Merokok dan Menggunakan Rokok Elektrik, Apa Bedanya?
Merokok dan Menggunakan Rokok Elektrik, Apa Bedanya?

Sejak tahun 2014, rokok elektrik dan vape mulai masuk di Indonesia meskipun pada saat itu masih dipandang buruk dan dianggap sama-sama memiliki dampak kesehatan berbahaya seperti rokok. Namun, semakin banyak penelitian-penelitian ilmiah terkini yang menunjukkan bahwa risiko kesehatan yang dihasilkan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik dan vape, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rokok. Bukti-bukti ilmiah ini sedikit demi sedikit merubah pandangan publik tentang rokok elektrik dan vape. Saat ini, konsumsi rokok elektrik dan vape semakin meningkat, kini telah ada sekitar 3 juta pengguna vape di Indonesia.

Tapi, apa sebenarnya yang membedakan antara rokok elektrik dan vape dengan rokok? Apa yang membuat rokok elektrik dan vape lebih rendah risiko kesehatannya bila dibandingkan dengan rokok? Serta apa yang menjadikan rokok elektrik dan vape merupakan solusi alternatif bagi perokok yang mengalami kesulitan untuk berhenti?

1) Dipanaskan, bukan dibakar

Rokok elektrik dan vape, seperti rokok, memungkinkan penggunanya untuk mengonsumsi nikotin. Bedanya, nikotin pada rokok elektrik dan vape terkandung dalam e-liquid. Uap yang dihasilkan dari memanaskan e-liquid dengan kandungan nikotin tersebut kemudian dihirup pengguna dan memberikan asupan nikotin. Sementara, nikotin yang terkandung di dalam rokok dikonsumsi melalui asap yang dihasilkan dari proses pembakaran.

2) Risiko kesehatan lebih rendah

Saat tembakau di dalam rokok dibakar, maka tercipta kumpulan senyawa kimia yang disebut TAR yang merupakan karsinogen atau senyawa penyebab kanker. Pada rokok elektrik atu vape, e-liquid hanya dipanaskan sehingga tidak menghasilkan TAR. Hal ini lah yang menyebabkan rokok elektrik dan vape memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok. Namun, perlu diingat bahwa rokok elektrik dan vape tetap tidak 100% bebas risiko kesehatan dan masih dapat memiliki efek samping seperti menyebabkan batuk, tenggorokan kering, sesak nafas, dan iritasi mulut.

3) Sensasi seperti merokok

Meskipun tak sepenuhnya sama, banyak pengguna yang merasa vaping menawarkan sensasi yang mirip dengan merokok. Saat vaping, penggunanya melakukan gestur tangan dan mulut yang serupa dengan apa yang mereka lakukan saat merokok. Selain itu, vaping juga memberikan rasa dan sensasi tenggorokan yang mirip dengan merokok. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor ini lah yang membuat rokok elektrik dan vape merupakan alat bantu berhenti merokok yang paling efektif bila dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin lainnya.

Seperti pembahasan pada artikel sebelumnya, nikotin adalah zat bersifat adiktif yang membuat perokok kecanduan dan kesulitan untuk menghentikan kebiasannya. Penggunaan alat bantu yang dapat memberikan asupan nikotin merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan ketika berusaha berhenti merokok. Penggunaan rokok elektrik dan vape dianggap lebih efektif dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin lainnya atau langung berhenti total karena bukan saja perokok masih mendapatkan asupan nikotin tetapi juga dapat melakukan aktivitas yang mirip dengan merokok.

Vaping juga memiliki keunggulan karena pengguna dapat mengatur kadar nikotin di dalam e-liquid, dan perlahan-lahan dapat mengurangi frekuensi dan kadar nikotin sampai akhirnya dapat berhenti total. Walaupun dianggap efektif, perlu diingat bahwa vaping pun masih memiliki risiko kesehatan jangka panjang yang belum diketahui secara pasti, sehingga sebaiknya digunakan sebagai cara untuk berhenti merokok dan bukan pengganti rokok. Seperti dikutip dari situs kesehatan Selandia Baru, Don’t vape if you don’t smoke. Only vape to quit smoking.”

Sumber:
Cochrane Report 2016, Electronic Cigarettes for Smoking Cessation
Vaping Facts: Vaping vs Smoking
, Kementerian Kesehatan Selandia Baru, 2018

Ayo
Share!
facebook
whatsapp