Tobacco Harm Reduction, Strategi Mengurangi Bahaya Rokok | KoalisiIndonesiaBebasTar

02 June 2021

Tobacco Harm Reduction, Strategi Mengurangi Bahaya Rokok

Bermula sejak abad ke-16, sampai saat ini ratusan tahun kemudian, merokok masih menjadi perilaku yang banyak ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia. Angka perokok di Indonesia cenderung stabil, bahkan kerap kali meningkat, dari tahun ke tahun.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan persentase perokok aktif dengan jumlah yang tinggi di dunia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018 menemukan 33,8 persen penduduk Indonesia di atas 15 tahun adalah perokok aktif. Riset yang sama mendapati prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun mencapai 9,1 persen, naik dari 8,8 persen pada 2016. Perokok di Indonesia didominasi oleh laki-laki dewasa, yakni sebanyak 62,9 persen.

Bahaya merokok ditimbulkan dari berbagai kandungan yang terdapat di dalam asap rokok. National Cancer Institute (NCI) menyatakan, asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Sebagian besar ditemukan di dalam tar atau tobacco residue, sebagai hasil pembakaran rokok. Sebanyak 250 bahan kimia yang terkandung di dalam tar, termasuk karbon monoksida, amoniak, dan hidrogen sianida, adalah zat yang sangat berbahaya. Setidaknya 70 di antaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Selain mengancam perokok aktif, zat-zat berbahaya tersebut juga mengancam orang lain yang terpapar atau biasa disebut perokok pasif.

Melihat berbagai permasalahan yang mungkin timbul dari perilaku merokok, tentu diperlukan komitmen untuk mengatasi persoalan ini. Menurut riset Harm Reduction Journal, setidaknya ada dua pendekatan untuk menanggulangi masalah bahaya merokok. Pertama, mengkampanyekan bahaya merokok supaya perokok berhenti sepenuhnya. Sebagai bagian dari pendekatan ini, pelaku industri rokok juga harus dilibatkan. Mereka wajib mencantumkan narasi dan gambar peringatan bahaya merokok.

Pendekatan kedua yaitu pengurangan risiko (harm reduction). Dalam kesehatan publik, konsep pengurangan risiko merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengurangi risiko kesehatan dan sosial yang terkait dengan kebiasaan atau penggunaan zat tertentu dengan memberikan alternatif lebih baik yang dapat menjadi pilihan

Pendiri dan Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, Achmad Syawqie, menjelaskan konsep pengurangan risiko sudah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti sabuk pengaman, airbag, helm, dan garam rafinasi. Dalam hal permasalahan rokok sendiri, penerapan konsep pengurangan risiko diaplikasikan pada produk tembakau alternatif.

Terkait ini, National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris mendefinisikan pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) sebagai upaya “mengurangi penyakit dan kematian akibat merokok tembakau di antara para perokok dan orang di sekitar mereka”. Beberapa cara yang dapat dipilih dalam strategi pengurangan bahaya ini antara lain ialah mengurangi intensitas merokok, berhenti merokok secara temporer, hingga beralih ke produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik atau produk tembakau yang dipanaskan.

Penelitian di jurnal Addictive Behaviors edisi Maret 2014 mengungkapkan dampak dari penerapan pendekatan harm reduction bagi kesehatan masyarakat. Swedia menerapkan kebijakan berlandaskan pengurangan risiko untuk pengendalian konsumsi tembakau. Hasilnya, Swedia merupakan negara dengan tingkat kematian akibat tembakau terendah di dunia.

Belajar dari Swedia, pengurangan risiko menjadi sangat penting untuk meminimalisir dampak negatif dari berbagai produk yang dapat membahayakan kesehatan seseorang dan yang berada di lingkungan sekitarnya. Tentunya kita bisa belajar dari praktik yang telah dilakukan oleh negara lain dalam mengaplikasikan pendekatan pengurangan risiko untuk kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Share