Tembakau Alternatif Dipercaya Bisa Menekan Jumlah Perokok
Tembakau Alternatif Dipercaya Bisa Menekan Jumlah Perokok

Untuk menghentikan kebiasaan merokok memang diperlukan tekad yang kuat dan dukungan dari lingkungan sekitar perokok. Sebab, meski sudah mengetahui bahaya rokok, berhenti bukanlah perkara mudah karena melibatkan sisi psikis.

Pembina Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) yang juga anggota Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Dimasz Jeremia mengatakan sebenarnya para perokok baik aktif maupun adiktif kini semakin menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh rokok.

“Sebenarnya banyak sekali yang ingin berhenti (merokok), tetapi untuk jadi berhenti total itu susahnya bukan main," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (9/4).

Menurutnya, permasalahan utama dari adiktif terhadap rokok tidak hanya secara physical addiction, tetapi juga psychological addiction. Ketika dia memutuskan untuk berhenti merokok misalnya, ini mungkin bisa dipaksa dengan cara selama dua minggu untuk sama sekali tidak merokok.

"Efeknya apa? Mulut saya terasa ngga enak, asam, dan sebagainya. Itu masih bisa tahan, tetapi secara psychological, tubuh saya ini sudah hapal sensasinya bagaimana ketika saya buka bungkus rokok, mulai pilin tembakaunya, sampai ketika asap itu dihembuskan. Ini yang paling sulit dilepaskan dari perokok aktif," ujar Dimasz.

Dengan pengalamannya menjadi perokok selama belasan tahun, Dimasz memahami untuk dapat sepenuhnya berhenti dibutuhkan waktu yang panjang dan bertahap.

"Harus ada langkah-langkahnya supaya kita bisa mencapai apa yang diinginkan dan menurut saya produk tembakau alternatif ini adalah salah satu langkah untuk mencapai tujuan kita berhenti menggunakan produk tembakau yang dikonsumsi dengan cara dibakar,” jelas Dimasz.

Sayangnya menurut Dimasz, di Indonesia selama ini perokok hanya diberikan dua pilihan, yakni berhenti merokok atau berisiko kanker. Pilihan ini terasa sangat berat bagi mereka yang sebenarnya ingin berhenti merokok tetapi belum siap sepenuhnya.

“Di saat beberapa negara mengakomodir para perokok adiktif di negaranya untuk berhenti secara bertahap melalui pilihan mereka untuk beralih ke produk tembakau alternatif, kita (Indonesia) justru memperlakukan perokok adiktif yang ingin berhenti dengan hanya dua pilihan yaitu berhenti merokok atau berisiko kanker. Padahal ada langkah lain yang dapat membantu mengurangi jumlah perokok dan rendah risiko yaitu melalui ANDS,” jelas Dimasz.

ANDS yang dimaksud Dimasz adalah Alternative Nicotine Delivery System atau Sistem Pengiriman Nikotin Alternatif. Sebuah pendekatan dalam pengendalian produk tembakau yang diteliti oleh David B. Abrams, yang terangkum dalam makalah berjudul Harm Minimization and Tobacco Control: Reframing Societal Views of Nicotine Use to Rapidly to Save Life yang dipublikasikan pada awal 2018 lalu.

Penelitian ini menjelaskan bahwa produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan rokok elektrik dapat digunakan sebagai alternatif dalam menekan jumlah perokok.

hnb

Abrams dan timnya mengungkapkan bahwa jika pengguna produk tembakau dapat beralih dari produk tembakau konvensional untuk mengonsumsi nikotin bersih, dalam hal ini tanpa asap, maka akan banyak kehidupan yang diselamatkan.

“Berbasis pada penelitian ini, pilihan bagi perokok adiktif yang tadinya ada dua saat ini menjadi tiga, yakni berhenti, mengurangi dengan produk tembakau alternatif untuk kemudian secara berangsur-angsur berhenti karena dia mengusung konsep harm reduction, atau berisiko kanker,” papar Dimasz.

Melihat dari banyaknya hasil penelitian yang menunjukan potensi produk tembakau alternatif untuk menurunkan jumlah perokok, Dimazs meminta pemerintah untuk lebih bijak dalam mempelajari potensi dari produk tembakau alternatif, seperti vape.

“Sudah banyak negara-negara yang menunjukkan hasil positif dalam hal ini. Kita pakai vape juga bukan sekadar ikut tren, tapi karena kita sadar betul produk ini lebih rendah risiko yang mana itu bikin hidup kita lebih baik, ngga hanya buat saya tapi juga buat orang-orang di sekitar saya,” tutup Dimasz.

Sumber: JawaPos

Sumber: Jawa Pos
Ayo
Share!
facebook
whatsapp