Payung Hukum Produk Tembakau Alternatif | KoalisiIndonesiaBebasTar

14 March 2019

Payung Hukum Produk Tembakau Alternatif

Prof. Dr. Achmad Syawqie Yazid, drg., MS

Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik

Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) yang juga merupakan salah satu pendiri Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), sangat aktif mengedukasi publik tentang penurunan risiko merokok melalui berbagai penelitian dan konferensi. Pada The 5th Indonesia Conference on Tobacco or Health (ICTOH), 6 – 9 Mei  2018 di Surabaya, YPKP terpilih  untuk mempresentasikan riset dan kajiannya yang bertajuk 'Observasi Kesehatan Mukosa Mulut pada Pengguna Rokok Elektrik.'

Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi perokok di Indonesia pada usia 15 tahun meningkat menjadi 36,3% jika dibandingkan dengan 1995 sebesar 27%. Meskipun sudah ada beberapa inisiatif dan berbagai program dari pemerintah guna menuntaskan permasalahan tersebut, namun hingga kini permasalahan prevalensi rokok secara nasional belum dapat teratasi. Usia perokok pun menjadi semakin muda. Berdasarkan riset terbaru yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta terhadap 2.193 siswa SD, SMP dan SMA di Jakarta menunjukkan bahwa 36% dari siswa tersebut pernah mencoba mengonsumsi rokok dengan usia terendah 7 tahun.

Sebuah Inovasi Kesehatan

Berbagai riset menunjukkan bahwa komponen yang berbahaya dari rokok ialah TAR, yang merupakan hasil dari proses pembakaran tembakau. Nikotin yang sering dianggap sebagai komponen paling berbahaya, pada dasarnya hanya menyebabkan efek kecanduan, bukan pemicu utama masalah kesehatan. Banyak yang tidak tahu bahwa nikotin juga sebenarnya terkandung pada tomat, kentang dan terung. Dengan kata lain, komponen berbahaya dari konsumsi rokok adalah proses pembakarannya, bukan nikotin.

Dunia kesehatan tengah melalui masa transisi penting berkat semakin berkembangnya inovasi dan teknologi untuk menciptakan produk tembakau alternatif, seperti produk rokok elektrik atau yang sering disebut dengan vape, nikotin tempel, snus, serta produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar (heat not burn). Produk-produk tersebut tetap berbahan dasar tembakau, namun dikonsumsi tanpa proses pembakaran. 

Pada bulan Januari 2018, Public Health England (PHE), sebuah badan kesehatan independen di bawah Kementerian Kesehatan Inggris, menerbitkan hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa produk tembakau yang dipanaskan menurunkan risiko kesehatan hingga 95% dibandingkan dengan rokok yang dibakar. Penelitan PHE tersebut juga menyatakan bahwa kalangan perokok dewasa tidak memiliki informasi yang cukup akan risiko kesehatan yang lebih rendah pada produk-produk tembakau alternatif, salah satunya terkait dengan kesehatan mulut.

Berdasarkan penelitian YPKP, didapati bahwa pada perokok aktif ditemukan inti sel lebih banyak yang melapisi pipi bagian dalam dibandingkan pengguna produk tembakau alternatif dan pada mereka yang bukan perokok. Sel yang jumlahnya lebih banyak yang terdapat pada mulut perokok aktif tersebut memiliki kecenderungan mengalami ketidakstabilan yang dapat mengakibatkan dysplasia (kondisi perubahan abnormal) pada dinding mulut. Dengan demikian, penggunaan produk tembakau alternatif dan tidak merokok sama sekali tentunya lebih baik bagi kesehatan mulut.

Terlebih lagi, penggunaan produk tembakau alternatif sendiri berpotensi menyelamatkan jiwa. Sebuah studi dari Georgetown University Medical Center di Amerika Serikat, yang diterbitkan dalam Jurnal Tobacco Control mengungkapkan bahwa jika perokok beralih ke produk tembakau alternatif, maka 6,6 juta orang di Amerika Serikat berpotensi dapat terhindarkan dari kematian dini yang diakibatkan oleh konsumsi rokok dengan cara dibakar. 

Jika angka ini diterjemahkan ke Indonesia yang memiliki prevalensi konsumsi rokok jauh lebih tinggi dari AS, dapat dibayangkan berapa besar jutaan jiwa yang bisa diselamatkan. Meskipun risiko kesehatan dari produk tembakau alternatif masih perlu terus diteliti, hasil studi ini menunjukkan, meski menggunakan skenario terburuk, beralih ke produk tembakau alternatif akan tetap lebih aman karena masih tetap akan menyelamatkan jutaan jiwa. Bagi seorang perokok dewasa, produk tembakau alternatif dapat digunakan bagi mereka yang ingin berhenti merokok, namun belum bisa menghentikan adiksi nikotinnya secara total. 

Beberapa negara di dunia telah menyambut positif kehadiran rokok elektrik sebagai salah satu bentuk produk tembakau alternatif, seperti di Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Korea. Bahkan di Eropa, regulasi produk tembakau yang diterapkan membuat harga rokok elektrik lebih murah dibandingkan dengan rokok yang dikonsumsi dengan dibakar. Dengan demikian perokok dapat mengakses pilihan gaya hidup yang lebih rendah resiko melalui produk tembakau alternatif. Hal tersebut akan membantu perokok dewasa yang belum mampu berhenti dari adiksinya secara total.

Dukungan Pemerintah

Pemerintah harus berpedoman pada prinsip bahwa peraturan dibuat untuk mengawasi keamanan penggunaan produk agar tepat guna, bukan menutup akses atas informasi maupun penggunaan produk. Sebagai produk yang berpotensi memberikan solusi mengurangi bahaya kesehatan pada para perokok, pemerintah tidak bisa membiarkan produk tembakau alternatif berkembang tanpa payung hukum yang jelas. Pembatasan harus diberlakukan demi menjaga pengembangan produk tembakau alternatif agar tidak salah tujuan. Salah satunya adalah pelarangan penggunaan bagi masyarakat di bawah umur. Pemerintah juga harus melakukan pengawasan langsung kepada produsen agar semua produk yang dikonsumsi oleh masyarakat dapat dipastikan aman. 

Untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat positif produk tembakau alternatif dibandingan dengan rokok biasa, perlu pula adanya dukungan pemerintah. Itu berguna untuk mendorong adanya kajian dan riset mendalam serta menganalisis berbagai dampak positif yang dapat ditimbulkan produk tembakau alternatif.

Share