Left arrow Kembali

Mantan Direktur WHO Dorong Penggunaan Produk Tembakau Alternatif untuk Tekan Prevalensi Merokok

Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tikki Pangestu mendorong Indonesia untuk mengambil pelajaran dari keberhasilan Swedia dan Norwegia dalam menekan angka prevalensi merokok yang tinggi yakni 69.1 juta Perokok. Melalui pemaksimalan penggunaan produk-produk tembakau alternatif seperti kantong nikotin, rokok elektrik, dan tembakau yang dipanaskan, Swedia berhasil menurunkan prevalensi merokok di negaranya dari 11% menjadi 5.16% pada tahun 2015, sementara Norwegia berhasil menurunkan dari 44% menjadi 16.20% dalam kurun 20 tahun dari tahun 2000.

Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tikki Pangestu, menjelaskan prevalensi perokok di Indonesia sudah tinggi.

Namun, pemerintah belum juga memberikan dukungan kuat terhadap pemanfaatan produk tembakau alternatif.

Dengan memaksimalkan produk tembakau alternatif seperti yang dilakukan Swedia dan Norwegia, Tikki menilai Indonesia berpeluang besar untuk menurunkan angka perokoknya.

“Saya sangat terkesan dengan apa yang terjadi di Swedia dan Norwegia. Saya berharap hal itu bisa terjadi di Indonesia,” ucap Tikki (20/11/2023).

Hal tersebut diungkapkan oleh Tikki pafa forum diskusi dengan tema “From Smoke to Smokeless: Exploring THR Strategies from Across the Globe”.

Swedia dan Norwegia mampu menurunkan prevalensi perokok melalui pemanfaatan produk tembakau alternatif, seperti kantong nikotin, rokok elektronik, dan produk tembakau yang dipanaskan, diharapkan dapat ditiru oleh Indonesia.

Saat ini, prevalensi perokok di Indonesia saat ini sudah menembus 69,1 juta jiwa.

Pada November 2022 lalu, Pemerintah Swedia telah mengonfirmasi tingkat perokok di negaranya turun menjadi 5,16 persen dari sebelumnya 11 persen pada 2015.

Adapun berdasarkan data macrotrends.net, Norwegia berhasil menurunkan prevalensi merokok secara signifikan. Pada tahun 2000, prevalensi perokok di Norwegia sebesar 44 persen.

Dalam 20 tahun kemudian, prevalensi merokok di negara ini menjadi 16,20 persen.

Tikki mengatakan, Pemerintah Indonesia disarankan untuk menghapus berbagai hambatan seperti masalah ekonomi politik, sosial budaya, dan kebijakan agar potensi dari produk tembakau alternatif dapat dimaksimalkan lebih lanjut.

Dalam kesempatan yang sama, peneliti senior di Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia, Karl Erik Lund, menambahkan Norwegia dan Swedia memiliki posisi yang unik dalam menilai risiko kesehatan masyarakat.

Kedua negara memberikan akses bagi produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin (snus) untuk bersaing dengan rokok di pasar.

Produk tembakau alternatif yang popular digunakan di Nowegia dan Swedia adalah snus.

Snus, kata Karl, memang tidak sepenuhnya bebas risiko kesehatan. Namun, produk ini menawarkan pengurangan risiko kesehatan jika dibandingkan terus merokok.

“Snus menjadi metode paling populer untuk berhenti merokok. Sebagian besar pengguna snus kini sudah menjadi mantan perokok,” ucap Karl.

Dengan strategi pengurangan bahaya tembakau yang diterapkan ini, prevalensi merokok di negara-negara Skandinavia tersebut mengalami penurunan.

https://www.tribunnews.com/internasional/2023/11/21/mantan-direktur-who-nilai-indonesia-bisa-ikuti-swedia-norwegia-untuk-turunkan-prevalensi-perokok