Soal Regulasi Rokok Elektrik, Mantan Direktur WHO Dorong Musyawarah
Soal Regulasi Rokok Elektrik, Mantan Direktur WHO Dorong Musyawarah

Dialog atau musyawarah diperlukan untuk membahas regulasi rokok elektrik. Hal ini disampaikan oleh Prof. Tikki Pangestu, seorang akademisi dari National University of Singapore yang juga merupakan mantan Direktur Riset Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO). Dirinya menilai ini diperlukan untuk memastikan tidak ada kesalahan langkah dalam regulasi rokok elektrik. Dialog seperti ini diperlukan agar tidak ada kesalahan informasi dan stigma untuk menghambat upaya turunkan jumlah perokok yang saat ini tergolong cukup banyak di dunia, terlebih perokok yang berada di Indonesia.

Menurut Prof. Tikki, terdapat langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam mengurangi jumlah perokok lewat upaya pengurangan dampak buruk (harm reduction). Langkah-langkah tersebut mencakup dialog antar pemangku kepentingan, diadakannya lebih banyak penelitian yang lebih berkualitas dan lebih mengerti faktor kontekstual lokal, dan kolaborasi yang lebih kuat di antara para peneliti dan akademisi dengan komunitas harm reduction di dunia.

"Sejalan dengan hal itu, diperlukan sebuah komunikasi dan advokasi yang lebih efektif tanpa arogansi dari sisi kita, para ilmuwan. Dan yang terpenting adalah dialog," tutur Tikki dalam presentasinya di E-Cigarette Summit 2019 di London baru-baru ini.

Di Indonesia sendiri, pemerintah sempat mengeluarkan wacana untuk melarang peredaran rokok elektrik. Hal ini antara lain dipicu oleh krisis kesehatan yang beberapa waktu lalu melanda Amerika Serikat, di mana secara mengejutkan 2000 orang mengalami sakit atau gangguan dan 40 orang dinyatakan telah meninggal akibat penyakit paru-paru (EVALI).

Padahal, Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) & Food and Drugs Administrator AS (FDA) Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka telah menyelidiki dan menemukan indikasi kuat bahwa kasus-kasus tersebut disebabkan oleh penyalahgunaan zat yang disebut dengan Tetrahydrocannabinol (THC) yang merupakan cairan ekstrak ganja.

Pada beberapa waktu lalu, Paguyuban Asosiasi Vape Nasional yang terdiri dari Asosiasi Vape Indonesia (AVI), Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), dan Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO), pun telah sepakat untuk bergeak bersama menjadi rekan pemerintah dalam membentuk kebijakan terkait hasil pengelolaan tembakau lainnya, termasuk rokok elektrik.

Paguyuban Asosiasi Vape Nasional mengajak pemerintah untuk menerbitkan regulasi yang telah melalui kajian holistik, mempertimbangkan segala sebab dan akibat, serta melibatkan paguyuban dalam prosesnya.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp