15 November 2021

Merokok dan Menggunakan Rokok Elektrik, Apa Bedanya?

Sejak tahun 2014, rokok elektrik dan vape mulai masuk di Indonesia meskipun pada saat itu masih dipandang buruk dan dianggap sama-sama memiliki dampak kesehatan berbahaya seperti rokok. Namun, semakin banyak penelitian-penelitian ilmiah terkini yang menunjukkan bahwa risiko kesehatan yang dihasilkan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik dan vape, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rokok. Bukti-bukti ilmiah ini sedikit demi sedikit merubah pandangan publik tentang rokok elektrik dan vape. Saat ini, konsumsi rokok elektrik dan vape semakin meningkat, kini telah ada sekitar 3 juta pengguna vape di Indonesia.

Apa itu Vape atau Rokok Elektrik?

Vape atau rokok elektrik adalah sebuah teknologi inovasi dari bentuk rokok konvensional menjadi rokok modern. Vape atau rokok elektrik termasuk ke dalam produk tembakau alternatif dan pertama kali dikembangkan pada tahun 2003 oleh SBT Co Ltd, sebuah perusahaan asal Beijing, yang sekarang dikuasai oleh Golden Dragon Group Ltd Pada tahun 2004. 

Produk tembakau alternatif ini diklaim sebagai produk rokok yang lebih sehat dan ramah lingkungan daripada rokok biasa. Berbeda dengan rokok tembakau, vape atau rokok elektrik tidak membakar tembakau seperti produk rokok konvensional. Rokok elektrik memanaskan cairan menggunakan baterai dan menghasilkan uap bukan asap.

Baca Juga: 9 Mitos Rokok Elektrik

Perbedaan Rokok Elektrik dan Rokok Biasa

Tapi, apa sebenarnya yang membedakan antara rokok elektrik dan vape dengan rokok tembakau? Apa yang membuat rokok elektrik dan vape lebih rendah risiko kesehatannya bila dibandingkan dengan rokok tembakau? Serta apa yang menjadikan rokok elektrik dan vape merupakan solusi alternatif bagiperokok yang mengalami kesulitan untuk berhenti?

1. Dipanaskan, bukan dibakar

Rokok elektrik dan vape, seperti rokok tembakau , memungkinkan penggunanya untuk mengonsumsi nikotin. Bedanya, nikotin pada rokok elektrik dan vape terkandung dalam e-liquid. Uap yang dihasilkan dari memanaskan e-liquid dengan kandungan nikotin tersebut kemudian dihirup pengguna dan memberikan asupan nikotin. Sementara, nikotin yang terkandung di dalam rokok tembakau dikonsumsi melalui asap rokok yang dihasilkan dari proses pembakaran.

2. Risiko kesehatan lebih rendah

Saat tembakau di dalam rokok dibakar dan menghasilkan asap rokok, maka tercipta kumpulan bahan kimia yang disebut TAR yang merupakan karsinogen atau senyawa penyebab kanker. Pada rokok elektrik atu vape, e-liquid hanya dipanaskan sehingga tidak menghasilkan TAR. Hal ini lah yang menyebabkan rokok elektrik dan vape memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok. Namun, perlu diingat bahwa rokok elektrik dan vape tetap tidak 100% bebas risiko kesehatan dan masih dapat memiliki efek samping seperti menyebabkan batuk, tenggorokan kering, sesak nafas, dan iritasi mulut.

Baca Juga: 5 Jenis Produk Tembakau Alternatif dengan Risiko Kesehatan Lebih Rendah

3. Sensasi seperti merokok

Meskipun tak sepenuhnya sama, banyak pengguna yang merasa vaping menawarkan sensasi yang mirip dengan merokok. Saat vaping, penggunanya melakukan gestur tangan dan mulut yang serupa dengan apa yang mereka lakukan saat merokok. Selain itu, vaping juga memberikan rasa dan sensasi tenggorokan yang mirip dengan merokok. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor ini lah yang membuat rokok elektrik dan vape merupakan alat bantu berhenti merokok yang paling efektif bila dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin lainnya.

Seperti pembahasan pada artikel sebelumnya, nikotin adalah zat bersifat adiktif yang membuat perokok kecanduan dan kesulitan untuk menghentikan kebiasaannya. Penggunaan alat bantu yang dapat memberikan asupan nikotin merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan ketika berusaha berhenti merokok.

Penggunaan rokok elektrik dan vape dianggap lebih efektif dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin lainnya atau langsung berhenti total karena bukan saja perokok masih mendapatkan asupan nikotin tetapi juga dapat melakukan aktivitas yang mirip dengan merokok.

Vaping juga memiliki keunggulan karena pengguna dapat mengatur kadar nikotin di dalam e-liquid, dan perlahan-lahan dapat mengurangi frekuensi dan kadar nikotin sampai akhirnya dapat berhenti total. Walaupun dianggap efektif, perlu diingat bahwa vaping pun masih memiliki risik kesehatan jangka panjang yang belum diketahui secara pasti, sehingga sebaiknya digunakan sebagai cara untuk berhenti merokok dan bukan pengganti rokok. Seperti dikutip dari situs kesehatan Selandia Baru, “Don’t vape if you don’t smoke. Only vape to quit smoking.

Share