Bahaya TAR dalam Rokok Bagi Tubuh
Bahaya TAR dalam Rokok Bagi Tubuh

Dalam rokok mengandung dua zat kimia yang berbahaya bagi tubuh, yakni nikotin dan TAR. Nikotin diketahui tak hanya dapat membuat orang kecanduan, tapi juga bisa membahayakan tubuh. Hal yang sama juga berlaku pada kandungan TAR dalam rokok. TAR merupakan zat kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran pada tembakau yang terdapat pada rokok. TAR mengandung senyawa karsinogenik yang dapat memicu terjadinya risiko penyakit kanker serta permasalahan pada paru-paru. Dari 7.000 bahan kimia berbahaya dalam rokok, 2.000 diantaranya adalah TAR. Selain itu, TAR dapat merusak jaringan silia pada paru-paru. Jika jaringan silia rusak, maka TAR dapat bergerak bebas ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah yang ada di seluruh tubuh tanpa tersaring terlebih dahulu. Sedangkan nikotin adalah senyawa kimia organik yang dihasilkan alami oleh berbagai macam tumbuhan dan punya dampak ketergantungan.

Menurut tim peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, Dr drg Amaliya, MsSc, PhD, “TAR yang dihasilkan dari proses pembakaran nyatanya jauh lebih berbahaya, termasuk yang dihasilkan dari pembakaran produk tembakau. Hal ini juga yang menjadi permasalahan yang tak kunjung menemukan solusi di Indonesia.” TAR memang lebih berbahaya dibandingkan dengan nikotin karena dapat memicu terjadinya penyakit kronis yang membahayakan nyawa seseorang. 

Menurut sebuah studi dari Georgetown University Medical Center Amerika Serikat yang diterbitkan dalam jurnal Tobacco Control mengungkapkan jika perokok beralih ke produk tembakau alternatif, sebanyak 6,6 juta orang di Amerika Serikat berpotensi dapat terhindarkan dari kematian dini. Inilah yang menjadi alasan mengapa produk tembakau alternatif saat ini sedang digalakkan. 

Para konsumen produk tembakau sebenarnya sudah mengenal produk tembakau alternatif sejak tahun 2013 dan kepopulerannya terus bertambah. Beberapa produk tembakau alternatif yang populer digunakan adalah rokok elektrik atau yang biasa disebut dengan nama vape, produk tembakau yang dipanaskan, nikotin tempel, hingga snus. Tak sedikit orang yang beralih dari rokok ke produk tembakau alternatif karena alasan lebih rendah risiko kesehatannya karena penggunaannya tidak dibakar, melainkan dipanaskan sehingga zat yang dihasilkan lebih rendah risikonya. 

Meski sudah menjadi tren, tapi pada kenyataannya produk rokok masih menjadi ketergantungan dari masyarakat Indonesia sehingga sulit untuk ditinggalkan. Tercatat pada tahun 2018 yang silam, pemerintah harus mengeluarkan biaya kesehatan hingga Rp 107 miliar per tahun terkait permasalahan kesehatan dari rokok. Pada tahun 2017 saja, Indonesia berada dalam posisi peringkat kelima negara dengan konsumsi produk tembakau bakar alias rokok terbesar di dunia. 

Produk Tembakau Alternatif Jadi Solusi yang Tepat untuk Beralih dari Rokok

YPKP Indonesia pada tahun 2018 telah melakukan penelitian terhadap salah satu produk tembakau alternatif yakni rokok elektrik atau vape dan hasilnya ternyata vape punya risiko kesehatan yang jauh lebih rendah dibanding rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar. Pada penelitian tersebut ditemukan kalau hal tersebut bisa terjadi karena dalam konsumsinya, vape menggunakan cara penggunaan yang dipanaskan bukan dibakar sehingga TAR yang merupakan senyawa karsinogenik berbahaya dari hasil pembakaran rokok bisa dieliminasi. 

Ketika dipanaskan, cairan dan uap vape memperlihatkan adanya kandungan UP Propylene Glycol, USP Glycerin Natural/Vegetable, dan perasa pada cairan vape. Oleh karena itu, vape menjadi lebih rendah risikonya dibanding rokok yang dibakar. Tak hanya penelitian dari YPKP saja yang sudah membuktikannya, tapi hasil penelitian dari Public Health England (PHE) yang merupakan sebuah badan kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Inggris Raya pada tahun 2015 telah membuat penelitian yang memberikan hasil kalau rokok elektrik dapat menurunkan risiko kesehatan hingga 95 persen dibanding produk tembakau yang dibakar.
 

Ayo
Share!
facebook
whatsapp