23 February 2022

Hasil Riset, Rokok Elektrik Berhasil Mengurangi Bahaya TAR

Pada awalnya, sejarah rokok elektronik dimulai saat Herbert A. Gilbert asal Amerika Serikat membuat sebuah paten "a smokeless non-tobacco cigarette" pada tahun 1963. Setelah Herbert membuat paten mengenai rokok tanpa asap dan tembakau tersebut, sebuah perusahaan farmasi bernama Hon Lik di Tiongkok mulai membuat rokok elektronik secara modern pada tahun 2003.

Rokok elektrik buatan Perusahaan Farmasi Hon Lik ini kemudian dipatenkan pada tahun 2004 dan mulai melakukan distribusi ke seluruh dunia dengan berbagai merek dagang. Hingga akhirnya rokok elektronik atau yang lebih familiar dikenal sebagai vape ini mulai terkenal di Inggris pada tahun 2007.

Baca Juga: Dampak Buruk Asap Rokok pada Kecerdasan Intelektual Anak Anda!

Munculnya ide pembuatan produk rokok elektronik ini adalah untuk membantu para perokok aktif yang ingin berhenti merokok dan menghindari TAR yang muncul akibat tembakau yang dibakar. Pada penggunaannya, rokok elektrik tidak membakar tembakau, tapi memanaskannya dengan daya baterai.

Riset Mengenai Rokok Elektrik yang Berhasil Mengurangi Bahaya TAR dan Membantu Perokok untuk Berhenti Merokok

Committee on Toxicity of Chemicals in Food, Consumer Products juga telah melakukan pengujian terhadap penggunaan rokok elektrik. Profesor Harrison dari komite ini mengatakan bahaya terbesar dari rokok konvensional adalah pembakaran tembakau. Produk tembakau yang tidak dibakar seperti rokok elektrik, memiliki kandungan yang lebih rendah risiko bila dibandingkan dengan rokok konvensional.

“Kita telah mempelajarinya cukup lama, dan kita menemukan bahwa, secara garis besar, ada pengurangan penyebab kanker hingga 90-95% (pada penggunaan rokok elektronik). Sebagian hilang menyeluruh, sebagian berkurang hampir setengahnya,” ungkap Prof. Harrison.

Baca Juga: Kandungan Asap Rokok dan Risiko yang Ditimbulkan

Hal ini diamini dalam hasil penelitian Public Health England. Pada riset mengenai rokok elektrik tersebut disimpulkan rokok elektrik 95% lebih rendah risiko daripada rokok konvensional. Rokok elektrik tidak mengandung TAR dan karbon monoksida, yang merupakan zat paling berbahaya, yang dihasilkan dari pembakaran tembakau.

Riset mengenai rokok elektrik juga dilakukan oleh House of Commons Science and Technology Committee tahun 2017. Salah satu kesimpulannya, rokok elektrik juga dapat membantu seseorang berhenti merokok konvensional. Terdapat sekitar 2,9 juta orang di Inggris yang memakai rokok elektrik. Ada sekitar puluhan ribu orang berhasil berhenti merokok setiap tahunnya.

Memang hingga saat ini riset mengenai rokok elektrik masih sangat sedikit. Banyak yang berasumsi rokok elektrik memiliki bahaya dalam jangka panjang. Namun, karena rokok elektrik ini belum lama muncul, riset jangka panjang tentang rokok elektrik pun belum ada.

Untuk itu diharapkan pemerintah memberikan perhatian dan pengawasan yang lebih besar untuk rokok elektrik. Setiap tahunnya, harus ada tinjauan khusus terhadap perkembangan rokok elektrik. Pantauan hukum produksi dan distribusi rokok elektrik di Indonesia pun harus berjalan dengan baik.

Ulasan tentang rokok elektrik ini bisa dilihat lebih lengkap pada hasil penelitian yang dilakukan oleh House of Commons Science and Technology Committee tahun 2017. 

Simak terus informasi terkini tentang bahaya TAR dan asap rokok di social media kami, Koalisi Indonesia Bebas Tar ya.

Share