17 December 2021

Tobacco Harm Reduction, Strategi Mengurangi Bahaya Rokok

Bermula sejak abad ke-16 hingga saat ini, setelah ratusan tahun kemudian. Aktivitas merokok masih menjadi perilaku yang banyak ditemukan di hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, angka perokok aktif cenderung stabil, bahkan kerap kali meningkat dari tahun ke tahun.

Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan persentase perokok aktif dengan jumlah yang tinggi di dunia. Sebuah data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018, menemukan bahwa sebanyak 33,8 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun adalah perokok aktif.

Riset yang sama mendapati prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun mencapai 9,1 persen, naik dari 8,8 persen pada tahun 2016. Perokok di Indonesia sendiri didominasi oleh laki-laki dewasa, yakni sebanyak 62,9 persen.

Bahaya dari aktivitas merokok ini ditimbulkan dari berbagai kandungan yang terdapat di dalam rokok itu sendiri, serta kandungan yang dihasilkan dari proses pembakaran tembakau. National Cancer Institute (NCI) menyatakan, asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Sebagian besar ditemukan di dalam TAR atau tobacco residue, sebagai hasil pembakaran rokok.

Setidaknya sebanyak 250 bahan kimia yang terkandung di dalam TAR, termasuk karbon monoksida, amoniak, dan hidrogen sianida, adalah zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Setidaknya 70 di antaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Selain mengancam perokok aktif, zat-zat berbahaya tersebut juga mengancam orang lain yang terpapar atau biasa disebut perokok pasif.

Maka dari itu, saat ini kita membutuhkan upaya preventif untuk mengurangi bahaya merokok dan menurunkan tingkat prevalensi perokok di Indonesia dengan menggunakan strategi Tobacco Harm Reduction. Lantas, apa itu Tobacco Harm Reduction?

Baca Juga: Lebih Dekat dengan Produk Tembakau Yang Dipanaskan

Mengenal Harm Reduction

Pada mulanya, konsep tobacco harm reduction diadaptasi  dari konsep harm reduction yang digunakan untuk menangani masalah yang timbul akibat penggunaan obat-obatan terlarang. Konsep harm reduction ini mengacu pada sebuah kebijakan dan program yang dibuat dengan tujuan untuk mengurangi dampak buruk dan bahaya perilaku adiktif bagi individu yang mengkonsumsi obat terlarang, serta komunitas masyarakat di sekitarnya.

Konsep harm reduction pada awalnya bertujuan untuk melarang penggunaan obat terlarang secara mutlak. Tetapi seiring berjalannya waktu, konsep harm reduction tersebut tidak selalu berjalan dengan baik. Maka dari itu, tujuan konsep harm reduction kemudian bergeser untuk membantu orang dengan adiksi obat terlarang untuk berhenti mengkonsumsi obat terlarang dengan melakukan pendekatan yang lebih efektif.

Baca Juga: Asap Knalpot vs. Asap Rokok, Apa Dampaknya Bagi Paru-Parumu?

Apa itu Tobacco Harm Reduction (THR)?

Jika dilansir dari Tobacco Tactics, Konsep tobacco harm reduction (THR) sendiri mengacu pada pengurangan tingkat penyakit (morbiditas) dan kematian (mortalitas) dari penggunaan tembakau di kalangan perokok. Sementara menghilangkan paparan nikotin sama sekali akan menghasilkan pengurangan bahaya terbesar,tobacco harm reduction (THR) menyadari bahwa hal ini tidak selalu dapat dicapai, dan pengguna mungkin tidak selalu dapat atau mau berhenti. Jadi, tobacco harm reduction (THR) menganjurkan, sebagai tujuan utamanya, agar pengguna atau para perokok aktif beralih menggunakan nikotin dalam bentuk yang tidak terlalu berbahaya seperti produk tembakau alternatif.

Zat-zat berbahaya yang dihasilkan dari produk tembakau konvensional yang dibakar menjadi perhatian utama yang harus dihindari. Tobacco harm reduction (THR) memiliki tugas untuk menghindari zat-zat berbahaya tersebut dengan beralih menggunakan produk nikotin lain seperti produk tembakau alternatif. Nikotin sendiri dapat diperoleh dari berbagai macam produk, yang tingkat bahaya dan kecanduannya bervariasi.

Melihat berbagai permasalahan yang mungkin timbul dari perilaku merokok, tentu saja diperlukan komitmen untuk mengatasi persoalan tersebut. Menurut Harm Reduction Journal, setidaknya ada dua pendekatan untuk menanggulangi masalah bahaya merokok.

Pendekatan pertama adalah dengan mengkampanyekan bahaya merokok. Tujuannya adalah supaya para perokok aktif berhenti sepenuhnya. Sebagai bagian dari pendekatan ini, para pelaku industri rokok juga harus dilibatkan. Mereka wajib mencantumkan narasi dari gambar peringatan bahaya merokok itu sendiri.

Pendekatan kedua yaitu pengurangan risiko (harm reduction). Dalam kesehatan publik, konsep pengurangan risiko merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengurangi risiko kesehatan dan sosial yang terkait dengan kebiasaan atau penggunaan zat tertentu dengan memberikan alternatif lebih baik yang dapat menjadi pilihan

Pendiri dan Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, Achmad Syawqie, menjelaskan konsep pengurangan risiko sudah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti sabuk pengaman, airbag, helm, dan garam rafinasi. Dalam hal permasalahan rokok sendiri, penerapan konsep pengurangan risiko diaplikasikan pada produk tembakau alternatif.

Terkait ini, National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris mendefinisikan pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) sebagai upaya “mengurangi penyakit dan kematian akibat merokok tembakau di antara para perokok dan orang di sekitar mereka”. Beberapa cara yang dapat dipilih dalam strategi pengurangan bahaya ini antara lain ialah mengurangi intensitas merokok, berhenti merokok secara temporer, hingga beralih ke produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik atauproduk tembakau yang dipanaskan.

Baca Juga: Lindungi Balita dari Third-hand Smoke

Dampak Penerapan Tobacco Harm Reduction (THR) di Swedia dan Indonesia

Penelitian di jurnal Addictive Behaviors edisi Maret 2014 mengungkapkan dampak dari penerapan pendekatan harm reduction bagi kesehatan masyarakat. Swedia menerapkan kebijakan berlandaskan pengurangan risiko untuk pengendalian konsumsi tembakau. Hasilnya, Swedia merupakan negara dengan tingkat kematian akibat tembakau terendah di dunia.

Di Indonesia sendiri, saat ini sudah mulai kita jumpai dengan mudah kampanye-kampanye sosial yang mengajak masyarakat untuk berhenti merokok. Tidak cuma itu saja, saat ini kita juga sudah mulai menemukan produk-produk berkonsep pengurangan risiko rokok, seperti produk tembakau alternatif.

Jika melihat dari tahun ke tahun, hasil dari penerapan tobacco harm reduction di Indonesia masih belum semaksimal yang dilakukan oleh Negara Swedia. Namun bukan berarti penerapan tobacco harm reduction di Indonesia tidak bisa berjalan dengan lebih maksimal. Penerapan tobacco harm production yang mengajak masyarakat untuk berhenti merokok dapat menjadi salah satu solusi dan dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat di Indonesia. Tentunya kita bisa belajar dari praktik yang telah dilakukan oleh negara lain dalam mengaplikasikan pendekatan pengurangan risiko untuk kesehatan masyarakat yang lebih baik.





Share