Mantan Direktur WHO: Bukti Ilmiah Belum Jadi Pertimbangan Regulasi Kesehatan
Mantan Direktur WHO: Bukti Ilmiah Belum Jadi Pertimbangan Regulasi Kesehatan

Penggunaan bukti ilmiah, dalam penyusunan kebijakan kesehatan, belum menjadi pertimbangan utama di sebagian besar negara berpendapatan menengah ke bawah (low to middle income). Kajian ilmiah seringkali dikalahkan oleh opini dan nilai-nilai subjektif lainnya.

“Bahkan ideologi mengalahkan fakta, kebenaran, dan bukti ilmiah,” kata Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekaligus akademisi dari National University of Singapore, Tikki Pangestu.

Tikki menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena tiga alasan. Pertama, kurangnya bukti ilmiah yang mendalam dan relevan. Jika pun ada, jumlahnya terbatas, kurang komprehensif, dan tidak sesuai dengan kebutuhan pembuat kebijakan. “Kerap kali bukti ilmiah tidak tersedia di waktu yang tepat,” ujarnya.

Alasan selanjutnya adalah keterbatasan literasi ilmiah di kalangan para pembuat kebijakan. Menurut Tikki, hal tersebut dikarenakan mereka tidak memiliki latar belakang sains. Akibatnya, ada kemungkinan, para pemangku kebijakan meremehkan hasil kajian ilmiah dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan. “Benar kata John Maynard Keynes bahwa hal yang paling tidak disukai politisi ialah terlalu banyak informasi, sehingga pembuatan kebijakan menjadi rumit dan kompleks,” kata Tikki.

Alasan terakhir, Tikki mengatakan tidak semua pembuat kebijakan ingin menghasilkan beleid yang buruk. Bukti ilmiah seharusnya menjadi salah satu sumber yang dipertimbangkan. “Namun, pada kenyataannya, bukti ilmiah harus bersaing dengan tekanan politik, keterbatasan sumber daya, kepercayaan, nilai-nilai masyarakat setempat, media, serta yang terpenting para pendukungnya,” jelasnya.

Lingkungan yang anti-sains, kata Tikki, menyebabkan permasalahan terhadap kesehatan secara global. Dia mencontohkannya dengan permasalahan jumlah perokok yang sudah mencapai satu miliar jiwa, di mana enam hingga tujuh juta orang meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan merokok.

“Sebagai contoh, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 60 juta perokok dan 68 persen diantaranya pria. Hampir 200.000 kematian setiap tahun karena penyakit terkait merokok,” ujarnya.

Untuk mengatasi permasalahan merokok, Tikki mengungkapkan sejumlah bukti ilmiah sudah memaparkan bahwa pendekatan pengurangan risiko (harm reduction) tembakau. Baik melalui penggunaan produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik, memiliki 90-95 persen pengurangan kadar zat kimia berbahaya dan berpotensi berbahaya daripada rokok.

Namun, bukti-bukti ilmiah tersebut diabaikan. Tidak sejalan dengan kajian ilmiah yang sudah ada, kebijakan represif untuk melarang produk tersebut, pemberian denda, bahkan sanksi kurungan terhadap pengguna telah diterapkan atau sedang dipertimbangkan di banyak negara, termasuk Indonesia.

“Padahal, kebijakan represif macam itu, pada dasarnya, akan menyangkal hak perokok atas produk yang lebih rendah risiko bagi kesehatan mereka,” tegas Tikki.

Untuk menghapus lingkungan yang anti-sains, Tikki menyarankan agar meningkatkan literasi ilmiah di antara pembuat kebijakan. Kedua, meningkatkan akuntabilitas proses pengambilan keputusan untuk memastikan bukti yang ada akan diperhitungkan.

Ketiga, memfasilitasi dan melembagakan terjemahan pengetahuan serta komunikasi antara ilmuwan, pembuat kebijakan, konsumen, dan pemangku kepentingan lainnya.

Poin terakhir, bukti ilmiah dan data harus dikombinasikan dengan pendekatan yang lebih humanis agar kebijakan dan praktiknya berjalan efektif.Pada akhirnya, diharapkan bukti dan ilmiah maupun hasil-hasil penelitian yang kredibel dapat menjadi basis dari formulasi regulasi yang ditetapkan di Indonesia.
“Kendati penting membedakan pendapat dan fakta, namun yang lebih penting adalah memastikan fakta dipakai untuk membentuk kebijakan yang memperbaiki, bukan hanya kualitas kesehatan, tetapi juga kesetaraan kesehatan, terutama di negara berkembang. Pada akhirnya, semua ini bermuara pada seberapa besar kita menilai pentingnya sebuah penelitian ilmiah,” tutup Tikki.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp