Left arrow Kembali

Upaya Pengurangan Bahaya Tembakau Harus Berbasis Kajian Ilmiah

Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Badan Kesehatan Dunia (WHO), Prof. Tikki Pangestu berpendapat bahwa pengurangan bahaya tembakau perlu dilakukan melalui kajian ilmiah agar dapat mendukung penanggulangan masalah rokok. Berikut pendapat lengkapnya.

Pengurangan risiko tembakau (tobacco harm reduction) dinilai harus dilakukan melalui kajian ilmiah agar dapat mendukung penanggulangan masalah rokok, baik di Indonesia maupun secara global. "Kajian ilmiah menjadi langkah penting yang harus dilakukan sebagai dasar dalam mengurangi risiko tembakau," kata mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Badan Kesehatan Dunia (WHO), Prof Tikki Pangestu, dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Namun menurutnya, di sejumlah negara berpendapatan rendah dan menengah penerapan kajian berbasis ilmiah masih sulit dilakukan karena kekurangterbukaan pemangku kepentingan padahal jumlah perokok di negara-negara itu sangat tinggi. Untuk itu, disarankan agar para pemangku kepentingan bersikap terbuka serta mengedepankan komunikasi untuk mengetahui fakta yang sesungguhnya mengenai konsep tersebut. “Diperlukan dialog objektif yang lebih terbuka semua pihak berdasarkan bukti dan kajian-ilmiah,” tegas Tikki.

Berdasarkan sejumlah kajian ilmiah, baik di dalam dan luar negeri, produk tembakau alternatif memiliki risiko yang jauh lebih rendah dari pada rokok hingga 90 persen - 95 persen. Melalui fakta tersebut, sejumlah negara maju, seperti Inggris, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Kanada mendukung penggunaan produk tembakau alternatif untuk menekan jumlah perokoknya.

Sementara itu, Peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Amaliya, mengatakan setuju dengan penerapan konsep pengurangan risiko tembakau untuk membantu mengatasi masalah rokok. “Dalam menanggulangi epidemi rokok ini ternyata tidak bisa hanya dengan dua opsi saja, berhenti atau mati. Untuk menanggulangi adiksi ini, sangat sulit untuk bisa langsung menghapuskan keperluan nikotinnya sampai nol,” ungkapnya. Saat ini, masih banyak informasi yang tidak akurat beredar di masyarakat mengenai produk tembakau alternatif. Karena itu, kajian ilmiah memiliki peran penting untuk meluruskan hal tersebut.

Kajian ilmiah lokal masih perlu digiatkan dan butuh dukungan dari pemerintah, bahkan lembaga-lembaga pemerintah juga diminta melakukan kajian independen mengenai produk tembakau alternatif. “Kajian ilmiah mengenai produk tembakau alternatif masih sangat terbatas di Indonesia saat ini. Jadi harus kita dorong agar semua pihak dapat melakukan dan mengedepankan kajian ilmiah ketika membahas produk tembakau alternatif,” ujar Amaliya.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu saat kegiatan virtual Global Forum on Nicotine (GFN), profesor di Departemen Kedokteran Komunitas dan Koordinator Penelitian Tagore Medical College and Hospital Chennai India, Sree Sucharita menjelaskan, resistensi terhadap konsep tersebut menjadi salah satu faktor penyebab masalah prevalensi perokok tidak kunjung terselesaikan. Sree Sucharita mengungkapkan, jumlah perokok di India saat ini sudah mencapai 300 juta. Penghalang untuk menerapkan konsep pengurangan risiko tembakau adalah kurangnya kemauan politik, selain itu juga masih sedikitnya informasi akurat yang diperoleh praktisi kesehatan mengenai konsep ini.

https://www.antaranews.com/berita/2344110/upaya-pengurangan-risiko-tembakau-harus-berbasis-kajian-ilmiah