Apakah Pelarangan Terhadap Alternatif Produk Rokok Dianggap Ketinggalan Zaman?
Apakah Pelarangan Terhadap Alternatif Produk Rokok Dianggap Ketinggalan Zaman?

Jakarta - Pada tahun 2016, Jepang mengalami penurunan tingkat merokok terendah hingga mencapai 19,3 persen. Kesuksesan penurunan tersebut, salah satunya dikarenakan tren merokok di Jepang sudah dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Selama 19 tahun berturut-turut, tingkat merokok di negara tersebut selalu mengalami penurunan lebih dari satu persen setiap tahunnya.

Sebaliknya, di Singapura, sebagai negara yang memberlakukan pelarangan merokok di tempat tertentu, berdasarkan dua survei kesehatan nasional pada tahun 2010 dan 2013, penurunan tingkat merokok di negara tersebut hanya mengalami sedikit penurunan yaitu dari 14,3 persen menjadi 13,3 persen dalam periode tiga tahun.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak semua cara menurunkan tingkat merokok dianggap efektif. Jika suatu negara sudah menerapkan berbagai kebijakan, seperti menaikkan cukai rokok, menerapkan kawasan tanpa rokok, hingga meningkatkan kesadaran mengenai bahaya merokok dan masih tidak berhasil menurunkan tingkat merokok secara signifikan, maka upaya lain seperti mengizinkan keberadaan produk tembakau alternatif perlu dipertimbangkan.

Memilih Produk Berisiko Lebih Rendah Daripada Berhenti Merokok

Forum Nikotin Global 2017 (Global Forum on Nicotine / GFN) di Warsawa, Polandia yang dilaksanakan bulan Juni lalu, telah dihadiri oleh 50 pembicara dari lebih 50 negara. Forum tersebut membahas mengenai fenomena sosial terkait merokok yang terjadi di seluruh dunia.

Menyadari bahwa kebanyakan perokok kecanduan nikotin dan tidak berniat untuk berhenti merokok, maka para ilmuwan, akademisi, petugas kesehatan, advokat konsumen, bahkan perusahaan tembakau terkemuka di dalam forum tersebut menawarkan alternatif terbaik bagi perokok yaitu produk alternatif rokok yang memiliki risiko kesehatan lebih rendah.

“Kami memiliki produk tembakau alternatif yang dapat mengurangi dampak kesehatan. Namun, jika alternatif tersebut dilarang, maka para perokok dapat berubah menjadi penjahat,” ujar Associate Professor Colin Mendelsohn, Universitas New South Wales (Australia), dilansir dari Popspoken.com.

Bagi perusahaan tembakau dan pemangku kepentingan industri, membangun masa depan “bebas asap” memiliki makna yang berbeda. Jika di Singapura, masa depan “bebas asap” diartikan sebagai masa depan tanpa adanya rokok sama sekali dengan menerapkan berbagai aturan pelarangan merokok, maka upaya tersebut dirasa tidak efektif untuk menurunkan tingkat merokok. Dengan kata lain, apabila konsep masa depan “bebas asap” hanya dibatasi oleh pelarangan total untuk merokok dan/atau menghentikan kebiasaan merokok seseorang, secara historis cara tersebut tidak pernah berhasil dilakukan.

Masa depan “bebas rokok” seharusnya bertujuan untuk memberikan alternatif kepada perokok untuk menurunkan risiko kesehatan mereka, khususnya bagi perokok yang tidak memiliki niat untuk berhenti merokok atau tidak ingin berhenti merokok dalam waktu dekat.

Pengurangan dampak buruk tembakau dapat mendorong perokok aktif untuk beralih ke alternatif sumber nikotin lain yang memiliki risiko lebih rendah. Beberapa alternatif produk rokok yang ditawarkan adalah produk pemanas tembakau (tobacco heating products / THP), vape dan/atau rokok elektrik tanpa tembakau (vaping products / VP), dan produk daya rendah-racun, seperti snus.

Vape seringkali dianggap sebagai produk alternatif rokok yang paling sehat karena produk tersebut tidak menggunakan tembakau sama sekalli, namun hanya menghantarkan nikotin melalui uap.

Di sisi lain, THP dianggap sebagai produk alternatif rokok yang paling mudah untuk diadaptasi oleh kelompok tertentu yang menyukai ritual merokok. Produk THP tidak melakukan proses pembakaran, melainkan proses pemanasan tembakau pada suhu sekitar 300 derajat. Proses pemanasan tersebut tidak menimbulkan zat berbahaya seperti TAR, yang pada akhirnya dapat mengurangi risiko kesehatan.

“Sekarang yang terjadi adalah komunitas melawan teknologi. Bagi mereka yang menolak metode alternatif ini, kami merasa khawatir karena tidak ada ruang di paradigma mereka mengenai cara lain untuk mengurangi risiko kesehatan dari merokok. Padahal, seharusnya alternatif ini dapat meningkatkan angka kesehatan masyarakat,” jelas seorang pembicara di GFN.

Para pembicara di GFN menyarankan bahwa untuk mempersiapkan masa depan “bebas rokok”, produk alternatif rokok yang memiliki risiko harus dipertimbangkan. Kebijakan yang diregulasi oleh suatu negara mengenai produk alternatif rokok juga harus berdasarkan bukti ilmiah yang akurat, bukan hanya karena ketakutan yang berlebihan dan persepi yang salah.

Ayo
Share!
facebook
whatsapp