Bagaimana Negara Maju Menyikapi Produk Tembakau Alternatif?
Bagaimana Negara Maju Menyikapi Produk Tembakau Alternatif?

No-Tar.Org - Upaya pencarian format produk tembakau alternatif untuk menekan risiko kesehatan akibat merokok telah banyak digalangkan oleh negara-negara maju di berbagai belahan dunia. Sejalan dengan penelitian produk tembakau alternatif ini, ragam produk yang mampu menyesuaikan preferensi konsumen dan kesukaan masing-masing pengguna pun bermunculan. Akhirnya para pengguna di masing-masing negara pun punya preferensi yang berbeda-beda dalam menggunakan produk tembakau alternatif dengan cerita unik masing-masing. Yuk kita simak:

Inggris

Dimulai dari Inggris, negara ini adalah salah satu negara yang sudah sejak lama gencar mendorong penggunaan rokok elektronik dalam upaya untuk menekan risiko dampak kesehatan akibat rokok. Berbagai kampanye dan inisiatif pemerintah dalam mendukung penggunaan produk tembakau alternatif telah membawa kecenderungan masyarakat Inggris untuk lebih memilih Vaping sebagai cara mengkonsumsi nikotin.

Pemerintah Inggris melalui Public Health England (PHE) bahkan menyampaikan dukungannya melalui studi terbaru mengenai keamanan tembakau aternatif yang dapat digunakan lebih luas sebagai alat bantu berhenti merokok. Pemerintah Inggris juga berkewajiban untuk membantu produsen mengeluarkan e-cigarette sebagai alat bantu medis. Rumah Sakit juga diwajibkan menjual alat vaping dan mengganti ruang merokok menjadi ruang vaping.

Melalui survei yang telah dilakukan, para ahli di Inggris memperkirakan ada 20.000 perokok yang mengonsumsi e-cigarette berhenti merokok setiap tahunnya. Dan sejalan dengan hal ini, Inggris mengalami kenaikan tajam dari jumlah pengguna e-cigarette yaitu sebanyak kurang dari 3 juta orang di tahun yang sama.

Secara lebih rinci, 2,9 juta orang di Inggris telah menggunakan e-cigarette. Jumlah ini memang masih dibawah pengguna rokok tradisional yang pada tahun 2016 mencapai 7,6 juta orang atau sekitar 16% dari populasi. Tetapi tren penggunaan e-cigarette di kalangan perokok Inggris yang terus meningkat secara progresif mampu menurunkan angka jumlah perokok konvensional

Swedia

Di Swedia beda lagi. Bukan rokok eletrik yang terkenal dan dipilih oleh sebagian masyarakat negara tersebut. Snus, sebuah produk nikotin isap/kunyah menjadi yang paling popular di kalangan perokok Swedia. Produk tembakau alternatif tanpa asap ini, terbukti tidak lebih berbahaya dibandingkan rokok.

Berdasarkan survei terakhir Uni Eropa di 28 negara Eropa, Bulgaria menjadi negara tertinggi tingkat perokoknya yakni mencapai 36 persen, disusul Yunani, dan Perancis masing-masing 35 dan 33 persen. Selanjutnya Spanyol (26 persen) dan Jerman (23 persen). Inggris, Belanda dan Denmark masing-masing 16 persen.  Sementara Swedia menjadi negara di Eropa dengan tingkat merokok paling rendah yaitu hanya 5 persen.

Mengapa orang Swedia berhenti merokok? Karena Swedia menerapkan strategi "pengurangan dampak buruk" atau harm reduction dengan produk nikotin dan tembakau namun tidak meningkatkan risiko kematian. Produk inilah yang disebut Snus yaitu sebuah kantong kecil tembakau basah yang ditempatkan di bawah bibir atas.

Snus sebenarnya berasal dari tradisi orang Skandinavia yang telah mengkonsumsi nikotin melalui tembakau tanpa asap sejak awal abad ke-18. Namun kebiasaan ini berubah saat Perang Dunia II ketika rokok menjadi populer. Puncaknya pada tahun 1980 di Swedia 34 persen populasinya merokok.

Sejak saat itulah mulai digencarkan kampanye tembakau alternatif dan berhasil menurunkan jumlah perokok dari tahun ke tahun. Melalui tradisi yang telah diadopsi menjadi teknik tembakau alternatif untuk berhenti merokok tanpa harus mengatasi kecanduan nikotin, Swedia mampu membuktikan keberhasilannya dalam menurunkan angka peduduknya yang merupakan perokok aktif.

Hal ini juga dibuktikan dengan menurun penjualan rokok konvensional pada 1990-an, sementara penjualan Snus meroket. Sekitar tahun 1996, lebih banyak kaleng Snus dijual daripada bungkus rokok dan saat ini, 15 persen orang Swedia menggunakan Snus.

Jepang

Beda lagi untuk negara Jepang yang menyukai hal berbeda. Bukan Vaping, bukan Snus tetapi alat pemanas tembakau atau yang dikenal sebagai teknologi heat-not-burn (HnB).  Alat ini bahkan telah menjadi gaya hidup bagi orang-orang kalangan jetset dan selebritas yang menjadikan citra HnB semakin tinggi dan semakin disukai dibandingkan rokok konvensional.

Hanya dalam waktu satu tahun, lebih dari tiga juta unit HnB laku di Jepang dan diperkirakan akan merebut 25 persen dari keseluruhan tembakau Jepang pasar pada tahun 2020.

Alternatif Lebih Rendah Risiko

Walaupun dengan keberagaman preferensi pengguna produk tembakau alternatif baik di Inggris, Swedia ataupun Jepang, kesemuanya memiliki kesamaan cerita yaitu kebebasan masyarakat untuk menentukan pilihan dalam mengkonsumsi produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko untuk hidup yang lebih baik.

Sumber :

https://www.chroniclelive.co.uk/news/health/vaping-bad-you-safe-more-14328428

https://www.openpr.com/news/961932/Global-Snus-Market-Proposals-Trends-Leading-to-7-5-CAGR-Growth-during-2017-2022.html

http://www.chicagotribune.com/news/opinion/commentary/ct-perspec-smoking-0616-md-20170612-story.html

https://www.ft.com/content/e42c676c-7774-11e7-90c0-90a9d1bc9691

Gambar utama oleh Vaping360 - E-Cigarette/E-Cigar/E-Cigarillo/E-Black/E-Clove/Electronic Cigarette/E-Cigs/E-Liquid/Vaping, CC BY 2.0, Link

Ayo
Share!
facebook
whatsapp