31 May 2021

Efek Nikotin Pada Tubuh

Sudah sejak ribuan tahun yang lalu, daun dari tanaman tembakau digunakan oleh manusia di berbagai belahan dunia dengan beragam cara, baik untuk dicampur dalam makanan sebagai penyedap rasa, dikunyah, maupun dihisap baunya. Orang asli Amerika utamanya mengonsumsi dengan cara dibakar maupun dikunyah. Namun baru pada sekitar abad ke-16 popularitas tembakau mendunia, dan kemudian kita mengetahui apa saja kandungan tembakau dan efeknya. 

Menurut literatur yang ada, seorang duta besar Perancis untuk Lisbon, Jean Nicot de Villemain, merupakan salah seorang yang pertama kali mempelajari kandungan di dalam tembakau. Namanya kemudian dijadikan dasar penamaan tanaman tembakau yang paling banyak dibudidayakan yaitu Nicotiana tabacum, serta untuk zat kimia yang ditemukan di dalamnya, nikotin.

Nikotin sendiri adalah senyawa dalam golongan alkaloid yang bersifat stimulan. Sebagai stimulan, nikotin dapat meningkatkan mekanisme tubuh, terutama yang berkaitan dengan fungsi kewaspadaan dan pemrosesan isyarat, ketajaman memori, konsentrasi, dan perhatian dalam jangka pendek.

Ketika nikotin berikatan dengan reseptor di otak, nikotin akan melepaskan dopamin, suatu senyawa kimiawi di otak yang dapat meningkatkan suasana hati, perhatian, konsentrasi, hingga memicu perasaan rileks. Nikotin juga merangsang otak untuk menghasilkan zat endorfin lebih banyak dari keadaan normal. Cara kerja nikotin yang menghasilkan zat endorfin ini mirip dengan cara kerja penghilang rasa sakit.

Karena adiktif, saat mencoba berhenti, orang yang terbiasa mengonsumsi nikotin akan mengalami reaksi ketergantungan atau disebut withdrawal syndrome. Sindrom ini ditandai dengan gejala seperti kecemasan, mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi, serta gangguan tidur.

FDA menyatakan, nikotin memang menimbulkan ketergantungan tapi bukan nikotin yang menyebabkan penyakit serius dan mematikan bagi pengguna rokok tembakau. Bagaimana cara nikotin dikonsumsi itulah yang menjadi masalah, sebab sejauh ini konsumsi nikotin paling umum adalah melalui pembakaran tembakau pada rokok. Sebatang rokok rata-rata mengandung sekitar 8-20 mg nikotin dan 1-1,5 mg akan diserap oleh tubuh saat asap rokok dihisap. Berdasarkan penelitian[1] , nikotin akan mencapai konsentrasi maksimum di otak hanya dalam waktu 10-20 detik setelah rokok dihisap.

Masalahnya kemudian terletak pada proses pembakaran yang terjadi. Proses ini menghasilkan asap dan abu. Asap rokok tersebut mengandung  lebih dari 7.000 bahan kimia berbahaya, termasuk TAR yang sangat berbahaya terhadap kesehatan dan menjadi penyebab berbagai penyakit terkait merokok.

Saat ini, seiring perkembangan teknologi telah muncul berbagai inovasi cara mengonsumsi nikotin yang tidak melibatkan proses pembakaran. Dengan demikian, tidak akan ada asap yang mengandung berbagai bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit. Untuk mengetahui cara alternatif untuk mengurangi risiko paparan zat kimia berbahaya dari merokok dengan produk tembakau alternatif, silakan kunjungi halaman ini.

Share