Asap Knalpot vs. Asap Rokok, Apa Dampaknya Bagi Paru-Parumu?
Penelitian Tobacco Control Unit dari Institut Kanker Nasional Italia menemukan bahwa asap rokok memiliki dampak Kesehatan yang lebih berbahaya terhadap paru-paru dibandingkan asap knalpot.
Penelitian Tobacco Control Unit dari Institut Kanker Nasional Italia menemukan bahwa asap rokok memiliki dampak Kesehatan yang lebih berbahaya terhadap paru-paru dibandingkan asap knalpot.
Kita tentunya sudah akrab dengan segala efek buruk rokok dan asap rokok terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Namun efek buruk rokok ternyata juga mengancam hewan peliharaan kita di rumah!
Asap rokok menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada manusia. Kamu bisa mempertimbangkan sejumlah upaya berikut agar anak, pasangan, orang tua, atau saudara yang bukan perokok di rumah terbebas dari risiko paparan asap rokok.
Bahaya utama rokok tidak berasal dari nikotin, tetapi dari proses pembakaran tembakau yang menghasilkan tar, seperti karbon monoksida, dan ribuan toksikan penyebab penyakit. Karena itu, hadirnya rokok elektronik pada 2003 menjadi inovasi penting: perangkat ini menghantarkan nikotin tanpa pembakaran, sehingga mengurangi paparan zat berbahaya secara signifikan.
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar) Ariyo Bimmo menekankan pentingnya kajian ilmiah berbasis riset sebagai landasan kebijakan guna mengurangi bahaya rokok. Hal ini, kata dia, sekaligus membantu pemerintah menjawab permasalahan tingginya prevalensi perokok yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB) telah melakukan kajian literatur ilmiah dengan tajuk Kajian Risiko (Risk Assessment) Produk Tobacco Heated System (THS) Berdasarkan Data dan Kajian Literatur. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok. Kajian tersebut juga menemukan bahwa perokok dewasa mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk beralih dari kebiasaannya merokok setelah menggunakan produk tembakau alternatif selama enam bulan, dibandingkan terapi pengganti nikotin.
Praktisi kesehatan, dr. Freddy Dinata, menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian ilmiah, konsep pengurangan bahaya (harm reduction) dengan beralih ke produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko, seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan, dapat menjadi langkah efektif bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti merokok secara langsung karena dapat mengurangi dampak negatif dan gejala putus zat seperti kecemasan dan craving.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Satria Aji Imawan menjelaskan, produk tembakau alternatif telah terbukti memiliki risiko yang jauh lebih rendah daripada rokok, karena tidak melalui proses pembakaran dalam penggunaannya.
Merokok sangat memengaruhi penampilan. Gigi kuning, rambut rontok, kulit kusam, dan kulit keriput adalah perubahan-perubahan fisik yang dirasakan oleh perokok aktif. Dengan hadirnya produk tembakau alternatif, apakah produk tersebut aman untuk penampilan? Beberapa studi pun dilakukan untuk menjawab ini.
Akses dan pemanfaatan produk tembakau alternatif telah terbukti menjadi strategi yang efektif dalam mengurangi prevalensi perokok jika dibandingkan dengan pendekatan pelarangan total. Hal ini disampaikan oleh pakar dari berbagai negara dalam acara Innovation Summit Southeast Asia di Asia School of Business, Kuala Lumpur, Malaysia.
Baca Lebih Lanjut Paparan Pakar dari Berbagai Negara
Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) mendorong pemerintah untuk lebih terbuka dalam menyikapi diskusi dan penelitian bersama terkait risiko produk vape dan tembakau alternatif.
Konsumsi rokok dan risiko yang ditimbulkannya telah menjadi isu penting. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi bahaya yang diakibatkan oleh rokok memerlukan solusi yang holistik tanpa mengabaikan hak dasar manusia. Merokok merupakan salah satu aktivitas berbahaya yang dilakukan oleh manusia. Untuk mengurangi dampaknya, maka diperlukan solusi yang holistik dan pendekatan yang beragam.
Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) mendorong Badan Narkotika Nasional (BNN) dan pelaku usaha di industri rokok elektronik untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Kerja sama ini diyakini akan mempersempit celah oknum yang memanfaatkan cairan rokok elektronik untuk mengedarkan narkoba.
TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat menyebakan kanker yang dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk rokok. Sedangkan nikotin, adalah senyawa kimia organik yang dihasilkan alami oleh berbagai macam tumbuhan, seperti terung-terungan, tomat, dan tembakau.
World Health Organization (WHO) telah memasukkan polusi udara ke dalam daftar tantangan kesehatan global. Keputusan ini diambil oleh WHO karena mereka menemukan bahwa setiap harinya, sembilan dari sepuluh penduduk bumi menghirup udara yang tercemar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar nikotin pada produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan dalam gas yang dihasilkan dari produk tersebut bila dibandingkan dengan rokok elektronik dan rokok konvensional.
Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), gabungan organisasi dan profesi kesehatan yang berkomitmen untuk memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran publik mengenai masalah kesehatan, mendukung pencegahan akses pada anak di bawah usia 18 tahun terhadap penggunaan produk tembakau. Berdasarkan data, perokok di bawah umur meningkat 7,2% dari 2013 – 2018.
Ketua Umum Asosiasi Vaporizer Bali (AVB) I Gde Agus Mahartika mengatakan, masyarakat, khususnya perokok dewasa, harus diberikan sosialisasi terkait profil risiko dan pemanfaatan produk tembakau alternatif. Alasannya, produk ini kerap diinformasikan sama berbahayanya dengan rokok. Padahal, secara kajian ilmiah, produk ini memiliki profil risiko yang lebih rendah ketimbang rokok. Sejumlah penelitian ini sudah dilakukan baik di Indonesia maupun mancanegara. Asosiasi pelaku usaha berharap pemerintah dapat mendukung penelitian lebih lanjut agar perokok dewasa dapat memanfaatkan produk tembakau alternatif secara lebih maksimal.
Sendirian di rumah hanya ditemani binatang peliharaan, apakah menjadikan rumah tempat aman untuk merokok?
Ketua Asosiasi Retail Vape Indonesia (Arvindo), Fachmi Kurnia, mendesak pemerintah untuk meninjau kembali aturan kemasan polos rokok yang menyamakan semua merek. Menurutnya, kebijakan ini dapat menghambat peralihan konsumen ke produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko dan mendorong maraknya produk illegal karena tidak adanya diferensiasi visual dan identitas dagang.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahunnya sekitar 6,5 juta kematian terjadi karena polusi udara. Untuk melindungi diri dari polusi udara, masker dipercaya oleh banyak orang Ketika beraktivitas di luar. Namun, apakah penggunaan masker sudah cukup efektif?
Asosiasi pelaku usaha produk tembakau alternatif menolak sejumlah pasal terkait tembakau dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 karena akan mematikan industri yang tergolong baru dan didominasi oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Produk Tembakau Alternatif dipandang sebagai alternatif untuk mengatasi ketergantungan merokok di samping layanan konseling dengan dokter. Simak pendapat Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, dr. Tribowo Tuahta Ginting, Sp.KJ(K) berikut.
Produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, kantong nikotin dan rokok elektronik, terbukti memiliki profil risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok. Dokter Spesialis Paru dr. Yahya Sp.P, mengungkapkan produk tembakau alternatif hanya berisi uap air dan beberapa essens, dan tidak menyebabkan orang sekitarnya menjadi perokok pasif.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya kandungan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), senyawa kimia yang dikenal sebagai karsinogen yang kuat, pada cara memasak ayam yang berbeda-beda, yaitu merebus, menggoreng, membakar, dan memanggang.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatakan bahwa nikotin yang secara alami ditemukan di tanaman tembakau menjadi penyebab terjadinya ketergantungan terhadap rokok. Tetapi nikotin ternyata lebih dari sekadar itu. Temukan fakta selengkapnya tentang nikotin!
Sekretaris Aliansi Vaper Indonesia (AVI), Wiratna Eko Indra Putra, menyatakan bahwa kebijakan kemasan polos dalam Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pengamanan Produk Tembakau dan Rokok Elektronik perlu dikaji ulang karena mengurangi kemampuan konsumen untuk mendapatkan informasi produk. Menurutnya, kebijakan ini melanggar hak-hak konsumen rokok elektronik terkait akses terhadap keamanan dan informasi yang jelas, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Ketua Aliansi Vaper Indonesia (AVI), Johan Sumantri menjelaskan bahwa produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, terbukti secara kajian ilmiah memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok hingga 95 persen. Namun, informasi mengenai riset tersebut belum tersebar secara masif dan komprehensif bagi konsumen, khususnya di Indonesia. Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, mendukung agar akademisi bersama pemerintah segera menggalakkan kajian ilmiah terhadap produk tembakau alternatif.
Dokter Ahli Bedah Rumah Sakit Panti Rapih, Jeffrey Ariesta Putra, mengusulkan pendekatan pengurangan bahaya melalui produk tembakau alternatif (PTA) sebagai solusi bagi perokok dewasa yang sulit berhenti merokok. Ia menyoroti sulitnya berhenti merokok langsung karena faktor gejala putus nikotin yang berpotensi memicu kembali ke kebiasaan merokok. Maka dari itu, diperlukan akses informasi terhadap PTA dan adopsi peraturan pemerintah terkait pendekatan pengurangan bahaya tembakau ini, selain edukasi di masyarakat.
Ahli Toksikologi dan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Shoim Hidayat memaparkan bahwa produk tembakau alternatif yang merupakan hasil dari inovasi dan pengembangan teknologi tersebut memiliki perbedaan signifikan terkait dengan senyawa kimia berbahaya karena metode penghantaran nikotinnya yang berbeda dari rokok. Akibatnya, produk tembakau alternatif yang merupakan hasil dari inovasi dan pengembangan teknologi mampu kurangi paparan risiko hingga 90-95% lebih rendah dibandingkan rokok.
Produk Tembakau Alternatif (PTA) dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka prevalensi merokok di Indonesia, karena potensi risiko yang lebih rendah daripada rokok konvensional. Namun, bagaimana tanggapan masyarakat & Langkah pemerintah terkait PTA ini?
Head of Medical Community Alodokter, Alni Magdalena menjelaskan bahwa bagi perokok yang kesulitan untuk berhenti, konsep pengurangan risiko melalui penggunaan produk tembakau alternatif dapat menjadi solusi, setidaknya untuk mengurangi paparan TAR.
Akademisi dan asosiasi konsumen produk tembakau alternatif menanggapi tudingan yang beredar bahwa produk inovasi tersebut berkontribusi besar terhadap masalah lingkungan.
Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) mendorong dilakukannya penelitian terhadap produk tembakau alternatif di Tanah Air. Hasil penelitian tersebut dapat menjadi sumber informasi komprehensif di tengah masifnya disinformasi yang disampaikan kelompok anti tembakau.
Pada 2018 lalu, produk tembakau alternatif telah secara resmi diakui keabsahannya di Indonesia. Namun, legalisasi tersebut tidak serta-merta diiringi dengan sosialisasi mengenai hak konsumen, terutama vape atau rokok elektronik sebagai produk paling populer & umum dikonsumsi di Indonesia.
Berhenti merokok adalah langkah penting untuk melindungi tubuh dari risiko penyakit seperti jantung, kanker paru, dan stroke. Prosesnya bisa dilakukan secara total (cold turkey) atau bertahap, tergantung tingkat kecanduan nikotin.
Kunci utamanya adalah tekad kuat, rencana jelas, dan menghindari pemicu kebiasaan seperti stres atau kopi. Gaya hidup sehat makan bergizi, olahraga, dan tidur cukup membantu tubuh pulih dari efek nikotin.
Bagi yang kesulitan berhenti total, pendekatan harm reduction seperti beralih ke vape atau heated tobacco products (HTP) bisa menjadi pilihan untuk mengurangi paparan asap rokok.
Dengan dukungan keluarga, teman, dan tenaga profesional, peluang untuk benar-benar berhenti merokok akan jauh lebih besar.
Pemerintah diharapkan untuk bersikap terbuka terhadap hasil kajian ilmiah dari produk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL), seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan snus. Dengan begitu, pemerintah dapat menyampaikan informasi yang akurat kepada publik mengenai produk yang merupakan hasil dari pengembangan inovasi dan teknologi ini.
Strategi pengurangan bahaya tembakau dinilai mampu melengkapi kebijakan pengendalian rokok nasional dengan memberikan alternatif yang lebih rendah risiko bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti sepenuhnya. Laporan Lives Saved bahkan memperkirakan lebih dari 600 ribu nyawa dapat diselamatkan hingga 2060 jika strategi pengurangan bahaya tembakau diterapkan optimal di negara-negara berkembang.
Sebagai produk tembakau alternatif, rokok elektronik atau vape dan produk tembakau yang dipanaskan merupakan bagian dari tobacco harm reduction yang dapat membantu perokok untuk beralih dari rokok dan mengurangi tingkat risiko kesehatan pada diri sendiri dan orang-orang sekitar.
Penelitian ini melakukan eksperimen dalam ruang tertutup untuk melihat senyawa volatile organic compounds (VOCs) dan konsentrasi partikel di dalam ruangan setelah pembakaran dupa dan lilin.
Peneliti dari Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor University (IPB), Mohammad Khotib, menjelaskan nikotin secara alami terdapat pada tembakau, sedang TAR muncul akibat proses pembakaran tembakau.
Edukasi mengenai produk tembakau alternatif dinilai penting untuk membantu perokok dewasa berhenti merokok. Sekretaris Aliansi Vaper Indonesia, Wiratna Eko Indra Putra, menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor agar informasi yang disampaikan bersifat seimbang dan berbasis bukti. Ia menyoroti misinformasi yang menyamakan risiko produk alternatif dengan rokok konvensional, padahal kajian dari Cochrane Library yang dipublikasikan pada 29 Januari 2025—melibatkan 29.044 perokok dewasa dalam 90 studi ilmiah—menunjukkan bahwa produk seperti rokok elektronik memiliki risiko yang jauh lebih rendah dan efektif sebagai alat bantu berhenti merokok.
Dunia kesehatan tengah melalui masa transisi penting berkat semakin dikenalnya produk tembakau alternatif seperti produk rokok elektronik atau vape, nikotin tempel, snus, serta produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar. Lalu, apakah produk-produk tersebut sudah sepenuhnya dimengerti masyarakat?
American Cancer Society (ACS) membuat pernyataan publik resmi mengenai penghapusan penggunaan tembakau yang dibakar. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa tembakau yang dibakar memiliki risiko kesehatan tinggi dan salah satu faktor penyebab utama penyakit tidak menular di Amerika Serikat.
Ariyo Bimmo, Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), menekankan, pentingnya bagi perokok dewasa untuk mendapatkan akses informasi yang akurat dan netral mengenai produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektronik, dan snus/kantong nikotin. Informasi keliru yang beredar di publik berpotensi menghambat para perokok dewasa untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko ini.
Penelitian ini menjelaskan tentang definisi dari Third-hand Smoke (THS), paparan THS, dan analisis tentang unsur pokok, proses serapan, dan pelepasan molekul di dalam ruang, transformasi yang terjadi, distribusi, dan jangka waktu menempelnya THS di lingkungan tempat tinggal.
Setiap isapan asap rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya. Sayangnya, asap rokok tidak hanya dapat terhirup oleh perokok, namun juga oleh orang-orang di sekitarnya. Berikut ini daftar sejumlah zat berbahaya yang terkandung dalam asap rokok:
TAR merupakan zat beracun yang terbentuk dari pembakaran, bersifat lengket dan bisa menempel pada paru-paru, sedangkan nikotin memiliki karakteristik efek adiktif dan psikoaktif yang memberikan efek kecanduan yang dapat ditemukan di sayuran seperti terung, tomat, dan kafein.
Produk tembakau alternatif bahayanya berkurang karena tidak melalui proses pembakaran, melainkan pemanasan, sehingga menghasilkan uap bukan asap. Dengan demikian, produk tersebut tidak menghasilkan TAR dan berbagai zat kimia berbahaya bagi tubuh manusia.
Industri produk tembakau alternatif membutuhkan kajian ilmiah yang menyeluruh mengenai produk HPTL. Ketua KABAR Ariyo Bimmo mengatakan kajian ilmiah memiliki peran penting untuk kehadiran dan penerimaan produk HPTL di masyakarat.