Kenali Bahaya Rokok Elektrik!
Kenali Bahaya Rokok Elektrik!

Rokok elektrik atau vape adalah satu dari empat tipe produk tembakau alternatif yang kini beredar luas di Indonesia. Seperti produk-produk tembakau alternatif lainnya, rokok elektrik memungkinkan penggunanya untuk mengonsumsi nikotin dengan cara memanaskan tembakau. Proses ini lah yang membedakan rokok elektrik atau vape dan produk tembakau alternatif lainnya dari rokok konvensional. Saat tembakau dipanaskan dan tidak dibakar, tidak tercipta senyawa TAR yang merupakan residu dari pembakaran tembakau. Mengingat TAR adalah senyawa karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker, ketiadaannya dalam produk tembakau alternatif membuat produk tersebut dinilai lebih tidak berisiko dibandingkan dengan rokok. Namun, itu tidak berarti produk tembakau alternatif sepenuhnya bebas dari risiko kesehatan. Hal ini juga berlaku bagi rokok elektrik atau vape.

Saat memakai rokok elektrik atau vape, pengguna menghirup uap hasil pemanasan e-liquid ke dalam paru-parunya. Proses ini dapat menciptakan berbagai efek samping, baik yang langsung maupun tidak langsung. Efek samping tersebut meliputi batuk, mulut dan tenggorokan yang terasa kering, merasa sesak atau kehabisan nafas, iritasi mulut dan tenggorokan, serta sakit kepala. Selain itu, rokok elektrik tetap mengandung nikotin. Meskipun sebenarnya tidak berbahaya bagi kesehatan, nikotin adalah zat adiktif. Mengonsumsi rokok elektrik atau vape membuat Anda berisiko mengalami adiksi nikotin. Walaupun demikian, rokok elektrik atau vape tidak mengandung sejumlah besar zat-zat berbahaya yang terdapat di dalam rokok konvensional.

Lebih jauh lagi, uap yang dihasilkan oleh rokok elektrik atau vape ternyata tidak hanya mengandung nikotin. Uap tersebut juga mengandung ultrafine particles atau partikel super halus yang dapat ikut terhirup ke dalam paru-paru. Partikel-partikel mengandung senyawa bensol yang biasanya ditemukan di knalpot kendaraan, serta logam berat seperti nikel dan timah. Tak hanya itu, setiap e-liquid mengandung perasa untuk memberikan rasa buah, makanan, atau varian-varian lainnya. Perasa yang digunakan oleh e-liquid ini berbeda-beda tergantung mereknya. Bukan tidak mungkin ada e-liquid yang mengandung diacetyl sebagai perasa. Padahal, diacetyl memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan penyakit paru-paru kronis. Hal ini menunjukkan pentingnya peran regulasi agar kontrol terhadap bahan-bahan yang digunakan dalam produksi e-liquid dapat dilakukan. Perlu diingat pula, walaupun terdapat beberapa kadar kandungan senyawa berbahaya di dalam uap rokok elektrik atau vape, semua kandungan tersebut dalam kadar yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rokok konvensional.

Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah kehadiran rokok elektrik atau vape yang masih terhitung baru. Implikasinya, risiko jangka panjang dari penggunaannya masih perlu diteliti melalui pembuktian ilmiah lebih lanjut. Penelitian-penelitian yang berhubungan dengan risiko jangka panjang dari penggunaan rokok elektrik dan produk tembakau alternatif masih terus berjalan, namun akan butuh waktu yang cukup lama hingga kita bisa mengetahui dengan pasti apa saja risiko jangka panjang dari penggunaan rokok elektrik maupun produk tembakau alternatif lainnya. Maka, ada baiknya jika kita tetap berhati-hati dan berusaha untuk sebisa mungkin menghindarkan kita dan orang tersayang dari konsumsi serta efek negatif produk-produk tembakau. Baik yang konvensional seperti rokok, maupun yang alternatif seperti rokok elektrik atau vape.

Hal yang paling penting adalah walaupun tidak sepenuhnya bebas risiko, rokok elektrik atau vape tetap memiliki potensi besar dalam mengurangi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok konvensional. Beralih ke produk tembakau alternatif merupakan solusi alternatif bagi perokok yang kesulitan untuk berhenti bila dibandingkan dengan terus merokok.

Sumber:
Hello Sehat, 18 Januari 2019, Rokok Elektrik vs Rokok Tembakau, Mana Lebih Aman?
Vaping Facts, Kementerian Kesehatan Selandia Baru, 2018

Ayo
Share!
facebook
whatsapp