Kawasan Tanpa Rokok di Jakarta
Kawasan Tanpa Rokok di Jakarta

Ibu Ayu Rohana dengan waspada memerhatikan empat pekerja bangunan yang sedang membetulkan bagian jalan yang kebetulan roboh beberapa waktu lalu. Dua pekerja memegang rokok yang sedang menyala di antara kedua jarinya. Ibu dari tiga anak berusia 32 tahun itu ingin memastikan bahwa para pekerja tersebut hanya merokok pada bagian jalan sempit yang sedang dibetulkan dan tidak memasuki batas lingkungan perumahan agar peraturan lingkungan yang begitu dibanggakan itu tidak dilanggar.

Pada bulan Maret 2017, Penas Tanggul, sebuah kawasan perumahan miskin di Jakarta Timur menjadi kawasan tanpa rokok pertama di ibu kota. Sebuah pencapaian yang luar biasa di negara dimana harga sebungkus rokok lima kali lebih rendah daripada Singapura. Di luar pencapaian ini, masa depan kawasan tersebut masih suram karena Penas Tanggul pada dasarnya adalah kawasan pemukiman ilegal.

Pengingat bahwa area tersebut bebas rokok dapat ditemukan di berbagai sudut, terpampang besar di gerbang masuk kawasan di samping sungai, di stiker-stiker yang terpasang di rumah warga, maupun pada mural berwarna-warni yang menghiasi WC umum dan dinding pembatas pemukiman.

“Kami menyadari bahwa banyak perempuan dan anak-anak menderita gangguan pernapasan yang disebabkan karena banyak pria yang merokok,” jelas Ibu Ayu pada Channel News Asia (CNA) ketika ditanya mengenai keputusan warga untuk menjadi kawasan bebas rokok. “Dulu kebanyakan orang merokok di dalam rumah dan di sepanjang gang dengan lebar 1,5 m yang menjadi tempat anak-anak bermain dan ibu hamil melintas.”

“Sekarang, setelah kami memiliki komitmen bersama, setiap warga mengawasi warga lainnya untuk memastikan agar semua orang menjaga kesepakatan tersebut,” lanjutnya sambil menambahkan bahwa mereka yang melanggar akan terkena denda ringan dengan jumlah setara sebungkus rokok.

 

Resistensi Awal

Meyakinkan banyak orang untuk tidak merokok di kawasan pemukiman yang dihuni 120 keluarga tersebut bukan merupakan hal mudah menurut Bapak Joko Sundoko, salah seorang warga lainnya. “Banyak terjadi penolakan, terutama dari perokok berat. Tetapi kami berhasil meyakinkan bahwa setidaknya mereka harus menghentikan kebiasaan merokok di dalam rumah dimana ada istri dan anak-anak mereka.”

“Pelan-pelan, kami setuju jika ada yang ingin merokok kita harus melakukannya di kawasan khusus merokok yang kami buat tepat di samping luar kawasan pemukiman,” tambahnya.

Pak Sundoko mengatakan bahwa lama-kelamaaan, semakin banyak warga di kawasan Penas Tanggul yang akhirnya berhenti merokok, termasuk dirinya. “Saya mulai merokok ketika saya berusia 12 tahun karena orang-orang di sekitar saya adalah perokok. Saya pikir hal yang paling menguntungkan dari inisiatif ini adalah melihat anak-anak dan remaja tidak mengikuti kebiasaan merokok,” tuturnya.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp