25 November 2021

Whatravel dan KABAR Sosialisasikan Konsep Pengurangan Risiko Kepada Traveler

Kegiatan mendaki atau trekking, belakangan ini menjadi pilihan dikalangan masyarakat sebagai alternatif wisata di masa pandemi.

Sejalan dengan hal tersebut, Komunitas Pegiat Mendaki Whatravel Trekking Community menggelar silaturahmi untuk mempopulerkan kegiatan trekking sebagai alternatif wisata di masa pandemi bersama Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR).

Dalam acara yang digelar secara virtual tersebut, M. Arif Rahman, founder Whatravel mengatakan bahwa benar, di masa pandemi ini terjadi perubahan tren wisata di kalangan masyarakat. Wisata seperti staycation, voluntourism, virtual tourism, road trip, dan wisata alam mulai menjadi pilihan para wisatawan.

“Wisata alam menjadi tren populer yang digemari masyarakat dalam kondisi new normal. Khususnya wisata alam yang berbasis petualangan seperti trekking, snorkeling, diving, hiking, dan sebagainya, karena wisata alam yang bersifat outdoor memberikan wisatawan keleluasaan lebih untuk menerapkan physical distancing.” Ujar Arif.

Wisata curug atau trekking menuju air terjun misalnya, memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selain lokasinya yang tidak begitu jauh dari Jakarta, biaya yang diperlukan pun relatif terjangkau. Dengan semakin banyaknya pilihan agen travel, masyarakat juga memiliki banyak opsi untuk memilih agen yang sesuai dengan kebutuhan.

Dalam acara silaturahmi ini, turut hadir Ketua Umum Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Ariyo Bimmo yang menyampaikan informasi seputar pengurangan risiko (harm reduction) yang kaitannya sangat erat dalam kegiatan trekking, maupun kegiatan sehari-hari.

“Pendekatan harm reduction dekat dengan kehidupan kita. Khususnya saat traveling, kita perlu mengurangi bahaya terhadap lingkungan, kualitas udara, dan kenyamanan orang di sekeliling kita,” ujarnya.

Salah satu contohnya adalah pengurangan bahaya terkait kebiasaan merokok. Rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar, akan menghasilkan asap yang mengandung TAR dan berisiko terhadap kesehatan, mencemari udara dan lingkungan, bahkan asapnya dapat mengganggu orang lain di sekitar traveler atau pendaki.

Sebagai alternatifnya, penggunaan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik, produk tembakau dipanaskan, bisa mengurangi bahaya mencemari lingkungan. Saat merokok, puntung rokok yang dibuang sembarangan bahkan dapat berisiko menimbulkan kebakaran.

Inovasi yang terus berkembang, berhasil mengembangkan produk tembakau alternatif yang secara riset ilmiah, terbukti memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok.

“Kenapa mengurangi risiko terhadap kesehatan, karena produk tembakau alternatif ini tidak dibakar. Misal, produk tembakau yang dipanaskan ini memanaskan tembakau, sehingga dapat mengurangi paparan zat bahaya hingga lebih dari 90% dibandingkan dengan rokok. Maka, produk ini dapat menjadi opsi bagi perokok yang ingin terus mendapatkan nikotin, tapi mau mengurangi bahaya bagi kesehatan dan lingkungan,” terang Bimmo.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa biarpun menyebabkan ketergantungan, tapi nikotin bukanlah penyebab utama penyakit terkait kebiasaan merokok.

Salah satu pembicara sekaligus anggota komunitas Milly Shafiq, juga turut mengamini penjelasan dari Ariyo Bimmo. Milly menyampaikan bahwa harm reduction lewat produk tembakau alternatif bisa mengurangi bahaya pada rokok.

Milly menyayangkan bahwa saat ini masih banyak wisatawan perokok yang tidak memperdulikan kenyamanan pengunjung lain pada saat mendaki atau trekking. Selain asapnya yang mengganggu, bara api juga bisa menyebabkan kebakaran hutan, dan puntung yang dibuang sembarangan bisa mencemari lingkungan.

“Wisata alam memang salah satu alternatif untuk menyegarkan pikiran, tapi jangan sampai kita mengabaikan risiko kesehatan yang mungkin muncul seperti contohnya paparan asap rokok. Pendekatan harm reduction dengan produk tembakau alternatif tentu bisa jadi salah satu solusi untuk mengurangi risiko khususnya ketika berwisata,” tutup Milly.

Share