Polusi Udara: Ancaman Global Masa Kini
Polusi Udara: Ancaman Global Masa Kini

Belakangan ini, kita semakin sering mendengar peringatan dan diskusi mengenai perubahan iklim dan sisa waktu yang kian menipis untuk memperbaiki kerusakan yang telah diciptakan oleh manusia. Seperti yang telah kita ketahui, pembakaran bahan bakar fosil dan penggunaan gas alam yang terus meningkat adalah salah satu kontributor utama terhadap situasi gawat ini. Namun, ternyata ada ancaman global lain yang muncul dari penggunaan bahan bakar fosil dan gas alam, yaitu pencemaran udara dan tingkat polusi udara yang semakin meningkat, sehingga kualitas udara yang kita hirup sehari-hari menjadi semakin buruk.

Pada tahun ini, Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah memasukkan polusi udara ke dalam daftar tantangan kesehatan global. Ini artinya, penanganan polusi udara harusnya menjadi prioritas bagi setiap negara. Keputusan ini diambil oleh WHO karena mereka menemukan bahwa setiap harinya, sembilan dari sepuluh penduduk bumi menghirup udara yang tercemar. Peningkatan polusi udara terutama terjadi selama tiga tahun terakhir, dengan tingkat polusi udara yang meningkat hampir dua kali lipat. Hasilnya, 97 persen kota di negara-negara berpenghasilan rendah memiliki kualitas udara yang buruk dan tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO. Maka, sudah sepantasnya polusi udara dilihat sebagai sebuah ancaman global.

Direktur Umum WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa polusi udara adalah “the new tobacco” atau tembakau jenis baru karena memiliki risiko kesehatan yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari merokok. Polutan mikroskopis yang menyebar di udara akibat polusi dan pencemaran dapat menembus sistem pernapasan dan peredaran darah sehingga polusi udara dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru, jantung, dan otak. Penurunan kualitas udara juga berbanding terbalik dengan peningkatan risiko stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan kronik dan akut seperti asma. Sejauh ini, WHO mencatat bahwa setiap tahunnya 4,2 juta orang meninggal akibat polusi udara di luar ruangan dan 3,8 juta orang meninggal akibat polusi udara di dalam ruangan. Sebagai perbandingan, diperkirakan bahwa rokok dan tembakau membunuh sekitar 7 juta orang setiap tahunnya.

Untuk mencegah peningkatan polusi udara hingga titik yang tidak dapat diperbaiki lagi, WHO mengadakan Konferensi Global tentang Polusi Udara dan Kesehatan pertama di Jenewa, Swiss pada bulan Oktober 2018 lalu. Konferensi tersebut menghasilkan 70 komitmen untuk meningkatkan kualitas udara. Namun, akan lebih baik jika kita juga mulai berkontribusi untuk meningkatkan kualitas udara di sekitar kita. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan gas alam, serta mengurangi kegiatan merokok untuk meminimalisir polusi udara yang diakibatkan asap rokok.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp