Sudahkah Anda Mengenal PM 2,5?
Sudahkah Anda Mengenal PM 2,5?

Tanpa kita sadari, setiap harinya kita berinteraksi dan bahkan menghirup kumpulan partikel berbahaya dalam polusi udara yang dapat membunuh dalam senyap. Partikel tak kasat mata tersebut bernama Particular Matter 2,5 atau PM 2,5, partikel-partikel dalam polusi udara yang ukurannya hanya mencapai 2,5 mikrometer atau sekitar 3 persen dari diameter rambut manusia. Tapi, apa sebenarnya PM 2,5 itu?

Menurut catatan Departemen Kesehatan New York, PM 2,5 adalah kumpulan partikel polutan-polutan berbahaya yang berasal dari polusi asap mobil, truk, bus, dan kendaraan bermotor lainnya, polusi hasil pembakaran kayu, minyak, dan batu bara, polusi karena kebakaran hutan dan padang rumput, polusi dari cerobong asap pabrik, serta asap rokok, asap memasak (baik dari kegiatan menggoreng atau membakar), asap perapian, asap obat nyamuk bakar, dan asap akibat pembakaran lilin atau minyak lampu. Tanpa kita sadari, PM 2,5 di dalam polusi udara merupakan ancaman serius bagi kesehatan.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia pada bulan Februari dan Maret lalu, konsentrasi PM 2,5 di Jabodetabek sangatlah mengkhawatirkan. Terutama di daerah Cibubur (103,3 mg/m3) dan Gandul, Depok (71,5 mg/m3). Sejauh ini, hanya tiga titik yang terhitung memenuhi standar minimum Baku Mutu Udara Ambien Nasional sebesar 65 mg/m3. Ketiga daerah tersebut adalah Permata Hijau (58 mg/m3), Setiabudi (60 mg/m3), dan Utan Kayu (65 mg/m3).

Masalahnya, PM 2,5 di dalam polusi udara ini sesungguhnya sangat berbahaya bagi manusia. Begitu polutan-polutan berukuran halus ini masuk ke dalam sistem pernafasan manusia, ia akan menumpuk di paru-paru dan organ lain sehingga menyebabkan asma, infeksi saluran pernafasan, penyakit paru kronis, kanker, stroke, dan bahkan penyakit jantung. PM 2,5 juga dapat mengendap pada saluran pernafasan daerah bronki dan alveolio, sehingga memperparah penyakit pernafasan yang sudah diderita sebelumnya. Bahkan di beberapa kasus, PM 2,5 dapat memperparah kondisi penyakit yang telah diderita hingga memicu kematian dini. Di Indonesia sendiri, Greenpeace memperkirakan peningkatan risiko kematian karena stroke hingga 2,5 kali lipat di daerah Cibubur dan sekitar dua kali lipat di daerah Tambun, Setiabudi, Citayam, Ciledug, Kebagusan, Depok, Cikunir, Jatibening, dan Warung Buncit.

Menurut Bondan Andriyanu selaku Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, idealnya pemerintah perlu merancang dan menerapkan strategi untuk mengeliminasi sumber polusi udara dan PM 2,5. Namun, hingga saat itu tiba, ia menghimbau masyarakat untuk lebih rajin memakai masker sebagai solusi sementara yang lebih murah dan mudah diakses. Akan lebih baik lagi jika masker yang dipakai adalah masker N95 yang berwarna putih dan memiliki penyaring di bagian depan sehingga lebih efektif menyaring PM 2,5.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp