Produk Tembakau yang Dipanaskan vs Rokok Elektrik: Mana yang lebih Efektif untuk Berhenti Merokok?
Produk Tembakau yang Dipanaskan vs Rokok Elektrik: Mana yang lebih Efektif untuk Berhenti Merokok?

Dengan risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok konvensional, produk tembakau alternatif mulai dipandang sebagai opsi untuk mengatasi masalah rokok di berbagai belahan dunia. Itu sebabnya, produk tembakau alternatif menjadi bagian dari strategi tobacco harm reduction atau pengurangan risiko tembakau yang merupakan sebuah strategi kesehatan publik untuk mengurangi risiko kesehatan yang berhubungan dengan adiksi nikotin. Nikotin sendiri, walaupun menimbulkan adiksi, sesungguhnya tidak memberikan risiko kesehatan yang tinggi bagi kesehatan.

Pendekatan pengurangan risiko tembakau ini pun berfokus pada langkah-langkah yang memungkinkan perokok untuk tetap mendapatkan asupan nikotin tanpa terpapar zat-zat berbahaya dalam rokok. Salah satunya dengan beralih ke produk tembakau alternatif. Diharapkan bahwa peralihan ini akan membantu perokok untuk berhenti menggunakan rokok konvensional, dan kemudian akhirnya dapat berhenti mengonsumsi segala jenis tembakau secara total.

Di Indonesia sendiri, produk tembakau alternatif dipandang sebagai cara untuk menghentikan kebiasaan merokok secara bertahap. Dua produk tembakau alternatif yang cukup umum digunakan untuk hal tersebut adalah rokok elektrik atau vape dan produk tembakau yang dipanaskan. Namun di antara keduanya, manakah yang sebenarnya lebih efektif?

Sebuah penelitian pada Global Nicotine Forum (GFN) 2019 membandingkan efektivitas kedua produk tembakau alternatif ini untuk membantu perokok aktif berhenti. Penelitian tersebut melibatkan 30 perokok aktif yang telah merokok selama empat tahun atau lebih, merokok sekitar 13 batang setiap harinya, dan tidak memiliki keinginan untuk berhenti dalam beberapa bulan ke depan. Menurut penelitian tersebut, menggunakan produk tembakau dipanaskan menurunkan craving atau keinginan merokok sebesar 28% sementara rokok elektrik atau vape menurunkan keinginan merokok sebesar 26%.

Penelitian tersebut mencatat bahwa withdrawal symptoms atau gejala putus zat nikotin tingkat menengah tetap muncul saat perokok aktif beralih sepenuhnya ke produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik atau vape. Namun, gejala-gejala ini berkurang drastis secara langsung setelah penggunaan produk tembakau yang dipanaskan, dan berkurang setelah beberapa saat setelah penggunaan rokok elektrik atau vape. Saat dibandingkan dari sisi pengguna, para perokok aktif menilai produk tembakau yang dipanaskan merupakan opsi pengganti rokok konvensional yang lebih menarik daripada rokok elektrik atau vape.

Maka, penelitian ini menyimpulkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan lebih efektif daripada rokok elektrik atau vape dalam membantu perokok aktif mengontrol craving serta withdrawal symptoms mereka. Walaupun keduanya sama-sama dapat menjadi pilihan untuk menghentikan kebiasaan merokok, penggunaannya tetap harus dilakukan secara terkontrol agar tidak hanya menjadi pengganti rokok, namun langkah awal dari berhenti merokok secara total.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp