Penelitian Soal Produk Tembakau Alternatif Perlu Digencarkan
Penelitian Soal Produk Tembakau Alternatif Perlu Digencarkan

Sejumlah kalangan ahli mendorong agar penelitian terkait produk tembakau alternatif (Alternative Nicotine Delivery System/ANDS), seperti rokok elektrik atau vape dan produk tembakau yang dipanaskan, terus digencarkan. Pasalnya, penelitian dibutuhkan guna memberikan masukan dan menjadi basis untuk kebijakan. Selain itu, hasil penelitian dapat menjadi sumber informasi yang akurat bagi masyarakat, utamanya perokok dewasa, mengenai pentingnya peran produk tembakau alternatif sebagai solusi dari permasalahan rokok. 

Ketua Dewan Penasihat, Pusat Hukum Kesehatan, Kebijakan dan Etika, Universitas Ottawa, Kanada, David Sweanor meyakini bahwa hal ini dapat membawa perubahan yang baik bagi banyak orang.

“Kita dapat membuat perubahan yang nyata bagi banyak orang dengan cara memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada,” ujarnya.

Sweanor mencontohkan di negara-negara seperti Islandia, Norwegia, Swedia, dan Jepang, perokok dapat sepenuhnya beralih ke produk tembakau alternatif saat pilihan tersebut tersedia. Maka, penelitian yang mendasari setiap informasi tentang ANDS berperan sangat penting untuk memberikan informasi faktual kepada masyarakat bahwa produk-produk alternatif berpotensi mengurangi risiko yang disebabkan oleh rokok. 

“Kita punya kesempatan melalui sejumlah terobosan. Kita punya teknologi, regulasi, serta ilmu pengetahuan yang akan membawa perubahan besar ke arah yang lebih baik,” katanya. 

Sementara itu, mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama WHO, Prof Tikki Pangestu mengatakan, risiko dan bahaya ANDS lebih rendah 90 sampai 95 persen daripada rokok yang dibakar. 

“Vaping itu tembakaunya tidak dibakar. Pembakaran itu yang menyebabkan pelepasan zat-zat beracun yang ada di asap rokok. Vaping itu uap, bukan asap,” jelas Tikki. Tikki mengaku tidak sependapat bila dikatakan pemakaian vape mengakibatkan kondisi kesehatan memburuk. 

“Jadi kesalahannya bukan kepada vaping, tetapi kenyataannya ialah penggunaan cairan vape yang terkontaminasi oleh berbagai zat-zat yang dibeli di black market, dan itu adalah Tetrahydrocannabinol (THC) dan vitamin E Asetat,” urai Tikki.

Prof Tikki mengatakan, terobosan inovasi produk tembakau alternatif akan sulit didukung tanpa penelitian dalam negeri yang memadai. Padahal, kata dia, sejumlah penelitian di negara-negara maju telah membuktikan bahwa kehadiran vape mampu menjadi alternatif bagi para perokok.

Hal yang mesti menjadi perhatian bersama adalah minimnya kajian dan penelitian lokal dalam mengkaji dampak dan risiko produk alternatif seperti vape, dimana hal ini akan berkontribusi dalam merancang peraturan terkait vape di Indonesia. 

"Meskipun ANDS tersedia di Indonesia, namun belum ada kerangka regulasi yang komprehensif dalam mengatur produk-produk tersebut," ungkap Profesor di Sekolah Kedokteran Yong Loo Lin, Universitas Nasional Singapura (NUS) tersebut.

"Akibat dari kekosongan regulasi, perokok dewasa tidak memiliki akses kepada lebih banyak terhadap produk alternatif, yaitu produk yang menghantarkan nikotin dan berpotensi menimbulkan risiko lebih rendah bagi perokok dan lingkungannya," tambahnya. 

Tikki pun menyarankan agar penelitian mengenai ANDS harus melibatkan semua pemangku kepentingan yang relevan dalam industri produk tembakau alternatif, seperti pemerintah, pakar kesehatan, akademisi, pelaku bisnis, dan asosiasi. Penelitian diperlukan, kata Tikki, sebagai bahan pertimbangan Pemerintah nantinya dalam mengambil sebuah kebijakan.

"Penelitian penting dilakukan sebagai dasar dalam membuat kebijakan," tandasnya.

Plt. Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur dan Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional, Ali Ghufron Mukti menekankan, saat ini pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah berinisiatif untuk mengembangkan standar bagi produk-produk ANDS, mulai dari produk Tembakau Dipanaskan di tahun 2020, dan dilanjutkan dengan produk vape pada tahun 2021.

"Setelah selesai, standar ini dapat memberikan jaminan bagi konsumen dan menjadi langkah penting menuju peraturan yang lebih komprehensif di industri ini," ujar Ali Ghufron.

Ghufron juga mengakui bahwa penelitian terkait produk alternatif selain yang sudah ada (rokok konvensional) masih sangat terbatas. "Di Indonesia penelitian terkait vape masih sangat terbatas, kecuali untuk rokok dimana ada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)," ungkapnya.

Kendati demikian, Ghufron mengatakan, Pemerintah selalu membuka ruang bagi penelitian sepanjang berbasis pada kepentingan masyarakat luas. "Pemerintah terbuka dan mendorong penelitian agar dapat bermanfaat bagi masyarakat luas," katanya.

Ghufron mengatakan, penelitian tentang vape dibutuhkan sebagai dasar pembuatan regulasi, walaupun dalam penerapannya masih sering menghadapi tantangan dari banyak kepentingan lain, seperti politik maupun persaingan usaha.

Penelitian-penelitian khusus vape ini di Indonesia masih sangat terbatas, bahkan hampir tidak (belum) ada. Kalau NRT (Terapi Pengganti Nikotin) masih ada, tapi kalau ANDS, terutama vape ini masih sangat sulit untuk dicari,” ujar Ghufron. Oleh karena itu, penelitian tentang produk alternatif pengganti rokok ini layak untuk terus dikembangkan di Indonesia, demi manfaat bagi masyarakat luas, khususnya dalam kebijakan dan peraturan pemerintah.

“Jadi kuncinya bagi para peneliti adalah harus memahami bagaimana mengaplikasikan riset di level kebijakan,” tutup Ghufron. Perlu diketahui, dalam satu dekade terakhir, patut Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang mengalami peningkatan prevalensi merokok dengan rata-rata 0,3 persen per tahun dari tahun 2005 sampai 2018. Sedangkan negara-negara Asia lainnya tidak mengalami peningkatan atau bahkan berhasil menurunkan prevalensi merokok. 

Menurut data World Health Organization (WHO), angka prevalensi perokok pria dewasa Indonesia tertinggi di dunia sebesar 76,2 persen. Sementara itu, data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi merokok di Indonesia adalah 28,9 persen untuk orang yang berusia lebih dari 10 tahun atau hampir setara dengan 70 juta perokok.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp