Left arrow Kembali

Mengenal Konsep Harm Reduction dalam Strategi Pemulihan Ketergantungan

05 Januari 2010

Penanganan masalah ketergantungan atau adiksi di masyarakat hingga kini masih menghadapi tantangan mendasar, khususnya dalam memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi serta tingkat kesiapan setiap individu untuk pulih.

Penanganan masalah ketergantungan atau adiksi di masyarakat hingga kini masih menghadapi tantangan mendasar, khususnya dalam memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi serta tingkat kesiapan setiap individu untuk pulih.

Salah satu hambatan utama adalah dominasi pendekatan yang menjadikan abstinensi atau penghentian total sebagai satu-satunya indikator keberhasilan pemulihan.

Padahal, proses pemulihan adiksi tidak selalu berjalan linear.

Berbagai faktor seperti ketergantungan fisik, gejala putus zat, kondisi psikologis, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga faktor lingkungan sering kali menjadi kendala.

Menjadikan penghentian total sebagai satu-satunya tolok ukur berisiko membuat individu yang belum berhasil berhenti kehilangan motivasi atau berhenti mengupayakan pemulihan.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSU Jati Husada Karanganyar, dr. Zulhilmi Bramantyo Mardiawan, Sp.KJ, menyatakan bahwa kondisi lapangan menuntut tersedianya pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan masing-masing individu.

"Dalam praktik klinis, tidak semua individu berada pada tahap pemulihan yang sama. Oleh karena itu, harm reduction dapat menjadi salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan. Pendekatan ini berfokus pada pengurangan dampak negatif secara fisik, sosial, maupun ekonomi, terutama bagi individu yang belum mampu atau belum bersedia berhenti sepenuhnya," ujar dr. Zulhilmi dalam kongres internasional Asia-Pacific Society of Harm Reduction and Addiction (ASHRA) 2026 di Jakarta.

Menurutnya, setiap pencapaian individu dalam menurunkan risiko dan membaiknya kualitas hidup perlu dinilai sebagai kemajuan nyata dalam proses pemulihan, tanpa mengabaikan target jangka panjang.

Fokus utama layanan kesehatan adalah memastikan adanya perbaikan kondisi pasien dari waktu ke waktu.

Harm reduction sendiri tidak diposisikan untuk menggantikan prinsip abstinensi. Kedua pendekatan tersebut dapat saling melengkapi dalam strategi penanganan terpadu berdasarkan kondisi klinis dan tingkat risiko pasien.

Konsep pengurangan risiko pada dasarnya telah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan helm, sabuk pengaman, hingga pemakaian masker saat sakit.

Dalam konteks ketergantungan tembakau, konsep ini diterapkan melalui Tobacco Harm Reduction (THR).

Pendekatan ini ditujukan bagi perokok dewasa yang menghadapi hambatan klinis untuk berhenti—seperti adiksi nikotin yang kuat atau gangguan psikologis penyerta—maupun mereka yang belum bersedia berhenti total.

Baca Juga: Kesadaran Kesehatan Meningkat, Perokok Dewasa Beralih ke Produk Tembakau Alternatif

Salah satu opsi dalam THR adalah mendorong beralihnya perokok dewasa ke produk tembakau alternatif yang tidak melalui proses pembakaran.

Langkah ini didasarkan pada temuan ilmiah bahwa mayoritas zat berbahaya berasal dari asap hasil pembakaran tembakau. Dengan menghilangkan proses pembakaran, paparan zat berbahaya dapat dikurangi.

Meski demikian, harm reduction bukan bentuk pembiaran terhadap perilaku berisiko.

Pendekatan ini justru menetapkan sasaran yang terukur dan realistis untuk memperbaiki kualitas kesehatan secara bertahap. Selain pada ketergantungan zat, prinsip ini juga dapat diterapkan pada ketergantungan perilaku, seperti kecanduan gim (online gaming).

Secara keseluruhan, penanganan adiksi dinilai memerlukan strategi berbasis bukti ilmiah, proporsional terhadap risiko, serta berorientasi pada kebutuhan individu guna mendukung pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih inklusif di wilayah Asia Pasifik.