruk rokok?
Kajian ilmiah menunjukkan vape memiliki risiko jauh lebih rendah daripada rokok dan dapat membantu menurunkan prevalensi merokok, sebagaimana terlihat dalam contoh internasional seperti Inggris (Program Swap to Stop). Para pakar juga menekankan pentingnya sains sebagai dasar pembentukan regulasi di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penelitian terkait dampak kesehatan dari sistem penghantar nikotin elektronik atau rokok elektronik dan kaitannya dengan implikasi regulasi terkait produk tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Sahid Jakarta (USAHID), diperlukan strategi komunikasi yang berbeda tentang produk tembakau alternatif untuk mengurangi misinformasi, yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan masyarakat dan status sosial masyarakat. Dalam mengimplementasikan strategi komunikasi tersebut, perlu dibangun kolaborasi dengan melibatkan pemangku kepentingan (pentahelix), seperti pemerintah, pelaku usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
Lewat kampanye ini, pengguna produk tembakau alternatif dari berbagai negara di Asia ingin aspirasi mereka didengar oleh para pembuat kebijakan serta masyarakat umum. Aspirasi mereka salah satunya adalah menjadi bagian dari proses pembuatan kebijakan terkait produk tembakau alternatif.
Swedia tercatat sebagai salah satu negara dengan prevalensi perokok dewasa terendah di dunia, yakni di bawah lima persen. Hal ini memunculkan perhatian terhadap metode Tobacco Harm Reduction (THR) yang disebut-sebut turut berkontribusi dalam pencapaian tersebut.
Ketua Asosiasi Ritel Vape Indonesia (Arvindo), Fachmi Kurnia Firmansyah, berharap pemerintah memanfaatkan produk tembakau alternatif (PTA) untuk menurunkan angka perokok, mengacu pada kesuksesan negara lain. Data dari Laporan Office for National Statistic Inggris menunjukkan, penurunan jumlah perokok di negaranya (12,9% pada 2022 dibandingkan dengan 13,3% pada 2021) dan Swedia (5,16% pada 2022 dibandingkan dengan 11% pada 2015) berkat dukungan pemerintah terhadap PTA.
Vape sebagai salah satu produk tembakau alternatif mempunyai beberapa perbedaan dengan rokok. Perbedaan paling mencolok antara rokok dan vape adalah cara penggunaannya. Rokok dikonsumsi dengan dibakar dan menghasilkan asap, sedangkan penggunaan vape memanfaatkan proses pemanasan untuk menghantarkan nikotin sehingga menghasilkan uap, bukan asap.
Di Kanada, Setiap tahunnya, 45.000 penduduk Kanada meninggal karena merokok tembakau. Untuk mengubah kondisi ini, Kanada mencanangkan sebuah strategi empat langkah untuk mencapai target konsumsi tembakau sebesar kurang dari 5% pada tahun 2035.
Pada 2018 lalu, produk tembakau alternatif telah secara resmi diakui keabsahannya di Indonesia. Namun, legalisasi tersebut tidak serta-merta diiringi dengan sosialisasi mengenai hak konsumen, terutama vape atau rokok elektronik sebagai produk paling populer & umum dikonsumsi di Indonesia.
Akses dan pemanfaatan produk tembakau alternatif telah terbukti menjadi strategi yang efektif dalam mengurangi prevalensi perokok jika dibandingkan dengan pendekatan pelarangan total. Hal ini disampaikan oleh pakar dari berbagai negara dalam acara Innovation Summit Southeast Asia di Asia School of Business, Kuala Lumpur, Malaysia.
Baca Lebih Lanjut Paparan Pakar dari Berbagai Negara
Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak perbandingan dari paparan produk tembakau dengan modifikasi risiko (dipanaskan bukan dibakar) dan rokok konvensional pada perilaku gerakan sel monosit antar sel endotel.
Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) Prof Rahmana Emran Kartasasmita menjelaskan bahwa produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau dipanaskan dan kantong nikotin, secara komparatif dinilai memiliki profil risiko kesehatan lebih rendah daripada rokok. Hal ini merupakan hasil dari kajian literatur ilmiah dengan tajuk Kajian Risiko (Risk Assessment) Produk Tobacco Heated System. Berdasarkan Data dan Kajian Literatur bertujuan untuk menghitung perkiraan tingkat risiko produk tembakau yang dipanaskan. Lebih lanjutnya, Emran mengatakan bahwa hasil kajian SF-ITB tersebut selaras dengan kajian ilmiah yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kredibel di dunia, termasuk Public Health England dan UK Committee on Toxicology (COT), bagian dari Food Standards Agency.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar nikotin pada produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan dalam gas yang dihasilkan dari produk tersebut bila dibandingkan dengan rokok elektronik dan rokok konvensional.
Rokok elektronik merupakan salah satu tipe produk tembakau alternatif yang mulai meningkat popularitas dan penggunaannya di Indonesia. Meskipun begitu, kurangnya edukasi dan informasi membuat terjadinya mispersepsi di masyarakat. Bahkan, beragam mitos pun bermunculan seputar rokok elektronik.
Sekretaris Umum Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Garindra Kartasasmita mengatakan bahwa regulasi khusus produk tembakau alternatif dapat memperkuat eksistensi industri, meningkatkan kepercayaan baik dari konsumen maupun investor, serta memperluas penyerapan tenaga kerja.
Menyadari berbagai risiko kesehatan yang mungkin timbul dari kebiasaan merokok, banyak perokok yang sejatinya ingin berhenti. Namun, berhenti sepenuhnya seringkali sulit dilakukan. Produk tembakau alternatif seperti vape dapat menjadi salah satu solusi bagi Anda yang menemui kesulitan itu. Cari tahu lebih lanjut mengenai "Apa itu Vape" melalui artikel berikut ini!
Profesor Riccardo Polosa dari Universitas Catania, Italia, menjelaskan bahwa produk tembakau alternatif memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok, dan nikotin bukanlah zat yang menyebabkan kanker.