Mengatasi Permasalahan Merokok di Indonesia
Mengatasi Permasalahan Merokok di Indonesia

Rokok sudah lama membudaya di dalam masyarakat Indonesia yang turut mempengaruhi perilaku masyarakat. Rokok yang terbuat dari tembakau yang dibudidayakan di Indonesia telah menjadi bagian dari tradisi dalam menjalin keakraban sosial, misalnya rokok kretek. Kebiasaan merokok yang menjadi tradisi ini mejadikan jumlah perokok Indonesia yang terus meningkat. 

Nyatanya, dalam asap rokok terdapat zat berbahaya bagi perokok yaitu TAR, yang merupakan bahan kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran. Ada lebih dari 7.000 macam senyawa kimia dalam TAR, sebagian di antaranya berbahaya terhadap kesehatan. Bahaya merokok juga ditulis pada setiap bungkus rokok, mulai dari kanker, jantung, kolesterol, komplikasi diabetes, keguguran, gangguan mata, dan lainnya. 

Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar mengapa peringatan kesehatan pada kemasan dan iklan rokok tidak memberikan dampak secara efektif? Apakah pendekatan tersebut kurang tepat sehingga tidak berdampak pada menurunnya prevalensi merokok di Indonesia? Kurang efektifnya larangan rokok ini terlihat dari tren masih terus meningkatnya jumlah perokok di Indonesia dan prevalensi merokok yang masih tinggi. Selain itu, pemerintah juga telah mengenakan cukai, menaikkan harga jual eceran (HJE) rokok, penyuluhan kepada masyarakat, menyediakan klinik berhenti merokok, hingga penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). 

Berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (Seatca) berjudul The Tobacco Control Atlas tahun 2019, jumlah perokok di Indonesia sebanyak 65,19 juta orang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia Tenggara. Selain itu, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah perokok di atas 15 tahun sebanyak 33,8 persen dari jumlah tersebut 62,9 persen merupakan perokok laki-laki dan 4,8 persen perokok perempuan. Data tersebut juga menunjukkan peningkatan prevalensi merokok menjadi 9,1 persen dibandingkan 7,2 persen pada tahun 2013.

Kenaikan prevalensi merokok ini dapat menjadi momok bagi pemerintah karena menimbulkan beban kesehatan dan hilangnya kesempatan bonus demografi. Untuk mencari solusinya, kita harus memahami akar permasalahan penyebab tingginya jumlah perokok dan prevalensi merokok di Indonesia, yakni tradisi dan budaya merokok yang melekat di masyarakat.

Jika dilihat dari karakteristik dan perilakunya, upaya untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia harus dilakukan berbagai pendekatan (pendekatan holistik) secara budaya, kesehatan, ekonomi, regulasi dan komunikasi. Pendekatan holistik diperlukan agar dalam penanganannya, dapat dipetakan bagaimana aspek tradisi dan budaya merokok mempengaruhi gaya hidup seseorang. Oleh karena itu, upaya mengatasi permasalahan merokok harus melibatkan semua pemangku kepentingan terkait, mulai dari pemerintah, masyarakat, praktisi kesehatan, akademisi, pelaku industri dan juga para perokok itu sendiri. 

Saat ini, berbagai negara sudah mengadopsi konsep pengurangan bahaya tembakau untuk melengkapi pendekatan lainnya yang sudah diterapkan. Sebagai contoh, Selandia Baru telah menerapkan konsep pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi jumlah perokok dan mencapai program "New Zealand Smoke Free 2025". Selain itu, Inggris melalui Public Health England (PHE), lembaga penasihat di bawah Kementerian Kesehatan dan Kepedulian Sosial, mendorong perokok Inggris yang sulit berhenti merokok untuk beralih ke produk alternatif seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan sebagai upaya mengurangi risiko kesehatan penggunanya maupun mengurangi dampak negatif pada lingkungan sekitar.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, PHE menyimpulkan bahwa rokok elektrik 95 persen lebih rendah risiko daripada merokok dan merupakan alat yang efektif untuk membantu menghentikan kebiasaan merokok. Adapun Jepang telah mengalami penurunan besar dalam jumlah perokok, bersamaan dengan semakin banyaknya perokok yang beralih ke konsumsi produk tembakau yang dipanaskan. Konsep pengurangan bahaya tembakau merupakan upaya untuk mengurangi dampak berbahaya yang disebabkan oleh rokok.

Konsep ini meliputi berbagai macam strategi dan upaya mengganti produk atau perilaku berisiko tinggi dengan yang lebih rendah risiko. Salah satu strategi yang dilakukan ialah memberikan pilihan kepada perokok untuk beralih ke produk tembakau yang memiliki risiko kesehatan jauh lebih rendah daripada rokok, seperti produk terapi sulih nikotin (nicotine replacement therapy/NRT) serta produk tembakau alternatif lainnya, misalnya produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik. Perlu diingat, bahwa pilihan terbaik bagi perokok adalah berhenti merokok. 

 

Konsep pengurangan bahaya tembakau dan peralihan perokok ke produk tembakau alternatif berperan penting dalam mempercepat proses pengendalian tembakau. Hal ini dibuktikan oleh penelitian di Amerika Serikat bertajuk Potential Deaths Averted in USA by Replacing Cigarettes with E-Cigarette yang dilakukan oleh Levy dan tim. Hasilnya mengejutkan, sekitar 6,6 juta orang perokok Amerika dapat terhindar dari kematian dini jika perokok beralih ke rokok elektrik. 

Sekali lagi yang perlu ditekankan adalah yang paling baik adalah berhenti merokok. Namun, beberapa penelitian membuktikan bahwa berhenti merokok secara tiba-tiba (cold turkey) memiliki angka keberhasilan yang sangat rendah. Dr J Taylor Hays, MD, Direktur Nicotine Dependence Center Mayo Clinic menjelaskan bahwa penelitian selama 25 tahun terakhir menunjukkan, dari 100 orang yang menerapkan cold turkey, hanya sekitar tiga hingga lima dari mereka yang akan berhasil selama lebih dari enam bulan. Dengan kata lain, hanya sedikit yang bisa berhenti merokok dengan cara cold turkey, sedangkan 95 persen lainnya tidak berhasil.

Cold turkey memiliki tingkat keberhasilan yang rendah karena banyak faktor, di samping terbentur sifat kecanduan perokok pada nikotin, juga aspek gaya hidup yang tidak mudah diubah secara sesaat. Banyak orang yang sadar akan bahaya rokok tetapi karena pergaulan dan gaya hidup sulit menghentikannya. Oleh karena itu, perlu media untuk membantu berhenti merokok atau beralih seperti terapi sulih nikotin dan produk tembakau alternatif. Pendekatan menyeluruh atau holistik untuk mengatasi permasalahan merokok perlu dilakukan. 

Kebijakan pengendalian tembakau yang sudah dilakukan pemerintah masih belum berhasil karena belum melibatkan semua pemangku kepentingan, yakni perokok aktif selaku konsumen sehingga upaya pengendalian tembakau tidak komprehensif, serta belum dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif. Oleh karena itu, perlu juga menangkap aspirasi masyarakat dengan baik, terutama para perokok aktif maupun perokok pasif yang ingin terhindar dari dampak negatif rokok.

Kebijakan pengendalian tembakau sebetulnya dapat menjadi efektif jika disertai dengan pendukung lainnya, yakni edukasi terhadap konsep pengurangan bahaya tembakau. Agar masyarakat Indonesia, khususnya perokok, turut berperan mengatasi permasalahan rokok di Indonesia, risk awareness pada masyarakat perlu ditingkatkan. Di sinilah perlunya social engineering untuk mengubah budaya dan tradisi merokok di masyarakat, dan berhenti merokok. Caranya ialah memberikan informasi yang akurat bagi perokok serta menawarkan layanan untuk membantu mereka berhenti merokok. 

Namun, bagi perokok yang merasa sulit berhenti total, perlu diberikan informasi mengenai produk-produk yang risiko kesehatannya jauh lebih rendah daripada terus merokok, seperti terapi sulih nikotin dan produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan maupun lainnya. Paling tidak, ada tiga hal yang penting dalam social engineering yaitu edukasi maupun sosialisasi, penelitian, serta pendekatan regulasi. Agar social engineering efektif menurunkan jumlah perokok dan prevalensi merokok di Indonesia, maka diperlukan beberapa hal berikut ini. 

Peran aktif para pemangku kepentingan untuk memberikan edukasi dan sosialisasi informasi yang akurat berdasarkan hasil-hasil penelitian kepada masyarakat, khususnya kepada para perokok agar terjadi perubahan perilaku. Sehingga, mereka bisa berhenti atau minimal beralih ke produk-produk tembakau alternatif dengan risiko bahaya yang lebih rendah bagi diri mereka sendiri maupun orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Memperbanyak penelitian mengenai pengurangan bahaya tembakau dari berbagai disiplin ilmu, baik dari aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan sebagainya. 
Penelitian harus obyektif, bebas kepentingan, tidak bersifat politis, dan berdasarkan fakta empiris. Penelitian lokal harus digiatkan, mengingat penelitian tentang pengurangan bahaya tembakau saat ini sebagian besar dilakukan di negara lain. Oleh sebab itu, penelitian tentang perokok di Indonesia yang sesuai dengan kondisi objektif masyarakat Indonesia sangat diperlukan sehingga rekomendasi untuk kebijakan strategis sesuai dengan budaya Indonesia. Regulasi dan dukungan dari pemerintah yang dirumuskan berdasarkan hasil-hasil penelitian serta memberikan akses kepada perokok untuk mendapatkan informasi akurat terhadap bahaya merokok dan produk-produk tembakau alternatif untuk membantu mereka berhenti atau minimal beralih dari rokok.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp