Metode Pengurangan Bahaya Tembakau Dapat Membantu Menghentikan Epidemi Merokok di Asia

Manila, Filipina, 15 November 2018 – Lebih dari setengah perokok di dunia ada di Asia, sehingga tidak dapat dipungkiri jika merokok merupakan isu utama dalam masalah kesehatan publik di kawasan tersebut, meski sudah ada larangan pemerintah yang ketat, pengenaan pajak yang tinggi, dan beragam kampanye yang ditujukan untuk memicu kesadaran masyarakat atas bahaya rokok. Oleh karena itu, pembuat kebijakan di setiap kawasan tersebut sudah seharusnya mempertimbangkan pengadopsian pendekatan pengurangan bahaya tembakau dan menyediakan askes serta informasi yang akurat mengenai produk tembakau alternatif seperti rokok eletrik, produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, dan snus.

Hal tersebut merupakan pembahasan utama pada Asia Harm Reduction Forum (AHRF) ke-2 yang diadakan hari ini di Hotel Dusit Thani Manila, Makati, Filipina. Forum ini mengumpulkan para pakar ternama dari bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kesehatan, kebijakan, dan advokasi konsumen dari seluruh Asia dan Pasifik. Diselenggarakan oleh Harm Reduction Alliance of the Philippines (HARAP) dan Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Indoensia (YPKP), forum dengan skala regional ini kembali digelar menyusul kesuksesan AHRF ke-1 yang dilaksanakan di Jakarta, Indonesia, tahun lalu.

Forum ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pengurangan bahaya melalui produk alternatif yang lebih baik dan mempromosikan serta mengadvokasi solusi praktis yang dapat berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, tujuan utama dari forum ini adalah untuk mengintegrasikan pengurangan bahaya sebagai strategi yang digunakan oleh legislator dan masyarakat untuk memastikan peningkatan kesehatan dan lingkungan yang lebih baik.

Anggota Kongres Anthony Bravo (Coop-NATTCO Party-list) yang juga merupakan advokat dalam hal pengurangan bahaya tembakau di Filipina, menyampaikan pidato utama ketika forum berlangsung.

Di sesi pagi, panelis dari Indonesia, Singapura, Filipina, India, dan Swedia fokus mengidentifikasi cara untuk mengatur produk alternatif guna mendukung pengurangan bahaya tembakau. “Banyak negara di Asia yang masih skeptis tentang pengurangan bahaya tembakau, dan beberapa negara bahkan melarang produk nikotin alternatif. Para pembuat kebijakan perlu memahami bahwa pengurangan bahaya tembakau memiliki potensi sebagai solusi yang paling efektif dalam mengatasi epidemi merokok di Asia, dan dapat melengkapi upaya pengendalian tembakau yang sudah berlaku,” ujar Prof. Ron Christian Sison, Ketua HARAP.

Selain dari sudut pandang pembuat kebijakan, AHRF 2018 juga membahas tentang perkembangan ilmiah terbaru pada pengurangan bahaya tembakau dari sisi praktisi kesehatan dan akademisi terkemuka. Saat ini, terdapat semakin banyak bukti yang mendukung pengurangan bahaya tembakau sebagai manfaat bagi kesehatan masyarakat, khususnya dalam pengembangan sistem untuk mengonsumsi nikotin dengan bahaya yang lebih rendah. Public Health England dari Inggris dan Food and Drug Administration dari Amerika Serikat merupakan otoritas yang mengadopsi pengurangan bahaya tembakau untuk merumuskan kebijakan pengendalian tembakau mereka.

Forum ini juga menghadirkan para pembicara internasional kelas dunia, yaitu Prof. Tikki Pangestu dari Singapura yang membahas bukti yang menginformasikan tentang kebijakan kesehatan masyarakat untuk pengurangan bahaya; Dr. Marewa Glover, berbagi informasi tentang pendekatan Selandia Baru dalam pengurangan bahaya tembakau; Dr. Hiroya Kumamaru, berbicara mengenai produk tembakau alternatif di Jepang dan dampak positif yang dihasilkan untuk mempercepat penurunan tingkat merokok di negara tersebut; Dr. Kgosi Letlape berbagi tentang pengalaman pengurangan bahaya tembakau di Afrika Selatan yang bisa dipelajari oleh negara-negara Asia, dan Prof. Helen Redmon, Profesor dari New York University - Silver School of Social Work yang membahas tentang vaping dan populasi yang rentan.

Mengingat saat ini Asia memiliki jumlah perokok terbanyak di dunia, Sison meyakini bahwa manfaat bagi kesehatan publik dari pengurangan bahaya tembakau di kawasan tersebut akan sangat besar. “Asia Harm Reduction Forum menyediakan wadah bagi para ilmuwan, praktisi kesehatan, akademisi, pengamat kebijakan, serta konsumen untuk bertukar ide tentang cara terbaik untuk memajukan pengurangan bahaya tembakau di Asia. Kami percaya forum ini akan memberikan manfaat yang besar bagi sektor kesehatan publik dan khususnya perokok di Asia yang berhak mendapatkan akses lebih baik ke produk tembakau alternatif,” kata Sison.

"Untuk beberapa perokok di Indonesia, pendekatan 'berhenti atau mati' tidaklah berhasil. Karena itu, sekarang waktunya untuk mempertimbangkan pendekatan 'berhenti atau mencoba', yaitu mencoba produk nikotin alternatif," jelas salah satu pendiri YPKP, Dr. drg. Amaliya.

Dr. drg. Amaliya mencatat bahwa prevalensi merokok yang menurun drastis di beberapa negara seperti Inggris dan Jepang dapat terjadi ketika produk tembakau alternatif tersedia secara luas. Hari ini berkat inovasi dan pengembangan teknologi, produk tembakau alternatif tersedia untuk memberikan pilihan yang memuaskan dan lebih rendah risiko bagi perokok tanpa bahaya TAR. "Kita perlu secara aktif menginformasikan pada pembuat kebijakan mengenai pengurangan bahaya tembakau dan manfaat potensial dari produk tembakau alternatif demi kesehatan publik," ujar Dr. drg. Amaliya.

Latar Belakang

  • Lebih dari setengah perokok di dunia ada di Asia.
  • Di tahun 2005, sebanyak 49% pria dan 14% wanita di Jepang merokok. Dalam 10 tahun, tingkat merokok di negara tersebut menurun hingga 18,2% dari total populasi, berdasarkan State of Smoking Survey 2018. Survei global menunjukkan penurunan jumlah perokok di Jepang telah mengalami percepatan dalam beberapa tahun dengan masuknya produk tembakau lternatif dalam hal ini produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar di pasaran.
  • Global Adult Tobacco Survey 2015 menunjukkan bahwa hampir satu dari empat (atau sebanyak 23,8%) orang dewasa di Filipina adalah perokok. Jumlah perokok dari kalangan wanita Filipina sebesar 5,8% dan termasuk yang tertinggi di ASEAN.  Rata-rata, perokok di wilayah tersebut merokok sebelum berusia 20 tahun. Rata-rata usia inisiasi merokok di kalangan perokok harian Filipina adalah 17,8 tahun. Indonesia saat ini memiliki tingkat merokok tertinggi di dunia yakni 76,2%, di antaranya laki-laki berusia 15 tahun ke atas.
  • Menurut UK Tobacco Control Plan, sekitar 3,2 juta orang di Inggris saat ini mengonsumsi produk tembakau alternatif dalam hal ini rokok elektrik atau vape, dengan estimasi 40% dari mereka menggunakan rokok elektrik sebagai alat untuk berhenti merokok dan setiap tahunnya sebanyak 10 ribu di antaranya sukses berhenti merokok. 

Ayo
Share!
facebook
whatsapp